Sudah Kirim 50 Lamaran dalam 3 Tahun, Sarjana Ini Masih Sulit Dapat Kerja - PotretKita Online

Breaking

Home Top Ad

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Senin, 10 Agustus 2026

Sudah Kirim 50 Lamaran dalam 3 Tahun, Sarjana Ini Masih Sulit Dapat Kerja

 


BANDAR LAMPUNGMencari pekerjaan setelah lulus perguruan tinggi tidak selalu mudah. Hal itu dirasakan Lisya, sarjana Ekonomi dan Bisnis Universitas Islam Negeri Radin Inten Lampung (UIN RIL), yang mengaku telah mengirim lebih dari 50 lamaran pekerjaan selama tiga tahun terakhir.


Meski rutin memantau berbagai situs lowongan kerja, Lisya belum mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan latar belakang pendidikan dan harapannya.


“Saya udah ngirim lamaran lebih dari 50 kali dalam kurun waktu tiga tahun belakangan ini,” kata Lisya.


Ia bahkan mengaku dapat membuka situs informasi lowongan pekerjaan hingga beberapa kali dalam sehari untuk mencari peluang yang sesuai dengan kemampuan dan pendidikan yang dimilikinya.


Buka Situs Lowongan hingga Lima Kali Sehari

Menurut Lisya, salah satu kendala utama dalam mencari pekerjaan adalah terbatasnya lowongan yang sesuai dengan latar belakang pendidikannya.


Untuk meningkatkan peluang mendapatkan pekerjaan, ia terus memantau informasi lowongan melalui berbagai platform daring.


“Kesulitan dalam mencari kerja kurangnya lapangan pekerjaan, padahal udah buka tutup situs online info loker sehari bisa lima kali,” ujarnya.


Namun, ketika menemukan posisi yang dianggap sesuai, persaingan yang ketat kembali menjadi tantangan.


Lisya mengaku pernah merasa kehilangan kesempatan memperoleh pekerjaan yang diincarnya karena menduga adanya faktor koneksi atau “orang dalam” (ordal) dalam proses perekrutan.


“Sekalinya ada yang sesuai kalah sama ordal,” katanya.


Banyak Lowongan Tidak Sesuai Jurusan

Kesulitan lainnya adalah menemukan pekerjaan yang benar-benar sesuai dengan bidang yang dipelajarinya selama kuliah.


Lisya mengatakan, banyak lowongan yang muncul justru menawarkan posisi di luar bidang yang diminatinya. Salah satu posisi yang paling sering ia temukan adalah pekerjaan sebagai tenaga penjualan atau sales.


“Kuliah harapannya bisa kerja sesuai dengan jurusan yang diminati, kenyataannya banyak loker jadi sales,” ujarnya.


Ia sebenarnya pernah mendapatkan pekerjaan dengan gaji yang dinilai sesuai dengan harapannya. Namun, pekerjaan tersebut akhirnya tidak bertahan karena jam kerja tidak sesuai dengan kondisi dan kebutuhannya.


“Sudah pernah bekerja, gaji cocok tapi jam kerja kurang sesuai,” kata Lisya.


TPT Lulusan Diploma dan Universitas Capai 7,92 Persen

Pengalaman Lisya terjadi di tengah kondisi pasar kerja Lampung yang menunjukkan tantangan tersendiri bagi lulusan perguruan tinggi.


Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Lampung, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) lulusan diploma dan universitas mencapai 7,92 persen pada Mei 2026.


Angka tersebut menjadi yang tertinggi jika dibandingkan dengan kelompok berdasarkan tingkat pendidikan.


Sebaliknya, TPT terendah tercatat pada penduduk dengan pendidikan SD ke bawah, yakni sebesar 1,47 persen.


Kepala BPS Provinsi Lampung Ahmadriswan Nasution mengatakan terdapat perbedaan yang cukup signifikan dalam tingkat pengangguran berdasarkan jenjang pendidikan.


“Berdasarkan pendidikan tertinggi yang ditamatkan, TPT paling tinggi ada pada tamatan Diploma dan Universitas yang mencapai 7,92 persen. Sebaliknya, TPT paling rendah justru berada pada tingkat pendidikan SD ke bawah,” ujar Ahmadriswan, Minggu (9/8/2026).


Data tersebut menunjukkan bahwa pendidikan tinggi belum selalu menjamin seseorang lebih mudah mendapatkan pekerjaan, terutama pekerjaan yang sesuai dengan bidang pendidikan.


Pengangguran Lampung Bertambah

Secara keseluruhan, TPT Provinsi Lampung pada Mei 2026 tercatat sebesar 3,97 persen. Angka ini naik tipis 0,02 poin persentase dibandingkan Februari 2026.


Jumlah angkatan kerja Lampung pada Mei 2026 mencapai 5.153,54 ribu orang, atau bertambah sekitar 37,64 ribu orang dibandingkan Februari.


Dari jumlah tersebut, sebanyak 4.949,08 ribu orang telah bekerja, sedangkan sekitar 204,45 ribu orang masih menganggur.


Jumlah pengangguran tersebut meningkat sekitar 2,13 ribu orang dibandingkan Februari 2026.


Meski mengalami peningkatan, TPT Lampung masih menjadi salah satu yang terendah di Sumatera. Lampung berada di posisi ketiga setelah Bengkulu yang mencatat 3,20 persen dan Sumatera Selatan sebesar 3,60 persen.


Pertanian Jadi Penyerap Tenaga Kerja Terbesar

Struktur lapangan pekerjaan di Lampung masih didominasi sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan.


BPS mencatat sektor tersebut menyerap 44,04 persen dari seluruh penduduk yang bekerja di Lampung.


Sektor perdagangan besar dan eceran berada di posisi berikutnya dengan kontribusi 16,70 persen, sedangkan industri pengolahan menyerap sekitar 8,41 persen tenaga kerja.


Kondisi ini menjadi tantangan tersendiri bagi lulusan diploma dan universitas yang mencari pekerjaan sesuai dengan bidang pendidikan mereka.


Hampir 70 Persen Pekerja Berada di Sektor Informal

Selain didominasi sektor pertanian, pasar kerja Lampung juga masih banyak ditopang oleh sektor informal.


BPS mencatat sekitar 3.423,3 ribu orang atau 69,17 persen penduduk bekerja berada di sektor informal.


Sementara itu, jumlah pekerja formal tercatat sekitar 1.525,7 ribu orang atau 30,83 persen.


Di tengah kondisi tersebut, pengalaman Lisya menggambarkan tantangan yang masih dihadapi sebagian lulusan perguruan tinggi ketika memasuki pasar kerja.


Lebih dari 50 lamaran telah dikirim selama tiga tahun, tetapi keterbatasan lowongan yang sesuai, ketatnya persaingan, serta ketidaksesuaian sebagian pekerjaan dengan latar belakang pendidikan membuat perjalanan mencari pekerjaan menjadi tidak mudah.*


Baca Juga 

https://www.potretkita.net/2026/08/djp-tegaskan-belum-ada-rencana-pajak.html


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Bottom Ad

Responsive Ads Here