60 Pebulutangkis Ramaikan Turnamen Intern PB Sumatera Jaya, KONI Sumbar Tegaskan Porprov 2026 Digelar Juni–Juli - PotretKita Online

Breaking

Home Top Ad

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Minggu, 18 Januari 2026

60 Pebulutangkis Ramaikan Turnamen Intern PB Sumatera Jaya, KONI Sumbar Tegaskan Porprov 2026 Digelar Juni–Juli



PADANG –Ajang bulutangkis intern PB Sumatera Jaya yang diikuti oleh 60 pebulutangkis bukan sekadar kompetisi komunitas biasa; ia menjadi sebuah indikator ambivalen dalam wajah pembinaan olahraga di ranah provinsi Sumatera Barat. Turnamen yang digelar di Hall PB Atlanta, Padang, tidak hanya sekadar tempat untuk gagah-gagahan atau ajang silaturahmi belaka—tetapi juga sinyal bahwa elite olahraga lokal semakin berupaya membangun momentum menyongsong Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Sumbar 2026 yang direncanakan berlangsung pada Juni–Juli 2026. 


Namun, di balik gegap gempita peserta, pepali tajam menunggu: apakah turnamen seperti ini benar-benar relevan dengan strategi pembinaan jangka panjang yang matang, atau hanya sekadar ritual event-formal yang memoles citra tanpa fondasi pembinaan prestasi yang berkelanjutan?


Turnamen Intern dan Realitas Pembinaan


PB Sumatera Jaya menyuguhkan peta kecil dinamika olahraga lokal: atlet lintas usia, latar belakang beragam, dan komunitas besar yang berkembang atas dasar hobi serta kepentingan sosial. Tidak salah bahwa keberagaman ini menjadi kekuatan sosialitas—pembauran latar profesional, pendidikan, dan masyarakat umum. Tetapi, apakah ini mencerminkan ekosistem prestasi yang kuat? Jika turnamen intern hanya mentok pada frekuensi partisipasi, tanpa tujuan strategis yang terukur dalam KPI pembinaan atlet, maka dampaknya pada jangka panjang akan semakin minim. Prestasi individual seperti medali perak Agil Wahyudi di Kejurnas PBSI 2025 memang layak diapresiasi, tetapi itu justru menegaskan kekosongan target struktural: prestasi elit tidak tumbuh otomatis dari turnamen komunitas semata. 


Porprov: Ambisi atau Ilusi Organisasi?


Ketua KONI Sumbar menegaskan bahwa Porprov 2026 adalah “roh olahraga prestasi di Sumatera Barat”—kata-kata yang sarat semangat namun tipis arah konkret. Sengketa anggaran, kesiapan fasilitas, dan koordinasi dengan DPRD kabupaten/kota masih menjadi pekerjaan rumah besar. Bahkan upaya pemasangan baliho dan sosialisasi tidak serta-merta menyelesaikan problem mendasar: apakah ada roadmap pembinaan jangka menengah yang konkret? Sebuah turnamen komunitas dengan 60 peserta memang memeriahkan suasana, tetapi tidak otomatis membentuk tatanan sistem yang mengarah pada kualifikasi nasional atau PON. 


Lebih jauh, penyelenggaraan Porprov yang akan melibatkan banyak daerah dan cabang olahraga—bahkan dengan calon tuan rumah bersama di beberapa lokasi seperti Mentawai mengajukan lima cabor—menunjukkan ambisi besar. Namun, ambisi tanpa manajemen yang terukur berpotensi menciptakan event besar tanpa prestasi besar. Tuan rumah bersama bisa meningkatkan partisipasi, tapi jika tidak ada standar pengembangan pelatih terukur, kurikulum pembinaan atlet yang seragam, serta infrastruktur kompetitif yang merata, Porprov hanya akan menjadi pameran peralatan dan seragam baru. Langgam.id


Antara Momentum dan Mimpi


Turnamen bulutangkis internal menjadi alegori: banyak energi, sedikit arah. Sumatera Barat menyongsong Porprov dengan penuh harap, tetapi jika pembinaan prestasi disetarakan atau bahkan kalah dari sekadar ritme penyelenggaraan—maka Porprov 2026 hanya akan menjadi festival olahraga yang manis namun fana.


Olahraga prestasi bukan sekadar soal momentum—melainkan konsistensi, benchmark yang terukur, dan sistem pembinaan yang siap menjaring atlet dari akar rumput hingga ke panggung nasional. Jika tidak ada transformasi substansial dari turnamen intern ke strategi pembangunan prestasi yang sistemik, maka cita-cita “kebangkitan olahraga” Sumbar akan tetap jadi jargon semata. FS*


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Bottom Ad

Responsive Ads Here