![]() |
| Dr. Suhardin, S. Ag., M. Pd. (Dosen UIC Jakarta) |
JAKARTA –Dr. Suhardin, S. Ag., M. Pd. (Dosen UIC Jakarta) salah satu tokoh Muhammadiyah menyampaikan refleksi tentang hikmah Isra’ dan Mi’raj.
Isra’ dan Mi’raj adalah peristiwa teologis yang menguji keimanan. Abu Bakar As-Siddiq membenarkan Rasulullah SAW tanpa ragu, sementara Abu Jahal dan kaum Al-Kaddzab menolak dengan logika empiris semata. Peristiwa ini bukan hanya tentang perjalanan Rasul ke langit, tetapi juga pesan penting tentang keseimbangan alam, tanggung jawab manusia terhadap bumi, serta pentingnya menjadikan iman sebagai dasar etika ekologis. Krisis lingkungan hari ini mencerminkan kegagalan manusia menjaga amanah Allah, sehingga diperlukan transformasi menuju eco-theology: iman yang membumi dan menjaga keberlanjutan alam.
Peristiwa Isra’ dan Mi’raj bukan hanya kisah perjalanan spiritual Rasulullah Muhammad SAW, tetapi juga ujian besar keimanan umat manusia. Di satu sisi berdiri Abu Bakar As-Siddiq dengan keyakinan total, di sisi lain Abu Jahal dan barisan Al-Kaddzab yang menjadikan rasio semata sebagai hakim kebenaran.
Usai menjalani Isra’ dan Mi’raj, Rasulullah SAW sempat merenung: bagaimana menyampaikan peristiwa luar biasa ini kepada masyarakat. Namun Abu Jahal keburu datang—bukan untuk mendengar dengan iman, melainkan untuk mengejek dan menjatuhkan.
Ketika Rasulullah menceritakan bahwa beliau diperjalankan Allah SWT dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha, lalu naik menembus langit hingga Sidratul Muntaha dan menerima perintah shalat lima waktu, Abu Jahal tertawa keras. Baginya, itu hanyalah ilusi dan halusinasi.
“Berani kamu ceritakan ke publik?” tantangnya.
Rasulullah menjawab tenang, “Ya.”
Abu Jahal pun segera mengumpulkan masyarakat di depan Ka’bah. Ia yakin, inilah momen untuk menamatkan “karier” Muhammad SAW—terlebih setelah wafatnya Khadijah dan Abu Thalib.
Target provokasi pertama Abu Jahal adalah Abu Bakar. Jika sahabat terdekat itu goyah, ia yakin segalanya akan runtuh. Namun yang terjadi justru sebaliknya.
“Jika Muhammad yang mengatakan itu, maka aku membenarkannya,” tegas Abu Bakar.
Inilah titik sejarah yang melahirkan gelar As-Siddiq—sosok yang membenarkan kebenaran transendental tanpa syarat. Bagi Abu Bakar, kehendak Allah tidak bisa diukur dengan jarak, waktu, atau logika manusia.
Sementara itu, kubu Al-Kaddzab tetap bersandar pada hitung-hitungan empiris. Mereka menyoal jarak Makkah–Palestina yang mencapai ±1.300 km dan biasanya ditempuh berbulan-bulan. “Mustahil satu malam,” kata mereka. Apalagi naik ke langit ketujuh.
Namun provokasi itu justru berbalik arah. Rasulullah SAW mampu menjelaskan secara detail kondisi Masjidil Aqsha dan bahkan menceritakan kafilah dagang yang ditemuinya di perjalanan—yang kemudian terbukti benar. Keimanan kaum mukminin menguat, sementara kebencian kaum pendusta makin menjadi.
Dari Isra’ Mi’raj ke Isu Global: Bumi dalam Ancaman
Isra’ dan Mi’raj bukan sekadar peristiwa langit, tetapi juga pesan bumi. Allah SWT sejak awal telah mengingatkan bahwa kehidupan dunia akan berakhir—baik secara personal melalui kematian, maupun secara kosmik melalui kiamat.
Al-Qur’an menggambarkan kehancuran alam dengan bahasa yang indah namun menggetarkan: langit terbelah, bintang jatuh, lautan meluap, dan kuburan dibongkar (QS. Al-Infithar: 1–5).
Hari ini, tanda-tanda ketidakseimbangan itu terasa nyata. Pemanasan global telah mencapai sekitar 1,6°C, memicu bencana hidrometeorologi, krisis air bersih, gagal panen, penyebaran penyakit, hingga konflik sosial dan energi.
IPCC, badan ilmiah PBB, sejak 1988 telah mengingatkan: jika pemanasan global melewati 1,5°C, keselamatan bumi berada di ujung tanduk.
Di sinilah perbedaan cara pandang kembali terlihat.
Kaum As-Siddiq meyakini kiamat pasti, tetapi keseimbangan alam wajib dijaga sebagai amanah iman.
Kaum Al-Kaddzab memandang alam sekadar objek eksploitasi—lahirlah paham antroposentrisme, manusia sebagai pusat segalanya.
Refleksi : Iman yang Membumi
Isra’ dan Mi’raj mengajarkan bahwa alam semesta diciptakan Allah dalam keteraturan dan keseimbangan sempurna. Manusia bukan penguasa mutlak, melainkan penjaga. Sudah saatnya cara pandang antroposentris dan eko-sentris ditransformasikan menjadi eko-teologi: menjaga lingkungan sebagai bagian dari iman dan tanggung jawab spiritual.
Kiamat pasti datang.
Kematian pasti tiba.
Namun sebelum itu, manusia diperintahkan untuk menjaga kesehatan, merawat bumi, dan memastikan keberlanjutan hidup seluruh makhluk ciptaan Allah.
Iman sejati bukan hanya tentang naik ke langit dalam shalat, tetapi juga tentang membumikan tanggung jawab di dunia. Dr. Suhardin, S. Ag., M. Pd. (Dosen UIC Jakarta)*


.gif)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar