Ribuan Warga Gaza Masih Hilang, Keluarga Terus Mencari Kepastian di Tengah Kehancuran - PotretKita Online

Breaking

Home Top Ad

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Rabu, 19 Agustus 2026

Ribuan Warga Gaza Masih Hilang, Keluarga Terus Mencari Kepastian di Tengah Kehancuran

 


GAZABerbulan-bulan setelah gencatan senjata diumumkan, ribuan warga Palestina di Jalur Gaza masih dinyatakan hilang. Sebagian keluarga meyakini anggota mereka telah tewas dan tertimbun reruntuhan, sementara sebagian lainnya masih berharap orang yang mereka cari berada dalam tahanan Israel.


Salah satu keluarga yang hingga kini masih menunggu kepastian adalah keluarga Ahmed al Madhoun, pemuda berusia 21 tahun yang menyandang sindrom Down.


Ahmed diketahui menghilang sejak Mei 2025 setelah meninggalkan rumah untuk pergi ke sebuah toko di sekitar kediamannya di Kota Gaza. Pada hari yang sama, serangan Israel terjadi di wilayah tersebut.


Ibunya, Majdiya al Madhoun, mengatakan keluarganya hingga kini tidak mengetahui apakah Ahmed masih hidup atau telah meninggal.


"Ya Tuhan, hati saya tidak pernah tenang," ujarnya.


Majdiya mengatakan dirinya tetap berharap Ahmed dapat ditemukan. Namun, kepastian mengenai nasib putranya juga akan memberikan ketenangan bagi keluarga.


"Saya belum kehilangan harapan. Namun, apakah dia ditemukan dalam keadaan hidup atau meninggal, terkubur di bawah reruntuhan sekalipun, hanya saat itulah saya bisa merasakan ketenangan," katanya.


Ribuan Orang Masih Belum Ditemukan

Kasus Ahmed menggambarkan persoalan lebih luas yang dihadapi keluarga-keluarga di Gaza.


Menurut data yang dikutip BBC dari Kementerian Kesehatan Gaza yang dikelola Hamas, lebih dari 73.000 orang telah tewas sejak Israel melancarkan operasi militernya. Sekitar 1.200 kematian disebut terjadi setelah gencatan senjata diumumkan pada Oktober tahun sebelumnya.


Data korban tersebut dinilai dapat diandalkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Namun, jumlah korban sebenarnya kemungkinan lebih tinggi karena sebagian jenazah masih berada di bawah reruntuhan bangunan dan belum dapat ditemukan.


Komite Internasional Palang Merah (ICRC) menyatakan telah menerima lebih dari 5.000 permintaan pencarian orang hilang yang kemungkinan masih berada di bawah puing-puing.


Sementara itu, Badan Pertahanan Sipil Gaza memperkirakan jumlah warga yang hilang mencapai lebih dari 8.000 orang.


Proses pencarian jenazah menghadapi berbagai kendala. Kerusakan bangunan yang sangat luas serta keterbatasan alat berat, termasuk buldoser, membuat proses evakuasi berlangsung sulit.


Identifikasi korban juga menjadi persoalan karena sebagian jenazah telah berada di bawah reruntuhan dalam waktu lama. Keterbatasan fasilitas pemeriksaan DNA semakin menyulitkan keluarga memperoleh kepastian mengenai anggota keluarga mereka.


Harapan Lain: Kemungkinan Ditahan

Bagi sejumlah keluarga, ada kemungkinan lain yang juga menghantui: anggota keluarga mereka mungkin ditahan oleh aparat Israel.


Menurut laporan yang dikutip BBC, selama hampir tiga tahun konflik, pasukan Israel telah menahan sekitar 7.000 warga Palestina dari Gaza. Lebih dari 5.000 di antaranya kemudian dibebaskan tanpa dakwaan, menurut Public Committee Against Torture, sebuah organisasi yang berbasis di Israel.


Kelompok hak asasi manusia Israel, HaMoked, menyebut sekitar 1.300 warga Gaza masih ditahan di penjara Israel tanpa dakwaan maupun persidangan. Angka tersebut tidak mencakup warga Gaza yang ditahan langsung oleh militer Israel.


Organisasi hak asasi manusia menyatakan keluarga warga Palestina kerap kesulitan memperoleh informasi mengenai penangkapan maupun keberadaan kerabat mereka.


Akibatnya, sebagian keluarga mengandalkan pengacara dan organisasi nonpemerintah untuk menelusuri keberadaan anggota keluarga yang hilang.


Keluarga Meyakini Putranya Ada dalam Foto

Kasus lain dialami Aida al Drimli, yang telah mencari putranya, Mahmoud, sejak 2024.


Keluarga awalnya mengira Mahmoud tewas dalam serangan. Namun, Aida kemudian melihat sebuah foto yang beredar di media sosial. Foto tersebut memperlihatkan dua tentara Israel bersama seorang warga Palestina yang ditahan dalam kondisi mata ditutup dan tangan diikat.


Aida meyakini sosok dalam foto tersebut adalah putranya.


Ia mengatakan keyakinannya muncul setelah mencermati bentuk wajah, dahi, hidung, mulut, tangan, hingga kaki orang yang terlihat dalam foto.


Meski demikian, Aida menyadari bahwa satu foto belum cukup untuk memastikan identitas maupun keberadaan putranya.


Jika benar sosok tersebut adalah Mahmoud, temuan itu sekaligus menimbulkan pertanyaan baru mengenai kondisi dan lokasi penahanannya.


Keluarga al Drimli maupun keluarga al Madhoun mengatakan mereka dan anak-anak mereka tidak memiliki hubungan dengan Hamas ataupun kelompok bersenjata lainnya di Gaza.


Israel Bantah Memiliki Catatan Penahanan

BBC telah meminta keterangan kepada Dinas Penjara Israel (IPS) mengenai kedua pria tersebut.


IPS menyatakan tidak memiliki catatan bahwa keduanya pernah ditahan di fasilitas yang dikelola lembaga tersebut. BBC juga telah meminta tanggapan kepada militer Israel yang mengelola sejumlah pusat penahanan, tetapi hingga laporan tersebut disusun belum memperoleh jawaban.


Israel juga tidak mengizinkan jurnalis internasional, termasuk BBC, mengakses Gaza secara independen.


Keluarga al Drimli telah meminta bantuan Palang Merah untuk memastikan apakah Mahmoud termasuk orang yang ditahan. Namun, menurut laporan tersebut, ICRC tidak memperoleh akses terhadap catatan tahanan Israel.


Tal Steiner, pengacara Israel yang membantu keluarga menelusuri warga Palestina yang diduga ditahan, mengatakan kondisi tersebut membuat pencarian menjadi jauh lebih sulit.


Ia menyebut larangan terhadap ICRC untuk mengunjungi penjara serta tidak tersedianya daftar lengkap orang yang ditahan membuat keluarga harus menelusuri kasus satu per satu.


Ketidakpastian Menjadi Beban bagi Keluarga

Bagi keluarga yang kehilangan anggota keluarga, ketidakpastian mengenai nasib orang yang mereka cintai menjadi penderitaan tersendiri.


Steiner menggambarkan kondisi tersebut seperti luka yang tidak pernah tertutup karena keluarga tidak mengetahui apakah kerabat mereka masih hidup atau telah meninggal.


Di satu sisi, keluarga berharap orang yang mereka cari masih hidup. Namun di sisi lain, mereka membutuhkan kepastian agar dapat berduka dan memberikan penghormatan terakhir apabila orang tersebut telah meninggal.


Kasus Ahmed, Mahmoud, dan ribuan warga Gaza lainnya menunjukkan bahwa berakhirnya pertempuran tidak serta-merta mengakhiri penderitaan keluarga korban.*


Bagi mereka, pencarian belum selesai. Selama keberadaan anggota keluarga belum diketahui, harapan dan ketidakpastian terus berjalan beriringan.*


Baca Juga 

https://www.potretkita.net/2026/08/purbaya-blak-blakan-soal-anggaran.html


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Bottom Ad

Responsive Ads Here