LAMPUNG TIMUR — Selama 27 tahun, Sukamto menjalani hidup berdampingan dengan gajah di Taman Nasional Way Kambas (TNWK), Lampung Timur. Dari pengalaman panjang tersebut, pria berusia 55 tahun itu memahami bahwa merawat gajah bukan sekadar memberi makan dan melatih satwa, tetapi juga belajar membaca perilaku dan membangun kepercayaan.
Sukamto mulai menjadi mahot, sebutan bagi orang yang merawat, menggembalakan, dan melatih gajah, sejak 1996. Tiga tahun lagi, tepatnya pada Agustus 2029, ia akan memasuki masa pensiun.
Di tengah kebakaran hutan dan lahan yang melanda kawasan Resor Kuala Penet, TN Way Kambas, pada Sabtu (22/8/2026), pengalaman Sukamto kembali menunjukkan pentingnya memahami perilaku alami gajah.
Menurut dia, gajah memiliki kepekaan tinggi terhadap kondisi di sekitarnya dan cenderung menjauh ketika menghadapi bahaya seperti api dan asap.
"Kalau ada api juga kabur, gajah," ujar Sukamto saat ditemui di Pusat Latihan Gajah (PLG) TN Way Kambas, Minggu (23/8/2026).
Berdasarkan pemantauan Balai TN Way Kambas dan Kementerian Kehutanan, kelompok gajah liar berada di bagian utara kawasan, sementara titik kebakaran berada di Resor Kuala Penet di bagian selatan. Gajah yang berada di Pusat Konservasi Gajah (PKG) juga dilaporkan aman dan tidak terdampak langsung.
Berawal dari Memelihara Sapi dan Kerbau
Sukamto sebelumnya tidak pernah membayangkan akan menghabiskan puluhan tahun hidupnya bersama gajah.
Sebelum bekerja di TN Way Kambas, ia terbiasa memelihara sapi dan kerbau di kampung halamannya di Punggur, Lampung Tengah. Pengalaman tersebut kemudian menjadi bekal ketika ia melamar pekerjaan di kawasan konservasi.
Tidak ada sekolah khusus yang pernah ia ikuti untuk menjadi mahot. Kemampuan tersebut dipelajarinya dari pengalaman dan berbagi pengetahuan dengan sesama rekan kerja.
Dari sana, Sukamto mulai memahami karakter masing-masing gajah yang dirawatnya.
Gajah yang dilatihnya pada awalnya merupakan gajah liar. Proses pelatihan pun membutuhkan kesabaran. Pada masa awal, satu ekor gajah bahkan dapat membutuhkan sekitar enam orang untuk membantu proses pelatihan.
Latihan dimulai dari perintah sederhana, seperti mengangkat kaki. Setelah gajah memahami perintah tersebut, latihan dilanjutkan dengan duduk hingga mengambil barang.
Menurut Sukamto, gajah yang memiliki daya tangkap baik dapat menjalani proses penjinakan sekitar tiga bulan. Namun, gajah yang lebih sulit memahami perintah dapat membutuhkan waktu hingga enam bulan.
"Kalau gajahnya pintar, tiga bulan sudah bisa," katanya.
Pernah Terpental Tiga Meter
Menjadi mahot bukan pekerjaan yang hanya membutuhkan keberanian. Kemampuan membaca situasi dan mengetahui kapan harus mendekat atau menjaga jarak menjadi bagian penting dalam pekerjaan tersebut.
Sukamto pernah mengalami kecelakaan saat melatih seekor gajah mengangkat kaki.
Ketika hendak melepaskan borgol di bagian bawah tubuh gajah, satwa tersebut tiba-tiba bergerak dan bangkit. Gerakan kaki gajah kemudian mengenai tubuh Sukamto hingga membuatnya terpental sekitar tiga meter dan sempat kehilangan kesadaran.
"Kadang gajah itu kita rasa tidak menyerang, tetapi tiba-tiba kalau mau menyerang, langsung menyerang," ujarnya.
Peristiwa tersebut tidak membuat Sukamto berhenti bekerja. Namun, hingga kini pergelangan kakinya masih kerap terasa sakit, terutama setelah berjalan sekitar 100 meter di permukaan yang tidak rata.
Pengalaman itu membuatnya semakin memahami bahwa hubungan antara mahot dan gajah harus dibangun berdasarkan kepercayaan sekaligus kewaspadaan.
Satu Gajah, Satu Mahot
Dalam keseharian, satu ekor gajah memiliki satu mahot yang bertanggung jawab merawatnya.
Selama bekerja di TN Way Kambas, Sukamto telah merawat empat ekor gajah, yakni Daeng, Bunga, Sandi, dan Yandu.
Ia juga memahami perubahan perilaku gajah, termasuk ketika gajah jantan memasuki masa berahi. Pada kondisi tersebut, gajah biasanya perlu dipisahkan karena dapat menjadi lebih agresif dan perilakunya bisa berubah secara tiba-tiba.
Pengalaman bertahun-tahun juga membuat Sukamto mengetahui makanan yang disukai maupun dikonsumsi gajah dalam kondisi tertentu. Daun sawit, misalnya, termasuk makanan yang disukai. Sementara beberapa jenis tanaman seperti akasia dan laban dapat dimakan ketika kondisi gajah kurang sehat.
Perawatan kesehatan dilakukan secara berkala, termasuk pemberian obat cacing sekitar tiga bulan sekali dengan dosis yang disesuaikan berdasarkan berat badan.
Sukamto juga mewaspadai Elephant Endotheliotropic Herpesvirus (EEHV), penyakit yang dapat menyerang gajah, terutama anak gajah. Ia masih mengingat kasus seekor anak gajah yang mati akibat penyakit tersebut sekitar enam tahun lalu.
Konflik Gajah dan Manusia
Persoalan gajah di Way Kambas tidak hanya berkaitan dengan perawatan di kawasan konservasi. Gajah liar juga terkadang keluar dari kawasan hutan dan memasuki wilayah sekitar permukiman.
Menurut Sukamto, salah satu penyebabnya adalah ketersediaan makanan.
Di dalam hutan, gajah banyak mengonsumsi rumput. Ketika sumber makanan berkurang, tanaman pertanian seperti padi dan jagung milik warga dapat menjadi pilihan.
Sukamto menilai persoalan tersebut tidak bisa dilihat hanya dari sisi gajah yang memasuki wilayah manusia. Gajah memiliki jalur jelajah yang telah digunakan secara turun-temurun.
"Jalur gajah itu gak bisa diubah," katanya.
Karena itu, upaya menggiring gajah tanpa memahami jalur jelajahnya dapat menimbulkan persoalan baru. Jika satu sisi digunakan untuk menggiring sementara sisi lainnya ditutup, gajah dapat terjebak dan menjadi agresif.
Menurut Sukamto, penyelesaian konflik manusia dan gajah membutuhkan pemahaman terhadap ruang hidup kedua pihak.
Gajah Bukan Sekadar Tontonan
Pandangan terhadap pengelolaan gajah di Way Kambas juga mengalami perubahan. Gajah tidak lagi semestinya ditempatkan sebagai satwa yang melakukan berbagai atraksi untuk menghibur pengunjung.
Jika wisata tetap dikembangkan, Sukamto menilai konsepnya sebaiknya lebih mengarah pada edukasi. Pengunjung dapat mempelajari perilaku, makanan, dan kehidupan gajah tanpa menjadikan satwa tersebut sebagai tontonan.
"Gajah itu kurang begitu anu sama keramaian, aslinya. Namanya binatang sih, aslinya memang di hutan," ujarnya.
Gajah jinak nantinya dapat diarahkan menuju konsep seperti sanctuary, dengan tetap menyediakan kebutuhan makanan dan perawatan. Sementara gajah liar tetap dibiarkan hidup di habitat alaminya.
Tiga Tahun Menuju Pensiun
Agustus 2029 akan menjadi akhir masa kerja Sukamto sebagai mahot. Saat itu, usianya diperkirakan sekitar 58 tahun.
Ia menyadari bahwa kemampuan fisik manusia akan semakin terbatas seiring usia, sementara gajah justru semakin kuat.
"Gajah itu semakin lama semakin kuat. Kalau mahotnya semakin lama semakin tua, tenaganya berkurang," katanya.
Setelah 27 tahun menjadi mahot, kembali menjalani kehidupan seperti ketika masih menjadi petani bukan perkara mudah. Ia sudah terbiasa dengan rutinitas merawat gajah.
Namun, ada satu hal yang tetap membuatnya bangga: melihat gajah yang semula liar akhirnya mampu memahami perintah manusia.
"Senangnya ya bisa jinakin gajah. Diperintah, mau," ujar Sukamto.
Pengalaman Sukamto menunjukkan bahwa merawat gajah bukan hanya tentang menjinakkan satwa liar. Lebih dari itu, manusia dituntut belajar memahami perilaku, kebutuhan, dan ruang hidup gajah.
Ketika kebakaran datang, gajah memiliki naluri untuk menjauh dari bahaya. Tantangan manusia adalah memastikan ketika satwa itu bergerak menyelamatkan diri, masih tersedia habitat yang aman untuk mereka tuju.*
Baca Juga
https://www.potretkita.net/2026/08/karhutla-di-tn-way-kambas-padam-seluruh.html


.gif)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar