Makanan yang Disukai Sel Kanker, Banyak Dikonsumsi Warga RI - PotretKita Online

Breaking

Home Top Ad

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Rabu, 18 Februari 2026

Makanan yang Disukai Sel Kanker, Banyak Dikonsumsi Warga RI


PADANG PANJANG — Pakar kesehatan memperingatkan bahwa beberapa jenis makanan yang populer di Indonesia ternyata memiliki hubungan dengan pertumbuhan sel kanker bila dikonsumsi secara berlebihan dan dalam jangka panjang. Ahli gizi menyoroti bahwa faktor pola makan menjadi salah satu pemicu risiko kanker selain faktor genetik dan gaya hidup lainnya. detikHealth


1. Daging Merah


Daging merah seperti sapi dan kambing telah dikaitkan dengan peningkatan risiko kanker usus besar bila dikonsumsi terlalu sering dan dalam porsi besar. Ahli menyarankan pembatasan porsi serta memilih metode masak yang lebih sehat. 


Daging merah seperti sapi dan kambing memang dikaitkan dengan peningkatan risiko kanker usus besar jika dikonsumsi terlalu sering dan dalam porsi besar, terutama karena kandungan lemak jenuh serta senyawa yang terbentuk saat proses memasak suhu tinggi. Solusinya adalah membatasi porsi (misalnya tidak lebih dari 350–500 gram per minggu), tidak menjadikannya konsumsi harian, dan menyeimbangkannya dengan asupan serat dari sayur, buah, serta biji-bijian utuh yang membantu menjaga kesehatan usus.


Selain itu, pilih metode memasak yang lebih sehat seperti merebus, mengukus, atau memanggang dengan suhu sedang, serta hindari membakar hingga gosong karena dapat membentuk senyawa berpotensi karsinogenik. Variasikan sumber protein dengan ikan, ayam tanpa kulit, telur, tahu, tempe, atau kacang-kacangan agar pola makan lebih seimbang dan risiko kesehatan dapat ditekan secara berkelanjutan.


2. Daging Olahan


Produk seperti sosis, bacon, ham, dan sejumlah daging olahan lainnya mengandung nitrat dan nitrit yang dapat meningkatkan risiko kanker, terutama kanker kolorektal. 


Produk seperti sosis, bacon, ham, dan daging olahan lainnya sering mengandung nitrat dan nitrit sebagai pengawet. Di dalam tubuh, senyawa ini bisa berubah menjadi nitrosamin, yaitu zat yang berpotensi bersifat karsinogenik dan dikaitkan dengan peningkatan risiko kanker, terutama kanker kolorektal. Risiko meningkat jika konsumsi dilakukan sering dan dalam jangka panjang, apalagi bila disertai pola makan rendah serat dan tinggi lemak jenuh.


Solusinya adalah membatasi konsumsi daging olahan dan tidak menjadikannya menu harian. Pilih sumber protein yang lebih sehat seperti ikan, ayam tanpa kulit, telur, tahu, tempe, atau kacang-kacangan, serta perbanyak asupan serat dari sayur dan buah untuk membantu melindungi kesehatan usus. Jika ingin mengonsumsi daging, pilih daging segar dan olah dengan cara yang lebih sehat seperti direbus atau dipanggang tanpa dibakar berlebihan.


3. Alkohol


Minuman beralkohol secara konsisten dikaitkan dengan berbagai jenis kanker — termasuk kanker payudara, lambung, dan hati — karena kerusakan jaringan yang dapat memicu perubahan DNA sel. 


4. Makanan & Minuman Ultra-Proses


Makanan ultra-olahan (mis. gorengan siap saji, camilan kemasan, fast food) yang tinggi kalori, gula, dan natrium bisa berkontribusi pada obesitas — faktor risiko kanker yang signifikan.


Makanan ultra-olahan seperti gorengan siap saji, camilan kemasan, dan fast food memang tinggi kalori, gula, lemak tidak sehat, serta natrium yang dapat memicu kenaikan berat badan dan obesitas—salah satu faktor risiko kanker yang signifikan. Solusinya bukan langsung stop total, tapi kurangi frekuensi dan porsinya secara bertahap. Prioritaskan makanan segar seperti sayur, buah utuh, protein tanpa lemak, kacang-kacangan, dan karbohidrat kompleks. Biasakan masak sederhana di rumah, bawa bekal, serta baca label gizi untuk menghindari produk dengan gula dan natrium tinggi.


Selain itu, imbangi dengan aktivitas fisik rutin minimal 150 menit per minggu dan jaga pola tidur agar metabolisme tetap optimal. Susun pola makan seimbang dengan metode “isi piring”: setengah sayur dan buah, seperempat protein, seperempat karbohidrat kompleks. Intinya bestie, konsistensi gaya hidup sehat jauh lebih penting daripada diet ketat sesaat—pelan tapi berkelanjutan lebih efektif menjaga berat badan dan menurunkan risiko penyakit.


5. Makanan & Minuman dengan Tambahan Gula


Produk manis yang diproses memiliki hubungan tak langsung dengan kanker melalui mekanisme obesitas dan peradangan kronis. Ahli menekankan moderasi dalam konsumsi gula tambahan. 


Produk manis olahan memang bisa meningkatkan risiko kanker secara tidak langsung melalui mekanisme obesitas, resistensi insulin, dan peradangan kronis. Karena itu, kuncinya bukan menghindari gula secara ekstrem, tetapi membatasi gula tambahan sesuai anjuran seperti dari World Health Organization, yaitu maksimal 10% dari total kalori harian (idealnya di bawah 5%). Cara praktisnya adalah mengurangi minuman manis, membaca label nutrisi, serta tidak mengonsumsi makanan tinggi gula saat perut kosong agar lonjakan gula darah tidak berlebihan.


Selain itu, pencegahan bisa diperkuat dengan menjaga berat badan ideal melalui olahraga rutin minimal 150 menit per minggu, memperbanyak konsumsi serat, protein, sayur, buah utuh, dan lemak sehat, serta mengurangi makanan ultra-proses. Tidur cukup dan mengelola stres juga penting karena keduanya berpengaruh pada keseimbangan hormon dan peradangan. Intinya, moderasi dan konsistensi dalam pola hidup sehat jauh lebih efektif daripada pembatasan ekstrem sesaat.


Catatan Ahli


Tidak ada satu makanan yang langsung menyebabkan kanker jika dikonsumsi sekali-sekali. Risiko meningkat dari kebiasaan konsumsi jangka panjang dan pola makan yang tidak seimbang. 


Pola makan ideal disarankan lebih banyak berbasis tumbuhan — sayur, buah, biji-bijian — dengan sumber protein hewani rendah lemak jika perlu. detikHealth*

Baca Juga

https://www.potretkita.net/2026/02/kebiasaan-pagi-yang-bisa-bantu-badan.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Bottom Ad

Responsive Ads Here