Pemprov Sumbar Muhasabah di Ujung Tahun - PotretKita Online

Breaking

Home Top Ad

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Jumat, 02 Januari 2026

Pemprov Sumbar Muhasabah di Ujung Tahun

PADANG – Pemerintah Provinsi Sumatera Barat (Pemprov Sumbar) menutup pergantian tahun 2025 dengan zikir, doa, dan tabligh akbar di Masjid Raya Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi, Rabu malam (31/12/2025). Ribuan jamaah memadati masjid tersebut, menjadikan malam pergantian tahun sebagai momentum muhasabah dan penguatan iman.


Menutup tahun dengan zikir dan doa adalah pilihan yang kuat. Di tengah dunia yang riuh oleh kembang api dan pesta, Pemerintah Provinsi Sumatera Barat memilih Masjid Raya sebagai pusat peralihan waktu. Gubernur Mahyeldi berdiri bukan sebagai pejabat administratif semata, melainkan sebagai pengingat kolektif: bahwa umur daerah, seperti umur manusia, juga perlu dievaluasi sebelum melangkah ke depan.


Namun muhasabah publik tidak boleh berhenti sebagai ritus spiritual saja. Ia harus berani menjelma menjadi cermin kekuasaan setiap hari.


Tahun 2025, sebagaimana diakui sendiri oleh Gubernur, adalah tahun luka bagi kita Sumatera Barat. Banjir bandang, longsor, galodo, korban jiwa, dan ribuan warga tercerabut dari rumah dan penghidupan mereka. Dalam konteks ini, zikir dan doa bukan sekadar penenang batin, tetapi pernyataan sikap: bahwa negara—dalam wujud pemerintah daerah—mengakui keterbatasannya di hadapan alam dan sang pencipta.


Agama mengajarkan bahwa musibah bukan hanya takdir, tetapi juga peringatan dari Allah SWT. Pertanyaannya: peringatan untuk kita semua? Untuk rakyat agar lebih sabar, atau untuk penguasa agar lebih cermat membaca tanda-tanda zaman—krisis iklim, tata ruang yang rapuh, pembangunan yang kerap mengabaikan daya dukung alam menjadi perhatian kita.


Ayat “Fa inna ma’al ‘usri yusrā” memang menenangkan, tetapi Al-Qur’an tidak pernah memisahkan iman dari ikhtiar. Doa tanpa koreksi kebijakan berisiko menjadi penghiburan yang menunda perubahan. Muhasabah sejati  memaksa pemerintah bertanya dengan jujur: apakah semua bencana ini murni kehendak langit, atau ada kelalaian bumi yang dibiarkan terlalu lama?


Pernyataan Mahyeldi tentang “setiap rupiah anggaran adalah amanah” adalah kalimat yang indah—dan berbahaya. Indah karena benar. Berbahaya karena publik berhak menagihnya. Transparansi, kecepatan respons bencana, keberpihakan anggaran pada mitigasi bencana, serta keberanian menertibkan eksploitasi hutan dan tambang akan menjadi ukuran apakah kalimat itu sekadar retorika religius atau benar-benar akan direalisasikan pemerintahan tahun 2026 ini.


Apresiasi kepada relawan, ulama, TNI–Polri, tenaga kesehatan, dan masyarakat adalah hal yang patut. Jangan sampai gotong royong rakyat terus-menerus menambal lubang yang seharusnya ditutup oleh sistem. Solidaritas sosial bukan pengganti negara; ia adalah mitra sementara yang tidak boleh dieksploitasi oleh lemahnya tata kelola pemerintahan.


Malam muhasabah di Masjid Raya itu bukan titik akhir tahun, melainkan akta moral awal pemeritahan untuk dilanjutkan di tahun berikutnya. Jika pada 2026 doa masih lebih lantang daripada kebijakan pencegahan, jika zikir lebih sering terdengar daripada langkah struktural, maka muhasabah berubah menjadi seremoni saja—khusyuk, tapi steril dari perubahan. Masih mode lama.


Sumatera Barat tidak hanya butuh pemimpin yang saleh secara nyata, tetapi saleh secara kebijakan juga: berani menjaga alam, adil pada rakyatnya, dan jujur pada amanah dari Allah SWT itu.

Karena doa terbaik untuk daerah ini bukan hanya yang dilangitkan, tetapi yang dibumikan juga dalam keputusan nyata. Kadang rakyat tak faham bahwa lingkungan mereka sedang berbahaya. Belum sampai tahap bisa menjaga alam. Maka pemerintahanlah sebagai penjaganya.


Gubernur Sumbar, mengajak seluruh jamaah untuk menjadikan akhir tahun sebagai sarana refleksi diri dan hijrah menuju kehidupan yang lebih baik, sekaligus mendoakan agar daerah ini senantiasa berada dalam lindungan Allah SWT dan dijauhkan dari bencana.


“Malam ini kita berkumpul bukan untuk berpesta, tetapi untuk bermuhasabah. Kita berdoa untuk daerah dan bangsa agar diberi keselamatan, dijauhkan dari musibah, serta diberkahi dalam setiap langkah dan kebijakan,” ujar Mahyeldi.


Tahun 2025 menjadi periode yang berat bagi masyarakat Sumbar. Berbagai bencana seperti banjir bandang, longsor, galodo, dan musibah lainnya telah menguji kesabaran serta keteguhan masyarakat, terutama di penghujung tahun.


“Kendati berat, kita tidak boleh terus larut dalam kesedihan. Kita harus bangkit dan memohon kepada Allah SWT agar ke depan negeri ini dijauhkan dari segala bencana,” ajaknya.


Mahyeldi menjelaskan, bencana hidrometeorologi yang melanda sejumlah wilayah Sumbar telah mengakibatkan ratusan korban meninggal dunia, ribuan warga kehilangan tempat tinggal dan mata pencaharian, serta berdampak pada berbagai infrastruktur strategis.


Dalam kesempatan itu, ia mengingatkan jamaah akan firman Allah SWT, “Fa inna ma’al ‘usri yusrā”. Sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan (QS. Al-Insyirah: 6).


“Musibah bukan semata hukuman, melainkan panggilan untuk kembali mendekatkan diri kepada Allah, memperbaiki amal, dan memperkuat kepedulian sosial,” tuturnya.


Gubernur juga menyampaikan terima kasih dan penghargaan setinggi-tingginya kepada para ulama dan dai, tenaga kesehatan, BPBD, Basarnas, TNI–Polri, ASN, relawan, organisasi kepemudaan, lembaga sosial, serta seluruh masyarakat yang telah bahu-membahu membantu korban bencana.


“Inilah kunci kita bangkit, gotong royong dan persatuan yang diiringi iman,” tegas Mahyeldi.


Selain itu, Mahyeldi mengingatkan seluruh ASN Pemprov Sumbar agar menjadikan tahun 2026 sebagai momentum meningkatkan kinerja yang amanah, transparan, cepat, dan peka terhadap penderitaan rakyat melalui tata kelola pemerintahan yang bersih dan responsif.


“Setiap rupiah anggaran adalah amanah. Setiap kebijakan adalah ibadah, jika diniatkan untuk kemaslahatan,” ujarnya.


Rangkaian kegiatan diawali dengan salat Magrib berjamaah, dilanjutkan zikir dan doa yang dipimpin Imam Besar Masjid Raya Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi, Ustaz Rahimul Amin, serta tabligh akbar yang disampaikan oleh Dr. Sofyan Hadi. (Humas Sumbar/adpsb/nov/bud)


Baca Juga

https://www.potretkita.net/2026/01/agunan-fiktif-dan-moral-publik-yang.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Bottom Ad

Responsive Ads Here