JAKARTA – Video pedagang mi ayam yang menuangkan saus merah dan MSG atau micin dalam jumlah banyak ke dalam satu porsi makanan viral di media sosial. Penggunaan bumbu secara berlebihan tersebut kemudian menimbulkan pertanyaan mengenai dampaknya terhadap kesehatan.
Bukan hanya MSG, jumlah saus yang digunakan juga menjadi perhatian. Pasalnya, saus dapat mengandung natrium dan gula, selain bahan tambahan pangan seperti pewarna dan pengawet yang penggunaannya memiliki batas sesuai ketentuan.
Spesialis penyakit dalam dan konsultan ginjal dan hipertensi, Prof. Dr. dr. Endang Susalit, SpPD-KGH, FINASIM, mengatakan konsumsi makanan dengan bumbu berlebihan tidak serta-merta menyebabkan penyakit apabila hanya dilakukan sesekali.
Menurutnya, risiko kesehatan lebih perlu diperhatikan apabila kebiasaan tersebut dilakukan secara rutin dalam jangka panjang.
“Kalau hanya sekali sebulan sih mungkin nggak terlalu pengaruh. Tapi kalau hampir tiap hari makan seperti itu, lama-lama akibat gulanya bisa diabetes, akibat garam itu bisa tensinya naik,” ujarnya.
MSG Tidak Otomatis Berbahaya
MSG atau monosodium glutamate merupakan garam natrium dari asam glutamat yang digunakan sebagai penguat rasa umami pada makanan.
Penggunaan MSG dalam makanan tidak otomatis membuat makanan menjadi berbahaya. Namun, jumlah konsumsinya tetap perlu diperhatikan, terutama karena MSG turut menyumbang asupan natrium.
Pada sebagian orang, konsumsi MSG dalam jumlah besar juga dapat dikaitkan dengan keluhan jangka pendek seperti sakit kepala, kemerahan, kesemutan, jantung berdebar, mual, atau rasa tidak nyaman.
Meski demikian, bukti ilmiah mengenai hubungan langsung MSG dengan keluhan tersebut belum menunjukkan hasil yang konsisten pada masyarakat secara umum.
Karena itu, persoalan utama bukan semata-mata keberadaan MSG dalam makanan, melainkan pola konsumsi secara keseluruhan, termasuk jumlah natrium dan bahan lain yang masuk ke tubuh.
Saus Juga Perlu Diperhatikan
Selain micin, penggunaan saus dalam jumlah banyak juga perlu menjadi perhatian.
Saus dapat mengandung gula dan natrium. Jika dikonsumsi dalam jumlah berlebihan dan berulang, asupan kedua zat tersebut dapat meningkat secara signifikan.
Saus juga dapat mengandung bahan tambahan pangan, termasuk pewarna dan pengawet. Penggunaan bahan tambahan pangan pada makanan olahan pada dasarnya diperbolehkan selama memenuhi ketentuan keamanan dan batas penggunaan yang telah ditetapkan.
Dengan demikian, bukan berarti setiap makanan yang mengandung saus atau bahan pengawet berbahaya. Yang perlu diperhatikan adalah jumlah, frekuensi konsumsi, serta keseluruhan pola makan.
Risiko Muncul Jika Menjadi Kebiasaan
Endang menjelaskan, masalah kesehatan lebih mungkin muncul ketika makanan tinggi garam dan gula dikonsumsi secara berulang dalam jangka panjang.
Asupan garam yang berlebihan dapat meningkatkan risiko tekanan darah tinggi atau hipertensi. Sementara konsumsi gula berlebihan dapat meningkatkan risiko gangguan metabolisme, termasuk diabetes.
Hipertensi dan diabetes sendiri merupakan dua kondisi yang dapat meningkatkan risiko terjadinya penyakit ginjal kronik.
“Jadi ada zat-zat tertentu dalam makanan tadi, yang biasanya kita identifikasi garam sama gula. Itu yang jelas mengganggu tubuh, itu pun untuk jangka panjang,” jelas Endang.
Menurutnya, konsumsi sesekali berbeda dengan kebiasaan mengonsumsi makanan tinggi garam dan gula hampir setiap hari.
“Kalau sekali-sekali mungkin nggak masalah. Tapi kalau rutin terus sehingga masukkan garam dan gula tadi bertumpuk, lama-lama organ tubuh yang menerima itu nggak siap, nggak tahan. Timbul penyakit baru,” ujarnya.
Bijak Mengonsumsi Mi Ayam
Mi ayam tetap dapat menjadi bagian dari pola makan sehari-hari selama dikonsumsi secara bijak. Masyarakat dapat mengurangi penggunaan saus dan bumbu tambahan, terutama jika makanan tersebut sudah memiliki rasa yang cukup kuat.
Porsi juga perlu diperhatikan dan sebaiknya diimbangi dengan sumber protein, sayuran, serta makanan lain yang lebih beragam.
Yang terpenting, jangan melihat satu bahan seperti MSG sebagai satu-satunya penyebab masalah kesehatan. Pola makan secara keseluruhan, jumlah konsumsi, dan frekuensi makan dalam jangka panjang jauh lebih menentukan.
Sesekali menikmati mi ayam dengan tambahan saus atau MSG bukan berarti tubuh akan langsung mengalami kerusakan. Namun, menjadikan makanan tinggi garam dan gula sebagai kebiasaan harian dapat meningkatkan risiko berbagai masalah kesehatan dalam jangka panjang.*
Baca Juga
https://www.potretkita.net/2026/08/erick-hamdani-soroti-kebiasaan-kecil.html


.gif)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar