JAKARTA — Kebiasaan duduk terlalu lama dan minim aktivitas fisik tidak hanya berpengaruh terhadap kesehatan tubuh, tetapi juga dapat berdampak pada fungsi otak dan kondisi emosional.
Aktivitas fisik selama ini lebih banyak dikaitkan dengan manfaat bagi tubuh, seperti memperkuat otot, menjaga kesehatan jantung, dan meningkatkan energi. Padahal, otak juga membutuhkan aktivitas fisik agar dapat berfungsi secara optimal.
Sebaliknya, ketika seseorang menghabiskan sebagian besar waktunya dengan duduk dan jarang bergerak, perubahan pada kondisi tubuh, suasana hati, hingga kemampuan berkonsentrasi dapat muncul dalam waktu relatif singkat.
Spesialis geriatri sekaligus Wakil Direktur Center for Memory Loss and Brain Health di Hackensack University Medical Center, Manisha Parulekar, MD, menjelaskan bahwa terlalu banyak duduk dan bersantai dapat berkaitan dengan berkurangnya aliran darah ke otak.
Padahal, aliran darah yang baik diperlukan untuk membawa oksigen dan nutrisi yang mendukung fungsi otak.
Kondisi tersebut juga dapat memengaruhi zat kimia otak yang berkaitan dengan pengaturan suasana hati, termasuk serotonin dan dopamin.
Dampak yang Bisa Terasa dalam Waktu Singkat
Kurangnya aktivitas fisik tidak selalu langsung menimbulkan keluhan yang jelas. Namun, seseorang dapat merasakan perubahan energi dan suasana hati setelah menghabiskan waktu terlalu lama tanpa bergerak.
Menurut Parulekar, beristirahat memang dibutuhkan tubuh dan sesekali menghabiskan satu hari untuk bersantai dapat terasa menyegarkan. Namun, terlalu lama tidak melakukan aktivitas fisik justru dapat membuat seseorang merasa lesu.
"Terkadang satu hari bersantai itu terasa menyegarkan, tetapi dalam banyak kasus, hal itu membuat orang merasa lesu dan kekurangan energi," ujarnya.
Setelah seharian minim aktivitas, seseorang dapat merasa lebih mudah lelah, kehilangan motivasi, lebih mudah tersinggung, atau mengalami kesulitan berkonsentrasi.
Efek tersebut umumnya bersifat sementara dan dapat membaik setelah seseorang kembali melakukan aktivitas fisik.
Jika Menjadi Kebiasaan, Risiko Bisa Lebih Besar
Persoalan menjadi lebih serius ketika gaya hidup minim gerak berlangsung dalam jangka panjang.
Ahli neurologi David Perlmutter, MD, mengatakan semakin banyak penelitian yang menunjukkan hubungan antara kurangnya aktivitas fisik dengan kesehatan otak.
Menurutnya, kurang bergerak berkaitan dengan peningkatan risiko penurunan fungsi kognitif dan demensia. Hubungan tersebut antara lain dipengaruhi oleh proses metabolisme dan peradangan dalam tubuh.
Salah satu mekanisme yang menjadi perhatian adalah fungsi mikroglia, yakni sel kekebalan yang terdapat di dalam otak.
Mikroglia berperan memantau lingkungan otak dan merespons berbagai ancaman. Kondisi metabolisme yang sehat membantu mikroglia menjalankan fungsi perlindungannya, sedangkan gangguan metabolisme kronis dapat berkontribusi terhadap kondisi peradangan yang lebih berat.
Bisa Memengaruhi Kesehatan Mental
Kurangnya aktivitas fisik dalam jangka panjang juga dikaitkan dengan kesehatan mental.
Parulekar menyebut gaya hidup minim gerak berhubungan dengan kemungkinan lebih besar mengalami masalah seperti depresi dan kecemasan.
Sebaliknya, aktivitas fisik secara rutin dapat membantu mendukung suasana hati dan kesehatan emosional.
Penelitian yang diterbitkan dalam British Journal of Sports Medicine pada 2022 juga menunjukkan bahwa peningkatan aktivitas fisik berkaitan dengan berkurangnya gejala depresi dan kecemasan.
Meski demikian, olahraga bukan pengganti penanganan profesional bagi orang yang mengalami gangguan kesehatan mental. Aktivitas fisik lebih tepat dipandang sebagai salah satu bagian dari upaya menjaga kesehatan mental.
Tidak Harus Selalu Olahraga Berat
Untuk mengurangi kebiasaan sedentari, seseorang tidak harus langsung melakukan olahraga berat.
Hal sederhana seperti berdiri secara berkala, berjalan kaki, melakukan pekerjaan rumah, melakukan peregangan, atau mengambil jeda dari duduk dapat membantu meningkatkan aktivitas harian.
Yang terpenting adalah menghindari kebiasaan duduk dalam waktu sangat panjang tanpa jeda dan membangun pola hidup yang lebih aktif secara konsisten.
Dengan demikian, menjaga kesehatan otak bukan hanya soal melatih pikiran, tetapi juga memberikan tubuh kesempatan untuk bergerak. Aktivitas fisik yang dilakukan secara rutin dapat menjadi bagian penting dalam menjaga fungsi kognitif sekaligus mendukung kesehatan emosional.*
Baca Juga
https://www.potretkita.net/2026/08/ratusan-asn-mengundurkan-diri-benarkah.html


.gif)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar