Psikolog Ingatkan Orangtua Jangan Asal Diagnosis Anak dari Medsos - PotretKita Online

Breaking

Home Top Ad

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Selasa, 11 Agustus 2026

Psikolog Ingatkan Orangtua Jangan Asal Diagnosis Anak dari Medsos

 


JAKARTAMedia sosial kini menjadi salah satu sumber informasi bagi orangtua untuk mengetahui tumbuh kembang dan perilaku anak. Berbagai konten mengenai neurodivergensi, seperti autisme, ADHD, hingga kondisi perkembangan lainnya, mudah ditemukan di TikTok, Instagram, dan platform digital lainnya.


Informasi tersebut memang dapat membantu orangtua mengenali tanda-tanda tertentu pada anak. Namun, terlalu banyak mengandalkan informasi dari media sosial juga berisiko membuat orangtua mengambil kesimpulan sendiri mengenai kondisi anak.


Psikolog lulusan Universitas Gadjah Mada, Erna Yulianti, S.Psi., M.Psi., Psikolog, mengingatkan orangtua agar tidak melakukan self-diagnose atau mendiagnosis anak sendiri hanya berdasarkan informasi yang diperoleh dari internet dan media sosial.


"Jika terlalu banyak mendapatkan informasi, dikhawatirkan informasi-informasi yang kita serap dengan sendirinya itu menjadi self-diagnose. Jika dibiarkan, itu akan berbahaya bagi kita," ujar Erna dikutip dari ANTARA, Selasa (11/8/2026).


Informasi di Medsos Perlu Diverifikasi

Erna menjelaskan, informasi mengenai kesehatan dan perkembangan anak saat ini tidak hanya tersedia melalui situs internet, tetapi juga semakin mudah menyebar melalui media sosial.


Kehadiran influencer dan pembuat konten membuat berbagai informasi kesehatan maupun psikologi lebih mudah diterima masyarakat. Di sisi lain, kondisi tersebut juga dapat memengaruhi cara orangtua memahami perilaku dan perkembangan anak.


Karena itu, orangtua perlu lebih kritis ketika menemukan konten mengenai neurodivergensi.


Sebelum mempercayai atau menerapkan informasi tersebut, orangtua disarankan memeriksa siapa yang menyampaikannya, apakah memiliki kompetensi di bidang yang dibahas, serta dari mana sumber informasi tersebut berasal.


"Misalnya dia membahas suatu topik yang sangat sensitif, apakah dia sudah dalam bidangnya, kemudian dari mana dia mengutip sumber itu?" kata Erna.


Menurutnya, konten yang kredibel umumnya mencantumkan referensi atau sumber informasi yang digunakan. Pengecekan tersebut penting agar orangtua dapat membedakan informasi yang memiliki dasar ilmiah dengan informasi yang belum tentu dapat dipertanggungjawabkan.


Perilaku Anak Tidak Selalu Berarti Gangguan

Erna menegaskan bahwa karakteristik atau perilaku tertentu pada anak tidak selalu menunjukkan bahwa anak tersebut mengalami kondisi neurodivergen.


Misalnya, seorang anak yang sulit berkonsentrasi, aktif, memiliki pola komunikasi tertentu, atau menunjukkan perilaku yang dianggap berbeda tidak dapat langsung disimpulkan mengalami ADHD, autisme, maupun kondisi lainnya hanya berdasarkan kesamaan gejala yang ditemukan di media sosial.


Penilaian terhadap tumbuh kembang anak perlu dilakukan secara menyeluruh dengan mempertimbangkan berbagai aspek.


Karena itu, orangtua sebaiknya tidak terburu-buru memberikan label kepada anak berdasarkan satu atau beberapa perilaku yang mereka lihat.


Orangtua Tetap Perlu Peka

Meski mengingatkan bahaya self-diagnose, bukan berarti orangtua harus mengabaikan perubahan perilaku atau perkembangan anak.


Informasi dari media sosial dapat digunakan sebagai pengetahuan awal untuk membantu orangtua lebih peka terhadap perkembangan anak. Namun, informasi tersebut sebaiknya tidak dijadikan dasar untuk menetapkan diagnosis.


Jika orangtua memiliki kekhawatiran mengenai tumbuh kembang atau perilaku anak, langkah yang lebih tepat adalah berkonsultasi dengan tenaga profesional yang kompeten sehingga kondisi anak dapat dinilai secara menyeluruh.


Dengan demikian, orangtua dapat memperoleh pemahaman yang lebih tepat sekaligus menghindari pemberian label yang justru berpotensi memengaruhi cara memandang dan memperlakukan anak.


Intinya, media sosial boleh menjadi sumber informasi, tetapi bukan pengganti proses asesmen profesional. Orangtua perlu tetap kritis, memeriksa sumber informasi, dan tidak terburu-buru mendiagnosis kondisi anak sendiri.*


Baca Juga 

https://www.potretkita.net/2026/08/920-sekolah-di-sumbar-direvitalisasi.html


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Bottom Ad

Responsive Ads Here