Jaga 3 Faktor Kesehatan Sejak Paruh Baya, Hidup Tanpa Demensia Bisa Lebih Lama hingga 13 Tahun - PotretKita Online

Breaking

Home Top Ad

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Rabu, 12 Agustus 2026

Jaga 3 Faktor Kesehatan Sejak Paruh Baya, Hidup Tanpa Demensia Bisa Lebih Lama hingga 13 Tahun

 


JAKARTAKondisi kesehatan pada usia paruh baya ternyata dapat berkaitan dengan kesehatan otak hingga puluhan tahun kemudian. Sebuah studi menemukan bahwa orang berusia 45–65 tahun yang tidak memiliki tiga faktor risiko, yakni tekanan darah tinggi, diabetes tipe 2, dan kebiasaan merokok, rata-rata dapat menjalani hidup tanpa demensia hampir 13 tahun lebih lama dibandingkan mereka yang memiliki ketiga faktor tersebut.


Penelitian yang dipimpin ilmuwan dari NYU Langone Health dan diterbitkan dalam jurnal Neurology Open Access itu melibatkan 12.409 orang dengan usia rata-rata 56 tahun. Para peserta kemudian dipantau selama sekitar 26 tahun.


Ketika penelitian dimulai, tidak ada peserta yang mengalami demensia. Selama masa pemantauan, sebanyak 3.008 peserta mengalami demensia, sementara 5.238 peserta meninggal dunia tanpa pernah didiagnosis mengalami kondisi tersebut.


Semakin Sedikit Faktor Risiko, Semakin Lama Bebas Demensia

Para peneliti berfokus pada tiga faktor kesehatan yang umum ditemukan pada usia paruh baya, yaitu tekanan darah tinggi, diabetes tipe 2, dan kebiasaan merokok.


Hasil penelitian menunjukkan pola yang cukup jelas. Semakin sedikit faktor risiko yang dimiliki seseorang, semakin panjang pula rata-rata waktu yang dijalani tanpa demensia.


Rata-rata waktu hidup tanpa demensia berdasarkan jumlah faktor risiko adalah:

  • Tanpa faktor risiko: sekitar 30,1 tahun.
  • Satu faktor risiko: sekitar 26,3 tahun.
  • Dua faktor risiko: sekitar 21 tahun.
  • Tiga faktor risiko: sekitar 17 tahun.


Dengan demikian, terdapat selisih sekitar 13 tahun antara kelompok yang tidak memiliki ketiga faktor risiko dan kelompok yang memiliki semuanya.


"Temuan kami menunjukkan bahwa masyarakat perlu secara aktif menghindari faktor-faktor ini di usia paruh baya sebagai strategi untuk menjaga kesehatan otak selama lebih dari satu dekade," ujar Dr. Josef Coresh, salah satu penulis studi sekaligus Direktur Optimal Aging Institute di NYU Langone Health, dikutip dari The Guardian, Rabu (5/8/2026).


Kesehatan Jantung Berkaitan dengan Kesehatan Otak

Tekanan darah tinggi, diabetes, dan kebiasaan merokok tidak hanya berdampak pada kesehatan jantung. Ketiga faktor tersebut juga dapat memengaruhi pembuluh darah yang membawa darah dan oksigen ke otak.


Karena itu, kesehatan jantung dan pembuluh darah sering dikaitkan dengan kesehatan otak.


Dr. Jacqui Hanley dari Alzheimer's Research UK mengatakan menjaga kesehatan jantung juga menjadi bagian penting dalam mempertahankan fungsi otak.


"Meski tidak ada yang bisa menjamin cara pencegahan demensia, studi ini menunjukkan faktor risiko dari buruknya kesehatan jantung juga menambah risiko penurunan kognitif dan demensia," kata Hanley, dilansir dari Sky News, Jumat (7/8/2026).


Profesor Ian Maidment dari Aston University juga menyampaikan prinsip serupa. Menurutnya, hal yang baik bagi jantung pada umumnya juga baik bagi otak.


Menjaga tekanan darah dan kadar gula darah tetap terkendali serta menghindari rokok dapat membantu mempertahankan kesehatan pembuluh darah. Dalam jangka panjang, kondisi tersebut juga berkaitan dengan risiko gangguan kognitif yang lebih rendah.


Perempuan Tercatat Lebih Lama Hidup Tanpa Demensia

Peneliti juga menemukan adanya perbedaan berdasarkan jenis kelamin dan kelompok ras.


Terlepas dari jumlah faktor risiko yang dimiliki, peserta perempuan rata-rata menjalani waktu yang lebih panjang tanpa demensia dibandingkan peserta laki-laki.


Dalam populasi yang diteliti, peserta kulit putih juga tercatat memiliki masa hidup tanpa demensia yang lebih panjang dibandingkan peserta kulit hitam.


Namun, temuan tersebut perlu dibaca secara hati-hati. Perbedaan risiko demensia dapat dipengaruhi berbagai faktor, termasuk kondisi kesehatan, lingkungan, faktor sosial, serta akses terhadap layanan kesehatan.


Bukan Berarti Demensia Pasti Bisa Dicegah

Meski menunjukkan hubungan yang kuat, penelitian ini tidak membuktikan bahwa menghindari tekanan darah tinggi, diabetes, dan rokok secara langsung akan menunda demensia tepat 13 tahun pada setiap orang.


Studi tersebut bersifat observasional. Artinya, peneliti menemukan hubungan antara jumlah faktor risiko pada usia paruh baya dan lamanya seseorang hidup tanpa demensia, tetapi belum dapat memastikan hubungan sebab-akibat secara langsung.


Demensia sendiri dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk usia, genetik, kondisi kesehatan, dan gaya hidup.


Karena itu, angka 13 tahun dalam penelitian tersebut sebaiknya dipahami sebagai perbedaan rata-rata yang ditemukan pada populasi penelitian, bukan sebagai jaminan bagi setiap individu.


Meski demikian, hasil penelitian ini menambah bukti mengenai pentingnya menjaga kesehatan sejak usia paruh baya. Mengendalikan tekanan darah dan gula darah serta tidak merokok bukan hanya penting untuk kesehatan jantung, tetapi juga berpotensi membantu menjaga fungsi otak dalam jangka panjang.


Dengan menjaga faktor-faktor kesehatan tersebut sejak lebih dini, seseorang dapat meningkatkan peluang untuk mempertahankan kualitas kesehatan dan fungsi kognitif hingga usia lanjut.*


Baca Juga 

https://www.potretkita.net/2026/08/tukang-cukur-di-bogor-sempat-takut-usai.html


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Bottom Ad

Responsive Ads Here