MALANG – Upaya pemadaman kebakaran hutan di kawasan Gunung Bromo, Jawa Timur, turut memanfaatkan teknologi drone water sprayer. Drone tipe DJI Agras T100 milik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Timur dikerahkan untuk menjangkau titik-titik api yang sulit diakses petugas melalui jalur darat.
Drone berukuran besar tersebut digunakan untuk menyemprotkan air yang telah dicampur cairan pemadam ke sejumlah lokasi kebakaran di kawasan lereng Bromo.
Hingga Jumat (7/8/2026), drone telah dioperasikan selama dua hari. Dalam periode tersebut, tercatat hampir 25 kali penerbangan atau sorti dengan total penggunaan air mendekati 4.000 liter.
Pilot drone sekaligus staf Pusdalops BPBD Jawa Timur, Tangguh Edo, mengatakan penerbangan drone water sprayer tidak dilakukan secara langsung menuju titik api. Tim terlebih dahulu melakukan pemantauan menggunakan drone berukuran lebih kecil.
“Karena kita keterbatasan untuk baterai, jadi kita observasi dulu. Observasi pakai drone kecil baru kita tahu titik koordinatnya, kita tahu langsung tepat sasaran,” kata Edo, Sabtu (8/8/2026).
Diawali Observasi dari Udara
Penggunaan drone kecil menjadi tahap awal untuk mengetahui kondisi medan, menentukan lokasi api, serta memastikan koordinat sasaran. Setelah titik api teridentifikasi, drone water sprayer kemudian diterbangkan menuju lokasi yang telah ditentukan.
Dalam pengoperasiannya, tim menghadapi sejumlah kendala, terutama angin kencang yang biasanya terjadi menjelang sore. Tantangan semakin besar karena drone harus membawa muatan air dalam jumlah besar dan diterbangkan di kawasan dengan medan serta ketinggian ekstrem.
“Apalagi untuk drone itu sendiri kan dioperasikan di area-area yang lebih tinggi yang tidak terjangkau oleh pemadam yang dari jalur darat,” ujar Edo.
Pengoperasian drone melibatkan enam personel dengan tugas berbeda. Selain pilot, terdapat personel yang bertugas mengisi air, mengisi ulang baterai, serta melakukan observasi menggunakan drone kecil.
Keberadaan personel tambahan, termasuk relawan, dibutuhkan untuk mempercepat proses pengisian ulang tangki air dan baterai sehingga drone dapat segera kembali diterbangkan setelah menyelesaikan satu sorti.
Air Dicampur Cairan Pemadam
Air yang digunakan untuk pemadaman tidak disemprotkan secara langsung. Tim mencampurkannya dengan cairan pemadam yang disebut sebagai “obat pemikat api”.
Menurut Edo, cairan tersebut memiliki bentuk menyerupai sabun ketika dicampurkan dengan air dan digunakan untuk meningkatkan efektivitas proses pemadaman.
“Tujuannya supaya konsentratnya tinggi dan bisa memadamkan secara lebih cepat,” katanya.
Cairan tersebut juga digunakan untuk membasahi area yang belum terbakar. Langkah ini dilakukan sebagai upaya membuat sekat basah sehingga api tidak mudah merambat ke wilayah lain.
“Jadi ada pencegahan dulu sebelum terbakar, istilahnya dibasahi, dilakukan pembasahan,” ujar Edo.
Terbang Hingga Hampir 200 Meter
Secara spesifikasi, DJI Agras T100 dapat terbang sekitar 15 hingga 20 menit. Namun, durasi penerbangan menjadi lebih pendek ketika drone membawa muatan air penuh dan harus mencapai ketinggian tertentu.
“Klaimnya produk baterai ini bisa tahan sampai 20 menit. Cuma karena kita full load, jadi bisa cuma 10 menitan,” kata Edo.
Dalam operasi pemadaman di Bromo, drone dapat diterbangkan hingga hampir 200 meter untuk mencapai titik api di lereng. Pada ketinggian tersebut, pilot harus menggunakan tenaga penuh agar drone mampu mempertahankan posisinya.
“Karena kita naiknya cukup tinggi, sekitar hampir 200 meter, jadi harus full power untuk throttle-nya drone,” ujarnya.
Meski menghadapi kendala angin dan cuaca, penggunaan drone water sprayer dinilai membantu proses pemadaman, terutama untuk menjangkau kawasan yang sulit didatangi petugas melalui jalur darat.
“Penggunaan drone water sprayer ini cukup efektif. Cuma karena terkendala angin dan cuaca itu, akhirnya mungkin kita harus berulang kali untuk memastikan api padam,” pungkas Edo.*
Baca Juga
https://www.potretkita.net/2026/08/perempuan-berhaji-tanpa-mahram-apakah.html


.gif)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar