Anak-anak Bisa Mengalami Batu Ginjal, Kenali Tanda yang Perlu Diwaspadai - PotretKita Online

Breaking

Home Top Ad

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Senin, 24 Agustus 2026

Anak-anak Bisa Mengalami Batu Ginjal, Kenali Tanda yang Perlu Diwaspadai

 


JAKARTABatu ginjal selama ini lebih sering dianggap sebagai penyakit orang dewasa. Namun, kondisi tersebut juga dapat dialami anak-anak dan remaja. Bahkan, kasus batu ginjal pada kelompok usia tersebut dilaporkan mengalami peningkatan dalam beberapa dekade terakhir.


Ahli urologi onkologi Dr Arun Kumar Balakrishnan mengatakan, peningkatan kasus batu ginjal pada anak tidak hanya berkaitan dengan semakin baiknya kemampuan diagnosis. Komposisi batu yang ditemukan pada anak, terutama batu kalsium oksalat, juga semakin menyerupai kasus pada orang dewasa.


"Selama dua dekade terakhir, kejadian batu ginjal pada anak-anak telah meningkat secara signifikan di seluruh dunia," ujar Balakrishnan, dikutip dari Hindustan Times.


Menurutnya, perubahan pola hidup dan pola makan menjadi sejumlah faktor yang dapat meningkatkan risiko batu ginjal pada anak.

1. Kurang Minum

Kurangnya asupan cairan menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan.


Sebagian anak tidak minum air dalam jumlah cukup dan lebih sering mengonsumsi minuman manis, minuman ringan, maupun jus kemasan.


Dalam kondisi cuaca panas, kekurangan cairan dapat membuat urine menjadi lebih pekat. Kondisi tersebut dapat mempermudah terbentuknya kristal yang kemudian berkembang menjadi batu ginjal.


Karena itu, orang tua perlu membiasakan anak minum air secara teratur, terutama ketika anak aktif bermain atau banyak berkeringat.


2. Pola Makan Kurang Sehat

Perubahan pola makan juga dapat berkontribusi terhadap meningkatnya risiko batu ginjal.


Kebiasaan mengonsumsi makanan olahan, makanan cepat saji, keripik kemasan, serta makanan tinggi natrium dapat meningkatkan pengeluaran kalsium melalui urine.


Konsumsi berlebihan makanan cepat saji dan minuman tinggi fruktosa juga dapat meningkatkan kadar kalsium, oksalat, dan asam urat dalam urine.


Di sisi lain, asupan kalsium yang terlalu rendah justru dapat meningkatkan penyerapan oksalat dari saluran pencernaan sehingga berpotensi meningkatkan risiko pembentukan batu kalsium oksalat.


3. Kurang Aktif Bergerak

Gaya hidup yang semakin banyak menghabiskan waktu di depan layar juga menjadi perhatian.


Kurangnya aktivitas fisik, pola makan tinggi kalori, dan peningkatan obesitas pada anak dapat menyebabkan perubahan metabolisme yang berkaitan dengan risiko batu ginjal.


Karena itu, anak tetap perlu mendapatkan aktivitas fisik yang sesuai dengan usia dan kondisinya, selain menerapkan pola makan seimbang.


4. Faktor Genetik

Riwayat keluarga juga dapat berperan. Anak yang memiliki anggota keluarga dengan riwayat batu ginjal dapat memiliki risiko lebih tinggi mengalami kondisi serupa.


Selain itu, beberapa gangguan metabolisme bawaan dapat membuat batu ginjal lebih mudah muncul sejak usia dini atau berulang.


Menurut Balakrishnan, faktor gaya hidup dan kerentanan genetik dapat bekerja secara bersamaan dalam meningkatkan risiko.


Tanda Batu Ginjal pada Anak

Mengenali gejala sejak dini penting karena anak, terutama yang masih kecil, belum tentu dapat menjelaskan keluhan yang dirasakannya dengan jelas.


Beberapa tanda yang perlu diperhatikan antara lain:

  • Nyeri perut atau pinggang yang berulang.
  • Rasa terbakar atau sakit saat buang air kecil.
  • Urine mengandung darah.
  • Infeksi saluran kemih yang berulang.
  • Muntah yang disertai rasa sakit.
  • Anak menjadi lebih mudah rewel atau marah tanpa penyebab yang jelas.


Gejala tersebut tidak selalu berarti anak mengalami batu ginjal karena dapat pula muncul pada kondisi lain. Namun, apabila keluhan berulang atau disertai gejala saluran kemih, orang tua sebaiknya membawa anak untuk mendapatkan pemeriksaan medis.


Bisa Menimbulkan Komplikasi


Batu ginjal pada anak tidak sebaiknya dianggap sebagai keluhan sementara. Jika tidak ditangani, kondisi tersebut dapat berulang dan berpotensi menimbulkan komplikasi.


Balakrishnan memperingatkan bahwa batu ginjal yang muncul sejak usia dini dapat meningkatkan risiko kekambuhan dalam jangka panjang. Kondisi ini juga dapat berkaitan dengan infeksi saluran kemih berulang, penyumbatan saluran kemih, kerusakan ginjal, hingga penyakit ginjal kronis.


Karena itu, pencegahan dapat dimulai dari kebiasaan sederhana, seperti memastikan anak mendapatkan cukup cairan, menerapkan pola makan seimbang, membatasi makanan tinggi garam dan makanan ultra-proses, serta mendorong anak tetap aktif bergerak.


Jika anak mengalami nyeri berulang, gangguan saat buang air kecil, darah dalam urine, atau infeksi saluran kemih berulang, pemeriksaan oleh tenaga kesehatan diperlukan untuk mengetahui penyebabnya.*


Baca Juga 

https://www.potretkita.net/2026/08/harga-ayam-tembus-rp100-ribu-per-kg.html


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Bottom Ad

Responsive Ads Here