![]() |
| Siswa/dokpri |
PADANG PANJANG ---Selain melakukan pengamatan di lingkungan tempat tinggal. Siswa kelas 9 juga diberi kesempatan mengamati proses belajar di kelas. Pada hari Kamis, tanggal 11 September 2025, saya melakukan pengamatan terhadap perilaku siswa kelas 9H pada saat kegiatan pembelajaran Bahasa Indonesia berlangsung. Pengamatan ini dilakukan secara langsung di dalam kelas dengan memperhatikan situasi, kondisi, serta sikap siswa selama proses belajar mengajar berlangsung.
Tujuan pengamatan ini adalah untuk mengetahui bagaimana perilaku siswa kelas 9H selama pembelajaran, baik yang menunjukkan perilaku positif maupun perilaku yang kurang baik, sehingga hasilnya dapat dijadikan bahan evaluasi untuk meningkatkan kedisiplinan dan kualitas pembelajaran di kelas tersebut. Pengamatan dilakukan secara sistematis dengan cara mencatat setiap kejadian penting yang terjadi di dalam kelas, termasuk respons siswa terhadap instruksi guru, interaksi antarsiswa, serta situasi umum yang memengaruhi suasana belajar.
Perilaku siswa di dalam kelas memiliki peranan penting dalam menciptakan suasana belajar yang kondusif. Suasana yang tertib dan penuh perhatian akan membantu guru dalam menyampaikan materi secara efektif. Sebaliknya, perilaku yang kurang baik dapat menghambat jalannya pembelajaran dan mempengaruhi konsentrasi siswa lainnya. Oleh karena itu, pengamatan terhadap perilaku siswa menjadi hal yang penting untuk dilakukan guna mengetahui kondisi sebenarnya di dalam kelas. Melalui pengamatan ini, dapat diketahui aspek-aspek apa saja yang sudah berjalan dengan baik serta bagian mana yang masih memerlukan perbaikan agar proses pembelajaran dapat berlangsung secara optimal.
Kelas 9H terdiri atas 31 siswa yang seharusnya mengikuti pembelajaran pada hari tersebut. Namun, berdasarkan pengamatan yang saya lakukan, hanya 19 siswa yang hadir di dalam kelas ketika guru memulai pelajaran. Sebanyak 12 siswa lainnya tidak berada di kelas karena terlalu lama berganti pakaian olahraga setelah jam pelajaran sebelumnya. Keterlambatan tersebut menyebabkan mereka tidak mengikuti pembelajaran tepat waktu dan dianggap tidak disiplin. Keadaan ini menunjukkan bahwa masih terdapat siswa yang kurang memiliki kesadaran akan pentingnya ketepatan waktu dalam mengikuti kegiatan belajar mengajar. Keterlambatan masuk kelas tidak hanya berdampak pada siswa yang bersangkutan, tetapi juga dapat mengganggu konsentrasi siswa lain ketika mereka masuk secara bersamaan saat pelajaran telah dimulai.
Ketika guru memasuki kelas, sebagian siswa langsung kembali ke tempat duduk masing-masing dan mempersiapkan buku pelajaran. Mereka menunjukkan sikap hormat dengan memperhatikan guru yang mulai membuka pelajaran. Beberapa siswa terlihat sigap mengambil buku dan alat tulis, lalu bersiap untuk menerima materi. Hal ini menunjukkan adanya kesadaran dan tanggung jawab terhadap kewajiban sebagai peserta didik. Suasana kelas pada awal pembelajaran terlihat cukup tertib dan kondusif.
Guru membuka pelajaran dengan memberikan salam, memeriksa kehadiran, serta mengingatkan kembali materi yang telah dipelajari pada pertemuan sebelumnya. Beberapa siswa mampu menjawab pertanyaan pengulangan materi dengan cukup baik, menandakan bahwa mereka masih mengingat dan memahami pembahasan sebelumnya.
Selama proses pembelajaran berlangsung, terlihat bahwa sebagian siswa mampu mengikuti pelajaran dengan baik. Mereka memperhatikan penjelasan guru, mencatat hal-hal penting, serta merespons pertanyaan yang diajukan. Ketika guru memberikan kesempatan untuk bertanya atau menjawab pertanyaan, beberapa siswa mengangkat tangan dan berpartisipasi secara aktif. Keaktifan tersebut menunjukkan adanya minat dan kesungguhan dalam memahami materi yang diajarkan. Interaksi antara guru dan siswa pada awal pembelajaran berjalan dengan cukup baik sehingga tercipta komunikasi dua arah yang positif. Guru juga memberikan contoh-contoh teks dan meminta siswa untuk menganalisis unsur-unsurnya secara bersama-sama.
Guru berusaha menciptakan suasana belajar yang interaktif dengan mengajak siswa membaca dan memahami materi secara bersama-sama. Beberapa siswa tampak antusias ketika diminta untuk membacakan contoh teks di depan kelas. Mereka membaca dengan suara yang cukup jelas dan menunjukkan rasa percaya diri. Hal ini menandakan bahwa sebenarnya terdapat potensi yang baik dalam diri siswa kelas 9H, terutama dalam hal keberanian dan partisipasi. Selain itu, guru juga memberikan kesempatan kepada siswa untuk berdiskusi secara singkat dengan teman sebangku mengenai isi teks yang dibahas. Dalam kegiatan tersebut, terlihat adanya kerja sama yang cukup baik antara beberapa pasangan siswa.
Namun, di sisi lain, terdapat pula perilaku siswa yang kurang baik dan dapat mengganggu jalannya pembelajaran. Seorang siswa terlihat mengerjakan tugas mata pelajaran lain ketika guru sedang menjelaskan materi Bahasa Indonesia. Tindakan tersebut menunjukkan kurangnya perhatian terhadap pelajaran yang sedang berlangsung. Perilaku ini tentu dapat berdampak pada pemahaman siswa terhadap materi yang diajarkan karena fokusnya terbagi pada tugas lain. Selain itu, tindakan tersebut juga dapat memberikan contoh yang kurang baik bagi siswa lainnya.
Selain itu, terdapat seorang siswa yang berbicara dengan temannya saat guru sedang menerangkan materi. Percakapan tersebut cukup mengganggu karena dilakukan ketika suasana kelas seharusnya tenang. Guru kemudian menegur siswa tersebut agar kembali fokus pada pelajaran. Namun, setelah teguran diberikan, justru muncul dua siswa lain yang asyik bercerita di belakang kelas. Keadaan ini menyebabkan suasana kelas menjadi kurang kondusif dan perhatian siswa lain menjadi terganggu. Guru harus beberapa kali menghentikan penjelasan untuk mengingatkan siswa agar tetap tenang dan memperhatikan pelajaran.
Beberapa siswa juga terlihat mulai menunjukkan tanda-tanda kejenuhan ketika pembelajaran berlangsung cukup lama. Ada yang menyandarkan kepala di meja, memainkan alat tulis, atau menoleh ke arah luar kelas. Walaupun tidak menimbulkan keributan besar, perilaku tersebut tetap menunjukkan kurangnya konsentrasi dalam mengikuti pelajaran. Kondisi ini mungkin dipengaruhi oleh rasa lelah setelah pelajaran olahraga sebelumnya atau kurangnya minat terhadap materi yang sedang dipelajari. Faktor kondisi fisik seperti kelelahan dapat memengaruhi kesiapan siswa dalam menerima pelajaran.
Kehadiran siswa yang tidak lengkap juga memengaruhi dinamika kelas. Dengan jumlah siswa yang hanya 19 orang dari total 31 siswa, suasana kelas memang terasa lebih lengang. Namun, ketidakhadiran 12 siswa tetap menjadi masalah karena menunjukkan kurangnya kedisiplinan dalam memanfaatkan waktu. Jika kebiasaan ini terus dibiarkan, maka dapat menjadi budaya yang kurang baik di kelas tersebut. Oleh karena itu, diperlukan kesadaran dari siswa untuk lebih menghargai waktu dan mengikuti pelajaran dengan penuh tanggung jawab. Guru juga dapat bekerja sama dengan wali kelas untuk memberikan pembinaan kepada siswa yang sering terlambat masuk kelas.
Dari segi interaksi sosial, hubungan antar siswa di kelas 9H terlihat cukup akrab. Mereka saling berbicara dan bercanda sebelum pelajaran dimulai. Keakraban ini merupakan hal yang positif karena menunjukkan adanya hubungan pertemanan yang baik. Akan tetapi, keakraban tersebut perlu dikendalikan agar tidak mengganggu jalannya pembelajaran. Siswa harus mampu membedakan waktu untuk bercanda dan waktu untuk belajar dengan serius. Kemampuan mengatur diri menjadi salah satu aspek penting dalam pembentukan karakter siswa.
Perilaku siswa yang beragam tentu dipengaruhi oleh berbagai faktor. Lingkungan keluarga memiliki peran penting dalam membentuk karakter siswa. Keluarga merupakan tempat pertama bagi anak untuk belajar mengenai nilai-nilai kedisiplinan, tanggung jawab, dan sopan santun. Siswa yang terbiasa dididik dengan baik di rumah cenderung menunjukkan sikap yang lebih tertib di sekolah. Sebaliknya, kurangnya pengawasan dan pembiasaan di rumah dapat berdampak pada sikap siswa di lingkungan sekolah. Orang tua yang memberikan perhatian terhadap kegiatan belajar anak biasanya mampu mendorong anak untuk lebih serius dalam mengikuti pelajaran.
Selain lingkungan keluarga, lingkungan sekolah juga sangat berpengaruh dalam pembentukan perilaku siswa. Sekolah bukan hanya tempat untuk memperoleh ilmu pengetahuan, tetapi juga tempat untuk membentuk karakter. Peraturan yang diterapkan sekolah, ketegasan guru, serta budaya disiplin yang dibangun akan memengaruhi kebiasaan siswa sehari-hari. Jika aturan ditegakkan secara konsisten, maka siswa akan lebih terbiasa untuk bersikap tertib dan bertanggung jawab. Sebaliknya, jika peraturan sering diabaikan, maka siswa cenderung menganggap pelanggaran sebagai hal yang biasa.
Lingkungan pertemanan juga turut memengaruhi perilaku siswa. Siswa yang bergaul dengan teman-teman yang rajin dan disiplin cenderung terdorong untuk memiliki sikap yang sama. Sebaliknya, jika berada dalam lingkungan yang kurang serius dalam belajar, siswa dapat terpengaruh untuk bersikap kurang disiplin. Oleh karena itu, pengaruh teman sebaya menjadi salah satu faktor penting dalam membentuk perilaku siswa di kelas. Penting bagi siswa untuk memilih lingkungan pertemanan yang memberikan dampak positif bagi perkembangan diri.
Guru dalam pembelajaran tersebut juga telah berusaha memberikan arahan dan teguran dengan cara yang mendidik. Teguran diberikan secara tegas namun tetap menggunakan bahasa yang sopan. Respons siswa terhadap teguran tersebut beragam. Ada yang langsung memperbaiki sikapnya, tetapi ada pula yang hanya diam sesaat kemudian kembali berbicara pelan dengan temannya. Hal ini menunjukkan bahwa pembentukan sikap disiplin memerlukan proses dan pembiasaan yang berkelanjutan. Guru perlu terus memberikan bimbingan agar siswa memahami pentingnya menjaga ketertiban selama pembelajaran berlangsung.
Jika dilihat secara keseluruhan, kelas 9H sebenarnya memiliki potensi untuk berkembang menjadi kelas yang lebih tertib dan berprestasi. Hal ini terlihat dari adanya siswa-siswa yang aktif, berani bertanya, dan mampu menjawab pertanyaan dengan baik. Potensi tersebut perlu didukung dengan kerja sama seluruh siswa agar tercipta suasana belajar yang lebih kondusif. Siswa yang telah menunjukkan perilaku baik dapat menjadi contoh bagi teman-temannya. Dengan adanya kerja sama antara guru dan siswa, suasana kelas yang lebih tertib dapat diwujudkan secara bertahap.
Upaya peningkatan perilaku positif dapat dilakukan melalui pemberian motivasi dan penghargaan. Guru dapat memberikan apresiasi kepada siswa yang disiplin dan aktif dalam pembelajaran. Penghargaan sederhana seperti pujian dapat menjadi dorongan bagi siswa untuk mempertahankan perilaku baiknya. Selain itu, penanaman kesadaran bahwa belajar merupakan kebutuhan untuk masa depan juga perlu terus dilakukan agar siswa lebih menghargai proses pembelajaran. Penyampaian motivasi secara berkala dapat membantu menumbuhkan semangat belajar dalam diri siswa.
Selain motivasi, penerapan aturan yang konsisten juga sangat penting. Siswa perlu memahami konsekuensi dari setiap pelanggaran yang dilakukan. Dengan adanya konsekuensi yang jelas dan diterapkan secara adil, siswa akan belajar untuk bertanggung jawab atas tindakan mereka. Kedisiplinan bukanlah sesuatu yang dapat terbentuk secara instan, melainkan melalui proses yang panjang dan berkesinambungan. Oleh karena itu, peran guru, wali kelas, dan orang tua sangat diperlukan dalam membimbing siswa agar memiliki kebiasaan belajar yang baik.
Sebagai tindak lanjut dari hasil pengamatan ini, diperlukan evaluasi rutin terhadap kedisiplinan dan partisipasi siswa dalam pembelajaran. Guru dapat melakukan refleksi di akhir pelajaran dengan menanyakan kembali kepada siswa mengenai materi yang telah dipelajari serta meminta mereka menyampaikan kesan terhadap proses pembelajaran hari itu. Cara ini dapat membantu siswa untuk lebih menyadari peran dan tanggung jawabnya di dalam kelas. Selain itu, komunikasi antara guru dan orang tua juga dapat ditingkatkan agar pembinaan karakter siswa dapat dilakukan secara selaras antara sekolah dan rumah.
Berdasarkan hasil pengamatan yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa perilaku siswa kelas 9H terdiri atas perilaku baik dan perilaku yang masih perlu diperbaiki. Sebagian siswa telah menunjukkan sikap disiplin, sopan, serta aktif dalam mengikuti pembelajaran. Namun, masih terdapat siswa yang kurang fokus, berbicara saat guru menjelaskan, serta tidak masuk kelas tepat waktu. Oleh karena itu, diperlukan kerja sama antara siswa, guru, dan orang tua untuk menumbuhkan sikap positif dan meningkatkan kedisiplinan.
Dengan adanya evaluasi dari hasil pengamatan ini, diharapkan perilaku siswa kelas 9H dapat menjadi lebih baik di masa yang akan datang. Suasana kelas yang tertib, disiplin, dan saling menghargai akan menciptakan proses pembelajaran yang efektif serta mendukung tercapainya tujuan pendidikan secara optimal. Melalui kesadaran dan kerja sama semua pihak, kelas 9H diharapkan dapat berkembang menjadi kelas yang lebih tertib, bertanggung jawab, dan berprestasi, baik dalam bidang akademik maupun dalam pembentukan karakter yang positif.*
Tempat pengamatan: Kelas 9H, Waktu pengamatan: 11 September 2025, Objek yang diamati: Perilaku siswa kelas 9H, Orang yang mengamati: Fathia Alkhaira*
Catatan Guru Mapel:
Pengamatan ini dilakukan untuk menumbuhkan empati dan simpati di dalam diri siswa agar tekun belajar dan semangat meraih cita-cita agar siswa bisa bertahan dalam perilaku baik kepada guru dan teman di mana pun mereka mengikuti pendidikan.*
Baca Juga
https://www.potretkita.net/2026/03/safari-ramadan-di-surau-kubang-eka.html


.gif)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar