Ada Apa dengan Keluarga Kurang Mampu di Lingkungan Rumah Kita? - PotretKita Online

Breaking

Home Top Ad

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Minggu, 08 Maret 2026

Ada Apa dengan Keluarga Kurang Mampu di Lingkungan Rumah Kita?

 

Riau.com


PADANG PANJANG --- Pada hari Minggu,  tanggal 15 Februari 2026, saya melakukan kegiatan pengamatan terhadap sebuah keluarga yang tinggal di lingkungan sekitar rumah saya. Pengamatan ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui kondisi kehidupan keluarga yang tergolong kurang mampu serta memahami bagaimana mereka menjalani kehidupan sehari-hari.


Pengamatan dilakukan dengan cara memperhatikan keadaan rumah, kegiatan yang dilakukan oleh anggota keluarga, kondisi ekonomi, serta hubungan yang terjalin antara ibu dan anak-anak dalam keluarga tersebut. Melalui pengamatan ini diharapkan dapat diperoleh gambaran yang lebih jelas mengenai kehidupan keluarga tersebut dalam menjalani aktivitas sehari-hari.


Keluarga yang saya amati merupakan keluarga dengan orang tua tunggal. Dalam keluarga tersebut hanya terdapat seorang ibu yang menjadi kepala keluarga serta dua orang anak yang masih berusia sekolah. Ibu tersebut harus menjalankan dua peran sekaligus, yaitu sebagai pencari nafkah utama dan sebagai orang yang mengurus seluruh kebutuhan rumah tangga. Kondisi ini tentu tidak mudah karena semua tanggung jawab keluarga berada di pundaknya seorang diri. Meskipun demikian, ibu tersebut tetap berusaha menjalani kehidupannya dengan penuh kesabaran dan tanggung jawab demi masa depan anak-anaknya.


Ibu dalam keluarga tersebut bekerja sebagai seorang pedagang kecil. Setiap hari ia berjualan makanan ringan dan beberapa kebutuhan sederhana di depan rumahnya. Barang yang dijual biasanya berupa gorengan seperti tempe goreng, tahu goreng, pisang goreng, serta beberapa jajanan kecil yang sering dibeli oleh anak-anak di lingkungan sekitar. Selain itu, ia juga menjual minuman kemasan dan permen yang biasanya diminati oleh anak-anak yang pulang sekolah. Usaha kecil tersebut menjadi sumber penghasilan utama bagi keluarga mereka.


Setiap pagi ibu tersebut bangun lebih awal untuk menyiapkan dagangan yang akan dijual pada hari itu. Ia biasanya mulai memasak gorengan sejak pagi hari agar dagangannya sudah siap ketika pembeli mulai berdatangan. Setelah selesai memasak, ia menata dagangan tersebut di atas meja kecil yang diletakkan di depan rumah. Walaupun usaha yang dijalankan sangat sederhana, ibu tersebut tetap menjalankannya dengan tekun karena dari hasil jualan itulah ia bisa memenuhi kebutuhan keluarganya.


Penghasilan dari berdagang tidak selalu sama setiap hari. Ada hari ketika dagangan cukup laris sehingga ibu mendapatkan penghasilan yang lumayan. Namun ada juga hari ketika dagangan tidak terlalu banyak terjual sehingga penghasilan yang diperoleh sangat sedikit. Keadaan ini membuat kondisi ekonomi keluarga menjadi tidak stabil. Oleh karena itu, ibu selalu berusaha mengatur pengeluaran dengan sebaik mungkin agar uang yang diperoleh tetap cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.


Sebagian besar penghasilan dari berdagang digunakan untuk membeli kebutuhan pokok seperti beras, minyak goreng, telur, dan bahan makanan lainnya. Selain itu, ibu juga harus menyisihkan sebagian uang untuk membeli bahan-bahan yang akan digunakan untuk membuat dagangan pada hari berikutnya. Hal ini membuat uang yang tersisa untuk kebutuhan lain menjadi sangat terbatas. Terkadang mereka harus menunda membeli sesuatu yang sebenarnya dibutuhkan karena keterbatasan keuangan.


Rumah yang ditempati keluarga tersebut tergolong sederhana dan tidak terlalu luas. 

Rumah tersebut berada di sebuah gang kecil yang cukup padat penduduk. Bangunan rumah terlihat cukup tua dan sebagian dindingnya masih menggunakan papan kayu yang sudah mulai lapuk. Sebagian lainnya menggunakan tembok yang terlihat retak di beberapa bagian. Kondisi ini menunjukkan bahwa rumah tersebut sudah lama tidak mengalami perbaikan.


Atap rumah menggunakan seng yang sudah lama digunakan sehingga terlihat berkarat. Ketika hujan turun, terkadang air menetes dari beberapa bagian atap yang bocor. Untuk mengatasi hal tersebut, ibu biasanya meletakkan ember atau wadah lain di bawah titik kebocoran agar air hujan tidak langsung jatuh ke lantai rumah. Hal ini sering terjadi ketika hujan turun cukup lama.


Lantai rumah masih berupa semen sederhana yang sudah terlihat retak di beberapa bagian. Permukaan lantai juga terasa cukup kasar. Walaupun kondisi rumah tidak terlalu baik, ibu tetap berusaha menjaga kebersihan rumah dengan cara menyapu dan merapikan rumah setiap hari agar rumah tetap terlihat rapi.


Rumah tersebut hanya memiliki beberapa ruangan kecil. Di bagian depan terdapat ruang tamu yang juga digunakan sebagai tempat berkumpul keluarga. Di ruangan ini biasanya ibu juga menaruh meja kecil tempat ia berjualan. Di bagian samping terdapat kamar tidur yang digunakan bersama oleh ibu dan kedua anaknya. Di bagian belakang terdapat dapur kecil yang digunakan untuk memasak makanan sehari-hari sekaligus menyiapkan dagangan yang akan dijual.


Perabotan yang dimiliki keluarga tersebut juga sangat sederhana. Mereka hanya memiliki satu tempat tidur, sebuah meja kecil, beberapa kursi plastik, serta lemari kecil untuk menyimpan pakaian. Sebagian besar barang yang ada di rumah tersebut sudah digunakan dalam waktu yang cukup lama sehingga terlihat usang. Meskipun demikian, barang-barang tersebut masih tetap digunakan karena keluarga tersebut belum mampu membeli barang yang baru.


Dalam kehidupan sehari-hari, ibu tersebut memulai aktivitas sejak pagi hari. Ia menyiapkan sarapan sederhana untuk anak-anaknya sebelum mereka berangkat ke sekolah. Setelah itu ia mulai menyiapkan dagangan yang akan dijual di depan rumah. Biasanya ia mulai berjualan sejak pagi hingga sore hari sambil tetap mengawasi anak-anaknya ketika mereka sudah pulang dari sekolah.


Kedua anak dalam keluarga tersebut masih berada pada usia sekolah. Anak pertama duduk di bangku sekolah menengah pertama, sedangkan anak kedua masih berada di sekolah dasar. Walaupun kondisi ekonomi keluarga terbatas, ibu tetap berusaha agar anak-anaknya dapat terus bersekolah. Ia berharap melalui pendidikan anak-anaknya dapat memiliki masa depan yang lebih baik.


Perlengkapan sekolah yang digunakan oleh anak-anak tersebut terlihat sederhana. Tas sekolah yang mereka gunakan sudah cukup lama dan warnanya mulai pudar. Buku-buku pelajaran yang mereka gunakan juga sebagian merupakan buku lama yang masih disimpan dengan baik agar tetap bisa digunakan.


Sepulang dari sekolah, anak-anak biasanya pulang langsung ke rumah. Terkadang mereka membantu ibu menjaga dagangan atau membantu pekerjaan rumah seperti menyapu rumah dan mencuci piring. Namun ada juga waktu ketika mereka bermain dengan teman-teman di sekitar rumah.


Selama melakukan pengamatan, saya juga melihat bahwa hubungan antara ibu dan anak-anak tidak selalu berjalan dengan tenang. Dalam beberapa kesempatan sering terdengar suara keributan dari dalam rumah. Keributan tersebut biasanya terjadi ketika anak-anak saling bertengkar atau ketika mereka tidak menuruti perkataan ibunya.


Ibu yang sudah merasa lelah karena berjualan sejak pagi terkadang menegur anak-anaknya dengan nada yang cukup keras. Anak-anak yang masih dalam masa pertumbuhan juga terkadang membalas dengan sikap yang kurang sabar sehingga suasana rumah menjadi cukup ramai. Pertengkaran tersebut kadang berlangsung cukup lama hingga menimbulkan suara yang keras.


Keributan yang terjadi di rumah tersebut terkadang cukup mengganggu lingkungan sekitar karena suara pertengkaran dapat terdengar hingga ke rumah tetangga. Beberapa tetangga kadang merasa terganggu oleh suara tersebut, terutama jika keributan terjadi pada sore atau malam hari. Namun sebagian tetangga juga memahami bahwa kondisi tersebut terjadi karena tekanan hidup yang dialami oleh keluarga tersebut.


Meskipun sering terjadi pertengkaran kecil, sebenarnya ibu tersebut tetap menyayangi anak-anaknya dan selalu berusaha memberikan yang terbaik bagi mereka. Setelah keributan mereda, biasanya suasana rumah kembali menjadi tenang dan mereka kembali melakukan aktivitas masing-masing.


Di lingkungan sekitar, keluarga tersebut cukup dikenal oleh para tetangga. Banyak tetangga yang memahami kondisi kehidupan mereka. Beberapa di antaranya kadang membantu dengan cara membeli dagangan ibu tersebut agar dagangannya cepat habis. Ada juga yang sesekali memberikan bantuan kecil ketika keluarga tersebut sedang mengalami kesulitan.


Ketika ada kegiatan di lingkungan seperti kerja bakti atau kegiatan sosial lainnya, ibu tersebut tetap berusaha ikut berpartisipasi sesuai dengan kemampuannya. Walaupun tidak selalu dapat memberikan bantuan berupa uang, ia tetap membantu dengan tenaga atau kehadirannya dalam kegiatan tersebut.


Kondisi kehidupan keluarga tersebut juga menunjukkan bahwa perjuangan seorang ibu tunggal dalam memenuhi kebutuhan keluarga bukanlah hal yang mudah. Setiap hari ibu tersebut harus membagi waktunya antara bekerja, mengurus rumah, serta mendidik anak-anaknya. Tanggung jawab yang cukup besar tersebut sering kali membuatnya merasa lelah, baik secara fisik maupun secara emosional. Namun demikian, ia tetap berusaha menjalani semua tanggung jawab tersebut dengan penuh kesabaran.


Dalam beberapa kesempatan, terlihat bahwa ibu tersebut juga berusaha menasihati anak-anaknya agar selalu bersikap baik dan rajin belajar di sekolah. Ia sering mengingatkan bahwa pendidikan sangat penting untuk masa depan mereka. Meskipun kehidupan mereka saat ini penuh keterbatasan, ibu tersebut tetap berharap agar anak-anaknya dapat memiliki kehidupan yang lebih baik ketika mereka dewasa nanti.


Selain itu, anak-anak dalam keluarga tersebut juga perlahan mulai memahami kondisi yang sedang dialami oleh keluarganya. Mereka terkadang membantu ibunya menjaga dagangan atau membantu pekerjaan rumah tangga agar pekerjaan ibunya menjadi lebih ringan. Walaupun masih sering terjadi keributan kecil di dalam rumah, namun hubungan mereka tetap menunjukkan adanya rasa saling membutuhkan dan saling peduli.


Berdasarkan hasil pengamatan yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa keluarga dengan orang tua tunggal yang memiliki keterbatasan ekonomi menghadapi berbagai tantangan dalam kehidupan sehari-hari. Keterbatasan penghasilan membuat mereka harus hidup dengan sangat sederhana dan berhati-hati dalam mengatur kebutuhan keluarga.


Selain itu, tanggung jawab yang harus dijalankan sendirian oleh ibu juga memberikan tekanan tersendiri dalam kehidupan keluarga. Kelelahan dan banyaknya tanggung jawab terkadang menyebabkan terjadinya pertengkaran antara ibu dan anak-anak yang bahkan dapat mengganggu lingkungan sekitar.


Melalui kegiatan pengamatan ini dapat diketahui bahwa masih terdapat keluarga di sekitar lingkungan kita yang membutuhkan perhatian serta kepedulian dari masyarakat. Dukungan dari lingkungan sekitar sangat penting agar keluarga yang sedang mengalami kesulitan dapat menjalani kehidupan dengan lebih baik.


Dengan adanya rasa empati, kepedulian, serta sikap saling membantu antaranggota masyarakat, diharapkan keluarga yang mengalami keterbatasan ekonomi dapat tetap bertahan dan memiliki kesempatan untuk memperbaiki kondisi kehidupan mereka di masa yang akan datang. Selain itu, melalui pendidikan yang terus dijalani oleh anak-anak dalam keluarga tersebut, diharapkan mereka dapat memiliki masa depan yang lebih baik serta mampu memperbaiki kondisi kehidupan keluarga mereka di kemudian hari.

Tempat pengamatan: Lingkungan rumah

Waktu pengamatan: 15 Februari 2026

Objek yang diamati: Keluarga kurang mampu

Orang yang mengamati: Fathia Alkhaira Kelas 9H

Catatan Guru Mapel:

Pengamatan ini dilakukan untuk menumbuhkan empati dan simpati di dalam diri siswa agar tekun belajar dan semangat meraih cita-cita biar kelak bila suklses mampu membantu siapa saja yang butuh.*

Baca Juga

https://www.potretkita.net/2026/03/bagaimana-perilaku-siswa-di-sekolah.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Bottom Ad

Responsive Ads Here