Teks Rekon Kota Pariaman di Minang Kabau - PotretKita Online

Breaking

Home Top Ad

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Minggu, 08 Februari 2026

Teks Rekon Kota Pariaman di Minang Kabau


salah satu ikon kota Tabuik Piaman

KOTA PARIAMAN ---Pada liburan lalu, saya mengunjungi Kota Pariaman yang terletak di pesisir Sumatra Barat. Setibanya di sana, saya langsung pergi ke Pantai Gandoriah dan menikmati pemandangan laut yang indah serta suasana yang ramai oleh wisatawan. Saya juga mencicipi makanan khas Pariaman seperti sala lauak yang rasanya gurih dan lezat. Selain itu, saya belajar tentang tradisi Tabuik yang menjadi ciri khas budaya masyarakat Pariaman. Kunjungan ke Kota Pariaman memberikan pengalaman yang menyenangkan dan menambah pengetahuan saya tentang budaya Minangkabau.


Sejarah Kota Pariaman

Penetapan Kota Pariaman sebagai daerah otonom berdasarkan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2002. Ini peristiwa bersejarah yang mengakhiri status administratif Pariaman sebagai bagian dari Kabupaten Padang Pariaman. Otonomi ini bukan sekadar perubahan struktur pemerintahan, melainkan awal dari tanggung jawab besar dalam membangun kota mandiri dengan tata kelola sendiri. Pada fase awal inilah, kepemimpinan pertama Kota Pariaman memainkan peran yang sangat menentukan arah perjalanan daerah.

Melalui mekanisme pemilihan oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD)—sesuai sistem yang berlaku saat itu—H. Nasri Nasar, S.H. ditetapkan sebagai Walikota pertama Kota Pariaman, dengan Ir. Mahyuddin sebagai Wakil Walikota. Keduanya kemudian resmi dilantik pada tanggal 11 Oktober 2003 untuk masa jabatan 2003–2008. Pelantikan ini menandai dimulainya pemerintahan Kota Pariaman sebagai entitas otonom yang berdiri sendiri.


Sebagai Walikota pertama, H. Nasri Nasar, S.H. memikul tanggung jawab yang sangat berat. Ia tidak hanya memimpin, tetapi juga merintis. Bersama Ir. Mahyuddin, ia menata organisasi perangkat daerah, mengatur pembagian kewenangan, menyusun kebijakan awal pembangunan, serta memastikan pelayanan publik tetap berjalan di tengah keterbatasan sumber daya dan transisi administratif. Masa ini dikenal sebagai periode konsolidasi, ketika dasar-dasar pemerintahan kota diletakkan.

Kepemimpinan H. Nasri Nasar dikenal tenang, bersahaja, dan berorientasi pada pengabdian. Ia memimpin di masa ketika ekspektasi masyarakat sangat tinggi terhadap hadirnya pemerintahan kota yang lebih dekat dan responsif. Bersama Wakil Walikota Ir. Mahyuddin, stabilitas pemerintahan dijaga agar proses pembangunan awal Kota Pariaman tidak terganggu.

Namun, perjalanan kepemimpinan tersebut tidak berlangsung hingga akhir masa jabatan. Pada tahun 2007, saat masa kepemimpinannya lebih setengah periode, H. Nasri Nasar, S.H. wafat dalam keadaan masih menjabat sebagai Walikota Pariaman. Peristiwa ini menjadi duka mendalam bagi keluarga, jajaran pemerintahan, dan seluruh masyarakat Kota Pariaman. Wafatnya Walikota pertama bukan hanya kehilangan seorang pemimpin, tetapi juga kehilangan seorang perintis di masa paling menentukan dalam sejarah kota.

Sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku, jabatan Walikota kemudian dilanjutkan oleh Wakil Walikota. Ir. Mahyuddin secara resmi dilantik sebagai Walikota Pariaman pada tanggal 22 Februari 2007, untuk melanjutkan sisa masa jabatan periode 2003–2008. Pelantikan ini memastikan kesinambungan pemerintahan dan mencegah terjadinya kekosongan kepemimpinan di tengah proses pembangunan yang sedang berjalan.

Sebagai Walikota pengganti, Ir. Mahyuddin mengemban tugas berat: melanjutkan program pemerintahan yang telah dirintis sekaligus menjaga stabilitas pasca wafatnya Walikota pertama. Kepemimpinannya pada fase lanjutan ini menjadi bagian penting dari sejarah awal otonomi Kota Pariaman, karena memastikan bahwa roda pemerintahan tetap berjalan meski dihadapkan pada peristiwa duka dan transisi mendadak.


Perjalanan kepemimpinan H. Nasri Nasar, S.H. dan Ir. Mahyuddin menjadi bab tersendiri dalam sejarah Kota Pariaman. Mereka dikenang sebagai pemimpin perintis, yang bekerja bukan dalam kondisi mapan, melainkan di masa awal pembentukan kota. Wafatnya Walikota pertama di tengah masa jabatan menjadi pengingat bahwa pembangunan daerah tidak hanya ditopang oleh kebijakan dan struktur, tetapi juga oleh pengorbanan pribadi dan pengabdian yang tulus.


Sejarah ini bukan sekadar catatan masa lalu, melainkan fondasi moral dan institusional bagi kepemimpinan Kota Pariaman di masa-masa berikutnya. Dari fase inilah, Kota Pariaman belajar tentang keteguhan, kesinambungan, dan tanggung jawab dalam membangun daerah otonom.

Setiap liburan akhir semester, saya selalu menyempatkan diri untuk mengunjungi Kota Pariaman. Kota yang terletak di pesisir barat Provinsi Sumatera Barat ini memiliki pesona tersendiri yang selalu membuat saya ingin kembali lagi. Suasana kota yang relatif tenang, pemandangan pantai yang indah, serta kehidupan masyarakatnya yang ramah menjadikan Pariaman sebagai tempat yang tepat untuk melepas penat dari rutinitas sehari-hari. Keindahan laut yang membentang luas, hembusan angin pantai yang sejuk, serta beragam aktivitas wisata yang tersedia membuat saya merasa nyaman dan betah berlama-lama berada di Kota Pariaman. Setiap kunjungan memberikan pengalaman yang menyenangkan dan meninggalkan kesan mendalam, seolah kota ini selalu memiliki cerita baru untuk dikenang.
Sejarah Singkat 2 Kota Pariaman Kota Pariaman merupakan salah satu kota tua di Provinsi Sumatera Barat yang terletak di pesisir Samudra Hindia. Sejak masa lampau, Pariaman dikenal sebagai bandar atau pelabuhan penting yang ramai dikunjungi oleh para pedagang dari berbagai daerah, baik dari dalam maupun luar negeri. Aktivitas perdagangan tersebut menjadikan Pariaman sebagai kota yang berkembang pesat dan memiliki peran strategis di wilayah pantai barat Sumatera.
“Pariaman dahulu merupakan pintu masuk perdagangan di pantai barat,” ujar seorang tokoh masyarakat, menggambarkan betapa pentingnya peran kota ini pada masa lalu. Keberadaan pelabuhan membuat Pariaman menjadi tempat bertemunya berbagai budaya dan latar belakang masyarakat.
Pada abad ke-16 hingga ke-17, Kota Pariaman berkembang sebagai pusat perdagangan sekaligus penyebaran agama Islam. Letaknya yang strategis menyebabkan banyak pedagang Arab, India, dan Eropa singgah dan menetap sementara di kota ini. Pada masa penjajahan Belanda, Pariaman berada di bawah pengaruh kolonial dan dijadikan sebagai salah satu pusat aktivitas ekonomi di wilayah pesisir.
Setelah Indonesia merdeka pada tahun 1945, Kota Pariaman terus mengalami perkembangan di berbagai bidang. Hingga kini, Pariaman dikenal sebagai kota pesisir yang maju di sektor pariwisata, perdagangan, dan budaya, serta tetap mempertahankan tradisi dan adat istiadat Minangkabau.
Wisata di Kota Pariaman Wisata di Kota Pariaman merupakan kegiatan perjalanan yang dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang untuk mengunjungi berbagai destinasi wisata alam, budaya, dan religi. Letaknya yang berada di pesisir pantai menjadikan Kota Pariaman memiliki potensi wisata bahari yang sangat besar. Potensi ini terus dikembangkan untuk menarik wisatawan lokal maupun luar daerah.
Destinasi Wisata Unggulan Kota Pariaman 1. Pantai Gandoriah Pantai Gandoriah merupakan ikon wisata Kota Pariaman yang paling terkenal. Pantai ini sering dikunjungi wisatawan untuk bersantai, menikmati pemandangan laut, serta menyaksikan keindahan matahari terbenam. Di sekitar pantai terdapat berbagai fasilitas pendukung seperti area bermain, tempat duduk, dan pedagang makanan khas. Pantai Gandoriah juga menjadi pusat kegiatan wisata dan budaya. Setiap tahun, pantai ini dijadikan lokasi pelaksanaan Festival Tabuik yang menarik banyak pengunjung. Selain itu, Pantai Gandoriah berfungsi sebagai pelabuhan penyeberangan menuju Pulau Angso Duo, sehingga memiliki peran penting dalam pariwisata Kota Pariaman. 2. Pulau Angso Duo Pulau Angso Duo terletak tidak jauh dari Pantai Gandoriah dan dapat dicapai dengan menggunakan perahu. Pulau ini memiliki pasir putih yang bersih serta air laut yang jernih sehingga cocok untuk wisata bahari. Selain keindahan alamnya, Pulau Angso Duo juga dikenal sebagai destinasi wisata religi karena terdapat makam seorang ulama penyebar agama Islam. Hal ini menjadikan pulau ini memiliki nilai sejarah dan spiritual yang tinggi, sehingga banyak dikunjungi oleh wisatawan yang ingin berwisata sekaligus berziarah. 3. Pantai Kata Pantai Kata menawarkan suasana yang lebih tenang dibandingkan pantai lainnya. Hamparan pasir yang luas serta deretan pohon cemara di sepanjang pantai menciptakan suasana yang sejuk dan nyaman. Pantai ini sangat cocok untuk wisata keluarga dan kegiatan santai. Lingkungannya yang relatif tidak terlalu ramai membuat pengunjung dapat menikmati keindahan alam dengan lebih leluasa. 4. Pantai Cermin Pantai Cermin merupakan salah satu pantai indah di Kota Pariaman yang memiliki ombak cukup besar. Pantai ini sering dikunjungi wisatawan yang ingin menikmati pemandangan laut lepas dan suasana pantai yang alami. Keadaan pantai yang masih asri dan relatif sepi menjadikan Pantai Cermin sebagai tempat yang cocok bagi pengunjung yang menginginkan ketenangan dan kedekatan dengan alam. 5. Desa Wisata Apar Desa Wisata Apar menawarkan wisata berbasis budaya dan kehidupan masyarakat lokal. Pengunjung dapat melihat langsung aktivitas masyarakat, seperti bertani, berkebun, serta mengikuti kegiatan adat. Desa ini berperan sebagai sarana pelestarian budaya Minangkabau. Wisata berbasis edukasi ini memberikan pengalaman berharga bagi pengunjung untuk mengenal adat istiadat dan kearifan lokal masyarakat Pariaman.

Kuliner Khas Kota Pariaman. Selain dikenal dengan keindahan pantainya, Kota Pariaman juga memiliki kekayaan kuliner yang menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan. Letaknya yang berada di wilayah pesisir membuat kuliner Pariaman banyak dipengaruhi oleh hasil laut segar serta cita rasa khas Minangkabau yang kuat akan rempah-rempah. Makanan khas Pariaman tidak hanya mengenyangkan, tetapi juga menyimpan cerita budaya dan kebiasaan masyarakat setempat yang diwariskan secara turun-temurun.

Salah satu keunikan kuliner di Kota Pariaman adalah cara pengolahan makanan yang masih mempertahankan resep tradisional. Banyak makanan khas yang hingga kini tetap dibuat dengan cara sederhana namun menghasilkan rasa yang autentik. Tidak heran jika wisata kuliner menjadi salah satu alasan utama wisatawan kembali berkunjung ke kota ini.
1. Sala Lauak Sala lauak merupakan kuliner paling ikonik dari Kota Pariaman dan menjadi ciri khas yang membedakannya dengan daerah lain di Sumatera Barat. Makanan ini terbuat dari campuran tepung beras, ikan teri, serta bumbu rempah pilihan, kemudian digoreng hingga berwarna keemasan dan renyah di luar. Berbeda dengan sala bulek yang berisi potongan daging, sala lauak memiliki cita rasa gurih khas ikan laut. Sala lauak biasanya dijual oleh pedagang kaki lima, terutama di sekitar kawasan pantai dan pusat keramaian. Makanan ini sering dinikmati sebagai camilan sore hari sambil menikmati suasana pantai. Kesederhanaan bahan dan rasa gurihnya membuat sala lauak digemari oleh semua kalangan, baik masyarakat lokal maupun wisatawan.
2. Gulai Ikan Gulai ikan merupakan salah satu hidangan utama masyarakat pesisir Kota Pariaman. Ikan laut segar seperti ikan tongkol, kakap, atau tenggiri dimasak dengan santan dan rempah-rempah khas Minangkabau. Cita rasa gulai ikan Pariaman dikenal lebih segar karena menggunakan ikan hasil tangkapan nelayan setempat. Hidangan ini biasanya disajikan sebagai lauk utama saat makan siang atau dalam acara keluarga dan adat. Perpaduan rasa gurih santan, pedas cabai, serta aroma rempah menjadikan gulai ikan sebagai sajian yang menggugah selera dan mencerminkan kekayaan kuliner pesisir Pariaman.
3. Lamang Tapai Lamang tapai merupakan makanan tradisional yang sering dijumpai pada momen-momen tertentu, seperti acara adat, perayaan hari besar, atau kegiatan keluarga. Lamang dibuat dari beras ketan yang dimasukkan ke dalam bambu lalu dibakar hingga matang, sedangkan tapai merupakan ketan atau singkong yang difermentasi hingga memiliki rasa manis dan sedikit asam. Kombinasi antara rasa gurih lamang dan manisnya tapai menciptakan sensasi rasa yang khas. Selain sebagai makanan, lamang tapai juga memiliki nilai budaya karena sering dijadikan simbol kebersamaan dan tradisi dalam masyarakat Minangkabau, termasuk di Kota Pariaman.
4. Pinyaram Pinyaram adalah kue tradisional khas Minangkabau yang juga sangat populer di Kota Pariaman. Kue ini terbuat dari tepung beras dan gula merah, kemudian digoreng hingga bagian luarnya matang sempurna. Teksturnya lembut di dalam dengan rasa manis yang tidak berlebihan. Pinyaram biasanya disajikan dalam acara adat, kenduri, atau sebagai hidangan untuk tamu. Hingga kini, pinyaram masih mudah ditemukan di pasar tradisional dan menjadi salah satu jajanan favorit masyarakat setempat.
5. Olahan Seafood Sebagai kota pesisir, Kota Pariaman memiliki beragam olahan seafood yang menggugah selera. Ikan bakar, ikan goreng, udang, hingga cumi-cumi diolah dengan bumbu sederhana agar rasa segar dari hasil laut tetap terasa. Banyak rumah makan di sepanjang pantai yang menyajikan hidangan laut langsung dari tangkapan nelayan. Menikmati seafood sambil melihat pemandangan laut menjadi pengalaman kuliner yang tak terlupakan bagi wisatawan. Kesegaran bahan dan suasana pantai membuat wisata kuliner di Kota Pariaman terasa semakin lengkap dan berkesan.
Keindahan Alam Kota Pariaman Keindahan alam Kota Pariaman terlihat jelas dari deretan pantainya yang memanjang di sepanjang pesisir. Laut yang biru, pasir pantai yang bersih, serta angin laut yang sejuk menjadi daya tarik utama kota ini. Selain pantai, Pariaman juga memiliki kawasan pedesaan dan persawahan yang asri. Pulau-pulau kecil di sekitar Pariaman turut menambah keindahan alam kota ini dan menjadi tujuan wisata favorit bagi pengunjung.
Refleksi dan Penutup. Berkunjung ke Kota Pariaman memberikan pengalaman yang berkesan bagi saya. Kota ini tidak hanya menawarkan keindahan alam, tetapi juga menghadirkan suasana hangat melalui keramahan masyarakatnya. Setiap sudut kota menyimpan nilai sejarah, budaya, dan tradisi yang patut diapresiasi.
Dengan potensi wisata, budaya, dan kuliner yang dimilikinya, Kota Pariaman layak dijadikan salah satu destinasi unggulan di Sumatera Barat. Oleh karena itu, keindahan alam dan kekayaan budaya Kota Pariaman perlu dijaga dan dilestarikan bersama agar tetap dapat dinikmati oleh generasi sekarang maupun generasi yang akan datang.

Pengertian Teks Rekon
Teks rekon adalah jenis teks yang menceritakan kembali suatu peristiwa, pengalaman, atau kejadian yang telah terjadi di masa lampau secara runtut dan kronologis. Teks ini bertujuan untuk memberikan informasi, menghibur, atau berbagi pengalaman kepada pembaca berdasarkan kejadian nyata yang dialami penulis atau orang lain.
Teks rekon biasanya disusun berdasarkan urutan waktu (kronologis) dan menggunakan bahasa yang jelas serta mudah dipahami. Ciri utama teks rekon adalah adanya cerita tentang pengalaman pribadi, peristiwa sejarah, atau kejadian tertentu yang benar-benar terjadi.
Secara umum, teks rekon terdiri dari tiga bagian, yaitu: 1. Orientasi, berisi pengenalan latar belakang peristiwa seperti waktu, tempat, dan tokoh. 2. Rangkaian peristiwa, berisi urutan kejadian yang diceritakan secara runtut. 3. Reorientasi, berisi penutup yang biasanya berupa kesan, pesan, atau kesimpulan dari peristiwa tersebut.

Raeesa 9I MTsN Kota Padang Panjang*

Baca Juga


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Bottom Ad

Responsive Ads Here