Masjid 99 Kubah, Berdiri indah di Pantai Losari, Makassar - PotretKita Online

Breaking

Home Top Ad

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Rabu, 25 Februari 2026

Masjid 99 Kubah, Berdiri indah di Pantai Losari, Makassar



Masjid 99 Kubah – Ikon Religi di Bibir Pantai Losari

Berdiri megah di kawasan Pantai Losari, tepatnya di area reklamasi Center Point of Indonesia (CPI), Masjid 99 Kubah menjadi salah satu landmark paling mencolok di Kota Makassar. Masjid ini bukan hanya tempat ibadah, tetapi juga simbol wajah baru kota pesisir yang modern dan berani tampil berbeda.


Sejarah Pembangunan

Pembangunan masjid ini dimulai pada tahun 2017 atas inisiatif Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan pada masa kepemimpinan Syahrul Yasin Limpo. Proyek ini kemudian dilanjutkan pada periode pemerintahan berikutnya hingga akhirnya rampung dan difungsikan secara bertahap.


Desainnya merupakan karya arsitek sekaligus tokoh publik, Ridwan Kamil. Dengan pendekatan arsitektur kontemporer, beliau menghadirkan konsep masjid yang tidak konvensional namun tetap sarat makna spiritual.


Makna 99 Kubah

Nama “99 Kubah” merujuk pada 99 Asmaul Husna—nama-nama Allah dalam ajaran Islam. Berbeda dari masjid pada umumnya yang memiliki satu kubah utama besar, masjid ini justru menampilkan puluhan kubah dengan ukuran bervariasi, tersusun dinamis dan artistik.


Warna-warna cerah seperti oranye, merah, kuning, dan ungu mendominasi bagian luar bangunan. Pilihan warna ini menjadikan masjid tampak hidup, kontras dengan birunya laut dan langit Makassar.


Pengalaman Spiritual di Tengah Terik

Tepat saat azan Zhuhur berkumandang, banyak jamaah berdatangan. Terik matahari Makassar terasa luar biasa menyengat. Pelataran granit tanpa atap sepanjang beberapa meter menjadi panas membara di bawah kaki.


Namun begitu air wudhu menyentuh kulit, dan kening bersujud di lantai masjid, suasana berubah. Panas luar seakan luruh, berganti kesejukan batin. Masjid ini menghadirkan pengalaman kontras: panas di luar, teduh di dalam.


Di tengah keramaian, terlihat seorang ayah menggandeng anak kecilnya menaiki tangga menuju masjid. Dengan polos sang anak berlari kecil ke pelataran, lalu seketika memekik, “Panas…!” sambil kembali memeluk ayahnya. Momen sederhana itu menjadi gambaran nyata betapa teriknya siang di pesisir—dan betapa berharganya kesejukan di ruang ibadah.


Fakta Unik

Dibangun di atas lahan reklamasi, sehingga memiliki panorama laut yang terbuka.

Menjadi destinasi wisata religi sekaligus spot fotografi arsitektur modern.

Tidak memiliki satu kubah dominan, melainkan komposisi 99 kubah simbolik.

Cepat menjelma menjadi ikon baru Kota Angin Mammiri.


Kontroversi dan Dinamika

Dalam prosesnya, pembangunan masjid ini sempat menjadi sorotan karena nilai anggarannya yang besar dan pengerjaan yang berlangsung bertahap. Ada pula perdebatan mengenai desainnya yang modern dan tidak tradisional.


Namun seiring waktu, masjid ini tetap ramai oleh jamaah dan wisatawan. Kritik dan pujian berjalan beriringan, tetapi fungsinya sebagai tempat ibadah tetap menjadi ruh utamanya.


Masjid 99 Kubah mengajarkan satu hal sederhana namun dalam:

Awalnya panas.
Lalu menjadi dingin saat bersujud.
Setelah dingin, panas kembali terasa ketika melangkah keluar.


Di antara terik dan teduh, masjid ini berdiri—bukan hanya sebagai bangunan, tetapi sebagai ruang jeda bagi siapa pun yang singgah.


MASJID 99 KUBAH. Berdiri indah di Pantai Losari, Makassar. Tepat ketika Azan Zhuhur berkumandang kami sampai di masjid dengan nuansa cerah itu.

Panas terik luar biasa. Sentuhan air wudhu dan kening yang bersujud membuat bathin terasa sejuk. Aku tidak sempat menghitung berapa sebenarnya jumlah kubahnya. Tetapi di brosur wisata Makassar disebutkan 99 kubah, sehingga masjid ini dikenal juga dengan Masjid Asmaul Husnah.

Hari itu Jama'ah datang ramai berduyun-duyun. Kebanyakan sepertinya adalah peserta OlympicAD 8 yang datang dari seluruh Indonesia. Tampak dari Jaket, Rompi, kaus yang seragam. Memanfaatkan waktu sebelum pulang ke daerah masing-masing, seperti halnya kami, mereka menggunakan tour sekeliling kota Angin Mammiri.

Masjid ini adalah karya jenius kang Ridwan Kamil. Sentuhan estetik nya begitu terasa. Kubah masjid, luar dan dalam nya terlihat cerah.

Seorang bapak bersama anak laki-lakinya berumur 5 tahunan gembira menapaki tangga menuju masjid untuk shalat. Di ujung tangga mereka membuka sepatunya. Dengan girang sang anak langsung melangkah ke pelataran datar masjid. Anak itu terkejut, memekik. Panaas..., sambil mendekap ayahnya.

Di tengah hari itu memang pelataran masjid cukup menyiksa karena Granit yang sangat panas. Pelataran sekitar 5 meter itu memang tanpa atap.
Terimakasih Kang RK.
Awalnya panas tetapi kemudian dingin.
Setelah dingin kemudian panas lagi.
Ramadhan Kareem.
SB 2102 2026, Senja di Kauman

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Bottom Ad

Responsive Ads Here