Masjid 99 Kubah – Ikon Religi di Bibir Pantai Losari
Berdiri megah di kawasan Pantai Losari, tepatnya di area reklamasi Center Point of Indonesia (CPI), Masjid 99 Kubah menjadi salah satu landmark paling mencolok di Kota Makassar. Masjid ini bukan hanya tempat ibadah, tetapi juga simbol wajah baru kota pesisir yang modern dan berani tampil berbeda.
Sejarah Pembangunan
Pembangunan masjid ini dimulai pada tahun 2017 atas inisiatif Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan pada masa kepemimpinan Syahrul Yasin Limpo. Proyek ini kemudian dilanjutkan pada periode pemerintahan berikutnya hingga akhirnya rampung dan difungsikan secara bertahap.
Desainnya merupakan karya arsitek sekaligus tokoh publik, Ridwan Kamil. Dengan pendekatan arsitektur kontemporer, beliau menghadirkan konsep masjid yang tidak konvensional namun tetap sarat makna spiritual.
Makna 99 Kubah
Nama “99 Kubah” merujuk pada 99 Asmaul Husna—nama-nama Allah dalam ajaran Islam. Berbeda dari masjid pada umumnya yang memiliki satu kubah utama besar, masjid ini justru menampilkan puluhan kubah dengan ukuran bervariasi, tersusun dinamis dan artistik.
Warna-warna cerah seperti oranye, merah, kuning, dan ungu mendominasi bagian luar bangunan. Pilihan warna ini menjadikan masjid tampak hidup, kontras dengan birunya laut dan langit Makassar.
Pengalaman Spiritual di Tengah Terik
Tepat saat azan Zhuhur berkumandang, banyak jamaah berdatangan. Terik matahari Makassar terasa luar biasa menyengat. Pelataran granit tanpa atap sepanjang beberapa meter menjadi panas membara di bawah kaki.
Namun begitu air wudhu menyentuh kulit, dan kening bersujud di lantai masjid, suasana berubah. Panas luar seakan luruh, berganti kesejukan batin. Masjid ini menghadirkan pengalaman kontras: panas di luar, teduh di dalam.
Di tengah keramaian, terlihat seorang ayah menggandeng anak kecilnya menaiki tangga menuju masjid. Dengan polos sang anak berlari kecil ke pelataran, lalu seketika memekik, “Panas…!” sambil kembali memeluk ayahnya. Momen sederhana itu menjadi gambaran nyata betapa teriknya siang di pesisir—dan betapa berharganya kesejukan di ruang ibadah.
Fakta Unik
Dibangun di atas lahan reklamasi, sehingga memiliki panorama laut yang terbuka.
Menjadi destinasi wisata religi sekaligus spot fotografi arsitektur modern.
Tidak memiliki satu kubah dominan, melainkan komposisi 99 kubah simbolik.
Cepat menjelma menjadi ikon baru Kota Angin Mammiri.
Kontroversi dan Dinamika
Dalam prosesnya, pembangunan masjid ini sempat menjadi sorotan karena nilai anggarannya yang besar dan pengerjaan yang berlangsung bertahap. Ada pula perdebatan mengenai desainnya yang modern dan tidak tradisional.
Namun seiring waktu, masjid ini tetap ramai oleh jamaah dan wisatawan. Kritik dan pujian berjalan beriringan, tetapi fungsinya sebagai tempat ibadah tetap menjadi ruh utamanya.
Masjid 99 Kubah mengajarkan satu hal sederhana namun dalam:
Awalnya panas.
Lalu menjadi dingin saat bersujud.
Setelah dingin, panas kembali terasa ketika melangkah keluar.
Di antara terik dan teduh, masjid ini berdiri—bukan hanya sebagai bangunan, tetapi sebagai ruang jeda bagi siapa pun yang singgah.

.gif)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar