Gelombang 35 Meter: Ketika Laut Mengingatkan Manusia Siapa yang Berkuasa - PotretKita Online

Breaking

Home Top Ad

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Minggu, 15 Februari 2026

Gelombang 35 Meter: Ketika Laut Mengingatkan Manusia Siapa yang Berkuasa

 



JAKARTA - Para ilmuwan kini dapat melihat fenomena laut ekstrem yang sebelumnya hampir tak tertangkap pengamatan langsung di permukaan laut. Data dari satelit orbit Bumi menunjukkan, pada Desember 2024 gelombang raksasa setinggi sekitar 35 meter terdeteksi di tengah Samudra Pasifik, tepatnya di wilayah antara Hawaii dan Kepulauan Aleutian, yang merupakan bagian utara dari Samudra Pasifik.


Dikutip dari Ecoticias, fenomena ini terjadi jauh dari jalur pelayaran dan pantai sehingga hampir tak terlihat oleh manusia di laut atau daratan. Gelombang ini setara dengan bangunan 11 lantai jika diukur secara tegak lurus dari dasar laut ke puncaknya, dan terbentuk akibat kombinasi badai besar, angin kencang, serta akumulasi energi yang masif di permukaan laut.


Menurut analisis ilmuwan, fenomena ini berasal dari badai kuat yang melanda Samudra Pasifik utara pada Desember 2024, yang dikenal sebagai Storm Eddie, ketika rata-rata tinggi gelombang mencapai hampir 20 meter dan puncaknya diperkirakan menyentuh angka puncak 35 meter.


Dalam keterangannya kepada media luar negeri, para peneliti mengatakan bahwa pengukuran ini menunjukkan apa yang dulu hanya dianggap legenda pelaut kini dapat dipetakan secara ilmiah. Mereka menjelaskan bahwa teknologi satelit, khususnya misi seperti satelit Surface Water and Ocean Topography (SWOT), mampu memetakan variasi permukaan laut jauh di tengah lautan, sehingga gelombang yang sangat besar ini akhirnya terlihat dari luar angkasa, memberikan wawasan baru tentang dinamika laut terbuka yang sebelumnya tidak terdeteksi.


"Gelombang ekstrem seperti ini, yang jauh dari pantai dan tidak terkait langsung dengan peristiwa darat seperti gempa atau tsunami, tetap menyimpan risiko tinggi bagi pelayaran jarak jauh, operasi laut lepas, dan infrastruktur lepas pantai," para peneliti menekankan.


Sebab, gelombang tersebut dapat bertindak seperti 'tembok air' mendadak yang sulit diprediksi tanpa data satelit. Dengan pemantauan dari luar angkasa, kini lebih mungkin membangun peta risiko laut terbuka sebelum rute pelayaran dilewati kapal, meningkatkan peringatan dini, dan memperbaiki prakiraan laut ekstrem di masa depan.


Gelombang 35 Meter: Ketika Laut Mengingatkan Manusia Siapa yang Berkuasa

Di tengah Samudra Pasifik, jauh dari pelabuhan dan kamera manusia, gelombang setinggi 35 meter pernah berdiri seperti tembok air. Setara gedung 11 lantai. Tidak ada yang melihatnya secara langsung. Tidak ada video viral. Ia hanya terekam oleh satelit di orbit Bumi.


Ironisnya, baru ketika dilihat dari luar angkasa, kita benar-benar menyadari betapa ekstremnya wajah laut.


Selama berabad-abad, kisah gelombang raksasa dianggap legenda pelaut—cerita yang dilebih-lebihkan oleh ketakutan dan imajinasi. Kini sains berkata sebaliknya: gelombang seperti itu nyata, terukur, dan bisa muncul jauh dari gempa atau tsunami. Ia lahir dari kombinasi badai, angin, dan akumulasi energi yang masif—sebuah sistem alam yang bekerja tanpa perlu saksi.


Teknologi seperti satelit SWOT membuka bab baru dalam pemahaman kita tentang samudra. Laut yang selama ini tampak “kosong” di peta ternyata menyimpan dinamika ekstrem yang nyaris tak terdeteksi. Di sinilah paradoksnya: kita hidup di planet yang 70 persen permukaannya air, tetapi pengetahuan kita tentang laut dalam dan laut lepas masih jauh tertinggal dibanding eksplorasi ruang angkasa.


Gelombang setinggi 35 meter bukan hanya fenomena alam. Ia adalah pengingat tentang kerentanan manusia. Kapal kargo raksasa, rig minyak lepas pantai, hingga jalur pelayaran internasional bisa berhadapan dengan “tembok air” mendadak. Tanpa data satelit, ia datang seperti kejutan yang mematikan.


Di era perubahan iklim, pertanyaan yang lebih besar pun muncul: apakah frekuensi gelombang ekstrem akan meningkat? Badai yang lebih intens berarti energi yang lebih besar tersimpan di permukaan laut. Jika benar demikian, maka risiko terhadap ekonomi global—yang sangat bergantung pada jalur laut—ikut membesar.


Namun di balik ancaman itu ada harapan. Untuk pertama kalinya, manusia tidak sepenuhnya buta terhadap samudra lepas. Pemetaan dari luar angkasa memungkinkan prediksi yang lebih presisi, peringatan dini yang lebih cepat, dan mitigasi yang lebih matang.


Gelombang itu mungkin muncul tanpa penonton. Tapi ia menyampaikan pesan yang jelas: alam tidak pernah benar-benar jinak.


Kita boleh membangun kapal lebih besar, pelabuhan lebih canggih, dan sistem navigasi lebih pintar. Namun pada akhirnya, satu gelombang raksasa cukup untuk mengingatkan bahwa di hadapan samudra, manusia tetaplah tamu. BS*

Baca Juga

https://www.potretkita.net/2026/02/tata-ruang-yang-diabaikan.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Bottom Ad

Responsive Ads Here