Solidaritas Menjadi Jawaban atas Luka Kolektif - PotretKita Online

Breaking

Home Top Ad

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Kamis, 22 Januari 2026

Solidaritas Menjadi Jawaban atas Luka Kolektif



IKAPPABASKO — organisasi kemasyarakatan yang menghimpun perantau dari Padang Panjang, Batipuh, dan X Koto di Jabodetabek — menggelar Tabligh Akbar dan doa bersama di Masjid Agung At‑Tin, Jakarta.


Kegiatan yang dipandu oleh penceramah Buya H. Ristawardi Dt. Marajo Nan Batungkek Ameh ini menegaskan kembali bahwa dalam situasi kemanusiaan yang krisis, respons terbaik bukan sekadar administratif atau retoris, melainkan spiritual dan sosialistik.


Kegiatan ini bukan hanya ajang ritual keagamaan, tetapi juga aksi solidaritas nyata untuk mendoakan dan menguatkan jiwa mereka yang tertimpa musibah bencana galodo, banjir, dan tanah longsor di kampung halaman mereka. 


Rasa empati yang ditunjukkan tidak berhenti pada lantunan doa. IKAPPABASKO secara kolektif berhasil mengumpulkan donasi sekitar Rp170 juta yang langsung disalurkan kepada korban terdampak bencana. Ini bukan angka; ini adalah manifestasi kepedulian konkret yang melewati batas geografis, menunjukan bahwa identitas perantau tetap melekat pada akar budaya dan tanggung jawab sosial terhadap kampung halaman. 


Dalam kesempatan itu, Bupati Eka Putra hadir sebagai pengakuan atas figur perantau yang turut mengambil bagian dalam perjalanan sejarah kesejahteraan Tanah Datar. Ia secara eksplisit menyampaikan terima kasih kepada IKAPPABASKO atas kepedulian dan empatinya kepada masyarakat yang terdampak musibah, sekaligus menjelaskan perkembangan penanganan bencana oleh pemerintah daerah.


Di tengah proses transisi dari tanggap darurat, Pemda telah menjalin koordinasi komprehensif dengan pemerintah provinsi dan pusat, termasuk rencana pembangunan Sabo Dam dan perbaikan infrastruktur di titik kritis banjir.


Melihat dinamika ini, kita dapat menangkap dua hal penting: pertama, kepemimpinan sosial tidak selalu lahir dari kekuasaan formal; ia sering berakar pada kesadaran komunitas yang bergerak atas nama kemanusiaan dan solidaritas.


IKAPPABASKO menjadi contoh nyata bahwa organisasi berbasis budaya dan perantauan dapat memainkan peran strategis dalam respons sosial bencana, memadukan ibadah dengan tindakan nyata. Kedua, keberadaan pemimpin daerah seperti Eka Putra yang hadir di tengah warganya — bukan hanya sebagai kepala pemerintahan, tapi sebagai figur yang mendengar dan memberi arah — tetap krusial dalam memberi legitimasi dan energi baru bagi proses pemulihan. 


Namun, tantangan masih besar. Kepedulian spiritual dan bantuan sementara harus dibarengi dengan kebijakan struktural dan mitigasi risiko bencana yang lebih kuat, mengingat perubahan iklim dan kejadian ekstrem semakin menjadi bagian dari realitas kita.


Solidaritas seperti yang ditampilkan IKAPPABASKO adalah batu fondasi; pemerintah daerah perlu memanfaatkan momentum ini untuk memperkuat sistem tanggap darurat, kebijakan lingkungan, dan pembangunan infrastruktur yang tahan bencana. Di sinilah peran kolaboratif antara masyarakat sipil dan pemerintah menjadi sangat penting.


Akhirnya, Tabligh Akbar dan doa bersama itu bukan sekadar acara seremonial — ia adalah simbol harapan, empati, dan aksi kolektif yang menjawab keresahan warga yang kehilangan lebih dari sekadar harta, tetapi juga rasa aman, keyakinan, dan masa depan. Solidaritas seperti ini, jika terus dirawat, bisa menjadi katalis bagi terciptanya masyarakat yang tangguh, peduli, dan berdaya dalam menghadapi tantangan bersama. Rakyat Terkini*

Baca Juga

https://www.potretkita.net/2026/01/mayat-balita-ditemukan-di-selokan.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Bottom Ad

Responsive Ads Here