![]() |
Sekretaris Tim PSP, Robbi Malvinas, S.Pd, mengatakan saat ini manajemen fokus menyelesaikan seluruh dokumen pemain agar memenuhi aturan kompetisi. Administrasi yang tengah dipercepat mencakup kontrak pemain, surat keluar, serta kelengkapan lain seperti BPJS Ketenagakerjaan sesuai regulasi dari panitia penyelenggara.
Robbi menegaskan bahwa kelengkapan dokumen ini penting agar seluruh pemain bisa disahkan dan terdaftar melalui sistem SIAP PSSI sebelum kick-off liga.
Menurut surat resmi Panitia Pelaksana Liga 4 PSSI Sumbar, tahapan administratif dimulai dari pendaftaran klub pada 9–12 Januari, dilanjutkan dengan verifikasi tim pada 13 Januari dan pengesahan peserta pada 14 Januari 2026. Seluruh klub juga diwajibkan membayar biaya administrasi kompetisi sebesar Rp5 juta.
Setelah itu, panitia akan menggelar Match Coordination Meeting dan workshop sistem SIAP pada 15 Januari, diikuti penginputan data pemain secara daring pada 16–19 Januari, serta pengesahan pemain dan ofisial pada 19–21 Januari 2026.
Robbi menambahkan, PSP berkomitmen menyelesaikan proses administrasi tepat waktu agar tim bisa fokus pada persiapan teknis sebelum kompetisi resmi digelar.
Persatuan Sepakbola Padang (PSP) tengah berada dalam dinamika persiapan kompetisi Liga 4 PSSI Sumatera Barat musim 2025/2026, tetapi yang menjadi sorotan bukanlah teknik permainan atau kekuatan skuadnya—melainkan bagaimana klub itu mengutamakan “urusan kertas” menjelang kick off pada 22 Januari 2026.
Secara formal, apa yang dilakukan PSP memang wajib dan penting: menyelesaikan dokumen pemain, kontrak, surat keluar, hingga kelengkapan seperti BPJS Ketenagakerjaan; mengikuti rangkaian pendaftaran dan verifikasi administrasi sesuai jadwal Panitia Pelaksana; serta membayar biaya kompetisi.
Namun, di balik kepatuhan administratif tersebut terselip pula ironi yang patut dikritisi:
1. Administrasi sebagai Fokus Utama, Persiapan Teknis Terabaikan?
Dalam pemberitaan, administrasi digambarkan sebagai “hal krusial yang saat ini kami kebut agar tim bisa fokus ke persiapan teknis saat kompetisi resmi bergulir.” Pernyataan ini menarik karena secara implisit mengakui bahwa fokus utama bukanlah persiapan sepak bola itu sendiri.Fokus Sumbar
Padahal, kompetisi bukan dinilai dari kerapian berkas, melainkan performa di lapangan. Ketika klub lebih terobsesi pada administrasi, muncul pertanyaan: Apakah keseimbangan antara kerja non‑teknis (logistik dan hukum) serta kerja teknis (taktik, fisik, mental pemain) benar‑benar dicapai?
2. Regulasi vs. Realitas Klub Kecil
Liga 4 seharusnya menjadi arena pengembangan dan persaingan sehat bagi klub‑klub daerah. Namun, tekanan administratif memaksa klub seperti PSP harus mengalokasikan waktu, energi, dan sumber daya untuk memenuhi persyaratan formal birokratis dibandingkan menguatkan strategi kompetitif.
Jika terlalu banyak klub di level ini disibukkan oleh urusan “kertas”, bukan tidak mungkin kompetisi itu sendiri hanya menjadi ritual administratif, bukan ujian kualitas sepak bola yang sesungguhnya.
3. Pemerintah dan Dukungan Infrastruktur yang Terbatas
Dalam liputan lain terlihat bahwa dukungan pemerintah terhadap PSP termasuk bonus dan perhatian dari Wali Kota Padang.Harianhaluan.id Tetapi apakah dukungan itu telah terukur dalam hal pembinaan berkelanjutan? Bonus sesaat dan perhatian administrasi tidak otomatis berarti pembenahan sistem klub. Tanpa struktur pembinaan jangka panjang, klub akan terus terjebak pada siklus persiapan administratif setiap kompetisi tanpa kemajuan signifikan di level teknis.
4. Paradigma Sepak Bola Indonesia di Level Dasar
Kasus PSP merefleksikan fenomena yang lebih luas dalam sepak bola Indonesia: bahwa klub sering kali lebih responsif terhadap aturan administratif daripada inovatif dalam pembinaan pemain muda dan strategi kompetitif. Liga 4, yang seharusnya menjadi ruang tumbuhnya bakat lokal dan inovasi taktik, berisiko berubah menjadi semacam ujian administratif tahunan yang tidak mencerminkan kualitas sepak bola yang berkembang.
PSP Padang sedang menjalankan kewajiban administratif dengan serius, namun fokus semata pada hal tersebut berpotensi menjadi bumerang jika persiapan teknis dan pembinaan jangka panjang dipinggirkan. Kompetisi sepak bola bukan soal siapa paling cepat menyerahkan dokumen; melainkan siapa yang mampu membangun performa tim yang kompetitif, berkelanjutan, dan serius dalam mengembangkan potensi lokal.
Liga 4 Sumatera Barat seharusnya menjadi panggung penguatan sepak bola akar rumput, bukan hanya ajang administratif yang menguji kapasitas klub dalam mengurus berkas. PSP dan klub lain perlu menjadikan persiapan administrasi sebagai prasyarat, bukan tujuan akhir. Fokus Sumbar*


.gif)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar