Presiden Prabowo Ajak Bill Gates Bertemu Para Taipan RI di Istana - PotretKita Online

Breaking

Home Top Ad

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Kamis, 01 Januari 2026

Presiden Prabowo Ajak Bill Gates Bertemu Para Taipan RI di Istana

JAKARTA – Presiden Prabowo Subianto membawa tokoh filantropi dunia sekaligus pendiri Microsoft, Bill Gates, untuk bertemu dengan sejumlah pengusaha besar Indonesia dan kalangan taipan. (Foto by CNBC Indonesia)


Dalam pertemuan di Istana Merdeka, Jakarta itu berlangsung dalam suasana diskusi strategis mengenai kerja sama pembangunan dan kontribusi global.


Bill Gates yang terkenal dengan aktivitasnya melalui Bill & Melinda Gates Foundation hadir dalam agenda tersebut untuk memperkuat hubungan dengan sektor swasta Indonesia, termasuk membahas peran filantropi dalam kesehatan, pendidikan, dan pembangunan ekonomi. Setneg.


Dalam kesempatan ini, Prabowo menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, pengusaha, dan tokoh internasional untuk mempercepat pembangunan nasional serta mencapai tujuan strategis Indonesia. Pertemuan juga menjadi momen bagi para taipan Indonesia untuk berdialog langsung dengan Gates tentang peluang kerja sama di berbagai sektor.


Sebelumnya, Bill Gates bersama Presiden Prabowo sudah terlihat melakukan kunjungan program sosial, termasuk meninjau program Makan Bergizi Gratis (MBG) di salah satu sekolah di Jakarta, yang menunjukkan minat Gates terhadap isu-isu masyarakat di Indonesia. 

 

Peristiwa Presiden Prabowo Subianto mengundang Bill Gates — pendiri Microsoft sekaligus filantropis global — bersilaturahmi dan berdiskusi dengan para taipan besar Indonesia bukan sekadar kunjungan kenegaraan biasa. Ini adalah momen lintas kekuatan, di mana kekuatan ekonomi global dipadukan dengan jaringan oligarki domestik untuk membentuk narasi baru tentang arah pembangunan Indonesia di era Prabowo.


Dari satu sisi, kehadiran Gates di Istana Merdeka diposisikan sebagai pengakuan terhadap peran Indonesia dalam isu global seperti kesehatan dan nutrisi anak. Gates Foundation diketahui mendukung program pemerintah, terutama program Makan Bergizi Gratis (MBG), yang menjadi salah satu andalan pemerintahan Prabowo dalam menangani stunting, gizi buruk, dan kemiskinan struktural. Pemerintah menekankan bahwa kolaborasi ini bukan sekadar mencari bantuan, melainkan investasi masa depan bangsa.


Namun, kritik tajam muncul ketika kita mempertanyakan kepentingan di balik kolaborasi tersebut: apakah ini benar-benar tentang kesejahteraan publik, atau bagian dari realpolitik kapitalisme global yang memanfaatkan otoritas negara untuk membuka ruang pengaruh filantropis dan modal swasta?


Gates bukan hanya sekadar tokoh filantropi; ia melambangkan jaringan capital philanthropy yang mampu membentuk agenda kesehatan, pendidikan, hingga arah investasi di banyak negara berkembang. Kunjungan semacam ini berimplikasi ganda.


Model Pembangunan Berbasis Filantropi: Kolaborasi Gates Foundation bisa memberikan dukungan nyata dalam isu kesehatan publik — dari pencegahan penyakit menular hingga nutrisi anak. Indonesia, seperti negara berkembang lain, sangat butuh sumber daya dan keahlian teknis semacam itu. Namun, masuknya filantropi global dalam urusan negara menimbulkan ketergantungan normatif — yaitu norma dan prioritas pembangunan dibentuk bukan hanya oleh rakyat dan negara, tetapi juga oleh lembaga swasta yang memiliki agenda tersendiri.


Hubungan Negara-Oligarki dalam Latar Global: Pertemuan tertutup dengan taipan RI — seperti yang dilaporkan terjadi menyusul kunjungan Gates — menunjukkan bagaimana kekuatan ekonomi domestik dipanggil untuk berkoalisi dengan kekuatan global. Ini bisa berarti sinergi positif untuk investasi dan inovasi, tetapi juga bisa memperkuat dominasi oligarki dalam pengambilan keputusan ekonomi negara.


Diplomasi yang Difilter oleh Ekonomi: Undangan Gates tidak terjadi di ruang publik yang luas, tetapi di ruang tertutup Istana, dikelilingi para pemain utama kapital Indonesia. Ini bukan praktik diplomasi biasa; ini adalah bentuk lobby kapital global yang terlokalisasi di Bandung, Jakarta, atau Istana Merdeka. Hasil dan batasan dari interaksi semacam ini tidak sepenuhnya transparan kepada publik.


Lebih jauh lagi, ada perdebatan normatif tentang peran filantropi dalam pemerintahan: apakah negara mengendalikan agenda pembangunan rakyatnya sendiri, atau secara bertahap berkompromi pada narasi dan prioritas donor global? Kolaborasi global memang penting di dunia saling terhubung ini, tetapi harus ada batas yang meminimalisir risiko privatisasi agenda publik — ketika agenda kesehatan atau pendidikan dimoderasi oleh kekuatan modal eksternal.


Dalam konteks Indonesia saat ini, keterlibatan Gates memiliki arti strategis — terutama pada isu kesehatan yang membutuhkan dukungan sumber daya besar; tetapi seorang pemimpin harus berhati-hati agar kolaborasi tidak berubah menjadi dominasi baru yang mengaburkan tanggung jawab negara terhadap warganya sendiri. BS*


Baca Juga

https://www.potretkita.net/2026/01/edukasi-lapangan-dan-instrumen-politik.html


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Bottom Ad

Responsive Ads Here