Perumda AM Kota Padang Kebut Pemulihan Layanan Air Bersih, Dirut Tegaskan Pelanggan Tak Akan Ditinggalkan - PotretKita Online

Breaking

Home Top Ad

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Senin, 19 Januari 2026

Perumda AM Kota Padang Kebut Pemulihan Layanan Air Bersih, Dirut Tegaskan Pelanggan Tak Akan Ditinggalkan



PADANG – Perusahaan Umum Daerah Air Minum (Perumda AM) Kota Padang terus mempercepat pemulihan layanan air bersih pasca bencana banjir bandang yang melanda kota tersebut. Direktur Utama Perumda AM, Hendra Pebrizal, memastikan bahwa pihaknya tidak akan membiarkan pelanggan “berjuang sendiri” dalam menghadapi gangguan layanan. 


Manajemen mencatat bahwa saat ini masih ada sekitar 2,3 persen pelanggan di wilayah Utara Kota Padang yang mengalami gangguan distribusi air akibat rusaknya infrastruktur utama, seperti pipa dan jembatan pipa yang menjadi jalur utama suplai air. 


Menurut Kasubag Humas Adhie Zein, tim teknis bersama mitra, termasuk pihak Hutama Karya (HK), tengah mempercepat pemasangan pipa transmisi jalur dua menuju Intake Palukahan. Langkah ini diharapkan dapat memperkuat pasokan air ke wilayah yang paling terdampak, seperti Lubuk Buaya. 


Sebagai bagian dari upaya pemulihan layanan, Perumda AM juga mengoperasikan 15 unit mobil tangki air yang beroperasi 24 jam untuk memastikan kebutuhan air bersih harian masyarakat tetap terpenuhi, terutama di kawasan yang belum tersambung kembali ke jaringan.


Namun di wilayah pusat kota, tim menghadapi tantangan kualitas air baku yang masih sangat keruh akibat kondisi alam pasca banjir. Demi menjaga standar kesehatan, pengolahan air dilakukan secara hati‑hati sebelum didistribusikan ke pelanggan.

Dirut Hendra menyampaikan apresiasi atas kesabaran warga dan menegaskan komitmen perusahaan untuk memulihkan layanan sepenuhnya.


“Air bukan sekadar kebutuhan — ia adalah kehidupan. Kami tidak akan membiarkan pelanggan berjuang sendiri,” ujar Hendra.


Dia menambahkan bahwa kendala alam memang mempengaruhi proses teknis, namun seluruh sumber daya dikerahkan untuk mempercepat normalisasi layanan. Perumda AM menargetkan layanan bisa kembali 100 persen normal, meskipun kondisi cuaca masih menjadi faktor yang harus dihormati.


Manajemen juga mengimbau warga untuk tetap waspada terhadap perubahan cuaca dan menyiapkan wadah penampungan air cadangan, sekaligus melaporkan bila terjadi gangguan layanan.


Bencana alam tidak pernah memberi peringatan, namun dampaknya selalu nyata bagi kehidupan masyarakat. Fenomena banjir bandang yang melanda Gunung Nago dan sekitarnya beberapa waktu lalu menjadi pengingat keras bahwa infrastruktur vital—seperti pipa air bersih—bisa hancur dalam sekejap. Perumda Air Minum (AM) Kota Padang kini berada di garis depan, bukan sekadar sebagai penyedia layanan, tetapi sebagai garda penyangga kehidupan publik.


Berita terbaru dari Dirgantara Online menegaskan bagaimana Perumda AM menanggapi krisis ini dengan langkah-langkah konkret: mempercepat pemasangan jalur pipa transmisi kedua, menurunkan armada tangki secara maraton, dan menyesuaikan kualitas distribusi air demi keamanan kesehatan masyarakat. Direktur Utama Hendra Pebrizal menegaskan, air bukan hanya kebutuhan, melainkan hak hidup. Pernyataan ini bukan retorika, melainkan komitmen yang diuji dalam situasi ekstrem.


Namun, di balik upaya heroik ini, esai ini ingin menyoroti dua hal kritis. Pertama, soal ketahanan infrastruktur. Kerusakan pipa utama karena banjir bandang menunjukkan bahwa sistem distribusi air Kota Padang belum sepenuhnya siap menghadapi bencana. Investasi strategis untuk memperkuat jalur kritis dan diversifikasi sumber air seharusnya menjadi prioritas jangka panjang, bukan sekadar perbaikan darurat. Kedua, soal komunikasi dan edukasi publik. Masyarakat dihimbau menyimpan cadangan air, tetapi strategi mitigasi bencana yang lebih sistematis—misal simulasi gangguan, pemetaan risiko, dan edukasi hemat air—masih bisa diperkuat.


Yang patut diacungi jempol adalah sikap empati Perumda. Distribusi air melalui 15 mobil tangki hingga dini hari, kolaborasi dengan Hutama Karya, serta penekanan pada kualitas air menunjukkan bahwa pelayanan publik bukan sekadar mekanisme teknis, tetapi bentuk keberpihakan pada warga. Dalam konteks ini, krisis bukan sekadar ujian operasional, melainkan tes integritas dan prioritas kemanusiaan.


Pada akhirnya, pengalaman ini membuka mata: pelayanan publik harus dibangun bukan hanya untuk kondisi normal, tetapi untuk ketahanan dalam kondisi ekstrem. Kecepatan teknis tanpa perencanaan strategis hanya bersifat sementara; empati tanpa fondasi infrastruktur akan rapuh saat bencana berikutnya datang. Perumda AM Kota Padang berada di jalur yang tepat, tetapi tantangan sesungguhnya adalah menjadikan pengalaman ini sebagai momentum transformasi sistemik, sehingga tidak ada lagi warga yang harus “berjuang sendiri” demi air bersih—hak dasar setiap manusia. RP/BS*

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Bottom Ad

Responsive Ads Here