![]() |
PADANG PANJANG –Pada Sabtu malam itu, tepatnya 3 Januari 2026 lalu, Pemerintah Kota Padang Panjang telah mengadakan kegiatan pisah sambut Kapolres di Pendopo Rumah Dinas Wali Kota. Kegiatan ini menjadi momentum penghormatan terhadap pengabdian AKBP Kartyana Widyarso Wardoyo Putro, S.I.K., M.A.P., yang mengakhiri masa tugasnya sebagai Kapolres Padang Panjang dan bersiap menjalankan tugas baru sebagai Kapolres Dharmasraya.
Acara dihadiri oleh Wali Kota Hendri Arnis beserta istri, Wakil Wali Kota Allex Saputra, Ketua dan Wakil Ketua DPRD, unsur Forkopimda, kepala OPD, ninik mamak, alim ulama, bundo kanduang, serta tokoh masyarakat. Kehadiran para pejabat dan tokoh menggambarkan apresiasi masyarakat terhadap kepemimpinan AKBP Kartyana selama dua tahun terakhir.
Dalam sambutannya, AKBP Kartyana menyampaikan ucapan terima kasih kepada seluruh elemen masyarakat dan jajaran Pemerintah Kota Padang Panjang atas sinergi, dukungan, dan kebersamaan selama ia bertugas. Ia juga menyampaikan permohonan maaf apabila selama menjalankan tugas terdapat kekhilafan, baik dalam sikap maupun tutur kata.
“Padang Panjang akan selalu memiliki tempat tersendiri di hati saya. Jangan anggap kami sebagai orang jauh. Sekali orang Padang Panjang, selamanya tetap orang Padang Panjang.”
Walaupun berpindah tugas, AKBP Kartyana berjanji akan membawa pengalaman berharga yang diperoleh selama bertugas di Padang Panjang ke tempat yang baru, serta menyambut hangat kesempatan untuk kembali berkunjung apabila rindu terhadap kebersamaan dengan masyarakat dan Forkopimda setempat.
Acara ini juga sekaligus menjadi penyambutan terhadap pejabat Kapolres Padang Panjang yang baru, AKBP Wisnu Hadi, S.I.K., M.I.K., yang diharapkan dapat melanjutkan sinergi dalam menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat di kota tersebut.
Berikut essai tajam mengenai Pisah Sambut Kapolres Padang Panjang, berdasarkan pemberitaan yang ada:
“Pisah Sambut Kapolres Padang Panjang: Antara Simbolisme dan Tantangan Nyata Kepemimpinan Kepolisian Lokal”
Acara pisah sambut Kapolres Padang Panjang yang resmi digelar pada 3 Januari 2026 di Pendopo Rumah Dinas Wali Kota Padang Panjang bukan sekadar ritual seremonial pergantian jabatan. Kegiatan ini, bagi masyarakat dan elite daerah, menjadi representasi sinergi antara institusi kepolisian dan pemerintah daerah dalam upaya menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas) di kota kecil yang kental akan tradisi Minangkabau ini.
Sebagai bentuk penghormatan, pejabat lama AKBP Kartyana Widyarso Wardoyo Putro menyampaikan rasa terima kasih atas dukungan yang diterima selama hampir dua tahun berdinas di Padang Panjang, serta permohonan maaf atas kekhilafan yang mungkin terjadi selama masa jabatannya. Ia pun menegaskan bahwa hubungan emosional dengan kota ini tetap terjaga, meskipun tugas barunya kini berpindah ke Dharmasraya.
Dari sudut pandang, pernyataan seperti “Padang Panjang akan selalu memiliki tempat tersendiri di hatinya” memproyeksikan rasa kelekatan sosial seorang pemimpin terhadap komunitas yang dipimpinnya. Ini bukan sekadar ungkapan sopan santun, tetapi mencerminkan kebutuhan psikis seorang pejabat publik dalam melanjutkan goodwill yang telah terbentuk. Hal ini penting, terutama di sebuah kota yang struktur sosialnya relatif rapat, di mana interaksi langsung antara masyarakat, tokoh adat, ulama, dan kepolisian sangat menentukan atmosfer kamtibmas di sana.
Sekalipun acara tersebut diselimuti nuansa kekeluargaan dan apresiasi, ada beberapa pertanyaan struktural yang perlu diajukan sebagai bekal buat beliau:
Bagaimana substansi nyata sinergi yang dibangun?
Pesan Wali Kota dan pemangku daerah lainnya menekankan perlunya sinergi berkelanjutan antara Polres dan Pemda dalam menjaga ketertiban masyarakat. Program yang telah berjalan selama kepemimpinan Kartyana dan dampaknya terhadap perbaikan kualitas pelayanan kepolisian. Sebuah testimonial hangat.
Apakah kepemimpinan bersifat personal atau institusional?
Pernyataan Kapolres yang ingin tetap dianggap bagian dari kota ini mencerminkan kepemimpinan yang kuat secara personal. Tantangan terpenting bukanlah sekadar “rasa rindu” terhadap kebersamaan Forkopimda, melainkan bagaimana meninggalkan mekanisme hubungan yang kuat secara institusional — agar kolaborasi antara Polres dan masyarakat tetap berjalan walau ada pergantian figur.
Selama masa jabatannya, Kapolres Kartyana bukan hanya hadir dalam acara formal, melainkan juga aktif dalam berbagai kegiatan yang memperkuat jaringan kepolisian dengan elemen masyarakat — seperti silaturahmi dengan tokoh agama dan koordinasi dengan media massa. Ini penting untuk menggambarkan fungsi kepolisian yang proaktif, bukan reaktif.
Evaluasi pendekatan community policing:
Selama pisah sambut harus dibarengi dengan evaluasi atas pendekatan pelayanan kepolisian yang lebih berbasis komunitas (community policing). Apa saja inisiatif yang berhasil menurunkan angka aduan publik, atau bagaimana respons pelayanan terhadap situasi krusial seperti bencana alam, konflik sosial, dan gangguan kamtibmas? Pernyataan apresiasi dari Wali Kota termasuk itu, namun sejatinya perlu dievaluasi berdasar data empiris.
Sebagai penutup, pisah sambut ini adalah momentum reflektif — bukan sekadar seremoni. Kepemimpinan kepolisian lokal acap kali menjadi jembatan antara kekuatan negara dan kehendak masyarakat. Alangkah ironis bila momentum seperti ini hanya menjadi ajang pidato hangat tanpa evaluasi kritis atas substansi kerja nyata di bidang keamanan publik. Sebuah kota yang aman bukan hanya untuk dikenang dalam lafal pidato, tetapi harus dirasakan dalam keseharian warga. Forkopimda*


.gif)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar