Penghargaan Upakarya Wanua Nugraha di Dharmasraya - PotretKita Online

Breaking

Home Top Ad

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Senin, 26 Januari 2026

Penghargaan Upakarya Wanua Nugraha di Dharmasraya



DHARMASRAYA — Kabupaten Dharmasraya kembali mencatat prestasi membanggakan di tingkat nasional melalui penghargaan Upakarya Wanua Nugraha Tahun 2025 yang diterima oleh Bupati Annisa Suci Ramadhani pada Puncak Peringatan Hari Desa Nasional (Hardesnas) 2026 di Boyolali, Jawa Tengah. 


Penghargaan Upakarya Wanua Nugraha itu bukan sekadar plakat prestise. Ini adalah pengakuan formal dari pemerintah pusat — baik Kementerian Dalam Negeri maupun Kementerian Desa — terhadap kepala daerah yang berhasil membina desa dan kelurahan secara konsisten hingga mencapai prestasi tingkat nasional. Dalam konteks Dharmasraya, penghargaan ini diberikan kepada Bupati Annisa Suci Ramadhani atas keberhasilan pemerintah kabupaten dalam membina pemerintahan desa sehingga salah satu nagarinya, Nagari Sungai Duo, ditetapkan sebagai yang terbaik nasional dalam penilaian kinerja pemerintahan desa/kelurahan. 


Penghargaan ini adalah pengakuan terhadap kerja kolektif: antara pemerintah kabupaten, perangkat desa/nagari, dan masyarakat lokal. Namun lebih dari itu, penghargaan tersebut membuka ruang untuk refleksi serius terhadap peran desa sebagai tulang punggung pembangunan ekonomi nasional, sebagaimana ditegaskan oleh Bupati.


Desa: Titik Berat Pembangunan yang Sering Terabaikan


Dalam wacana pembangunan nasional, perhatian sering terpusat pada kota — infrastruktur besar, investasi asing, dan pusat pertumbuhan industri. Akibatnya, desa, meski menjadi mayoritas wilayah dan penduduk Indonesia, kerap dipandang sebagai “peripheral” dalam peta prioritas ekonomi. Namun penghargaan seperti Upakarya Wanua Nugraha justru menandakan bahwa kekuatan fundamental perekonomian Indonesia berakar kuat di desa-desa: wilayah yang memproduksi bahan baku pertanian, memelihara kearifan lokal, dan menggerakkan konsumsi domestik melalui aktivitas ekonomi produktif mikro dan kecil. 


Ekonomi nasional bukan sekadar angka pertumbuhan di pusat, tetapi akumulasi produktivitas di seluruh penjuru negeri. Ketika nagari seperti Sungai Duo berhasil meraih peringkat terbaik dalam tata kelola pemerintahan desa — termasuk administrasi, pelayanan publik, dan pemberdayaan masyarakat — itu mencerminkan bahwa dasar ekonomi yang kuat dapat dibangun dari bawah naik ke atas. Ketika desa maju, pemerintahan pusat pun diuntungkan oleh stabilitas sosial, ketahanan pangan, dan basis produksi yang kuat.


Kritik terhadap Paradigma Pembangunan Nasional


Namun, penghargaan ini juga membawa pertanyaan tajam: apakah prestasi ini sekadar anugerah seremonial, atau benar-benar menjadi transformasi struktural dalam pembangunan nasional?


Bukan Sekadar Prestasi Lokal, Tapi Ujian Tata Kelola

Penghargaan Upakarya Wanua Nugraha mendorong daerah untuk berkompetisi menuju tata kelola pemerintahan desa yang lebih baik. Namun jika praktik terbaik hanya terkonsentrasi di beberapa desa unggul, ini berarti masih ada ketimpangan besar dalam kapasitas pemerintah desa di wilayah lain — yang tidak hanya soal sumber daya, tetapi juga masalah pemberdayaan masyarakat dan akses modal.


Ekonomi Desa Tidak Boleh Dipandang Sampingan

Mengatakan “ekonomi nasional dibangun dari desa” adalah benar secara filosofi — desa menyumbang kapasitas produksi primer dan pasar domestik. Namun tanpa dukungan kebijakan yang kuat (dana desa yang transparan, akses teknologi, konektivitas pasar), retorika ini bisa tetap berhenti di level pidato. Desa membutuhkan lebih dari sekadar penghargaan; mereka butuh kebijakan terintegrasi yang menjadikan mereka bagian dari rantai nilai nasional dan global.


Desentralisasi yang Tidak Merata

Penghargaan ini mengingatkan bahwa banyak kepala daerah lain juga meraih penghargaan serupa, menunjukkan bahwa prestasi desa yang baik bukan hanya fenomena tunggal — ini bisa direplikasi asalkan ada komitmen nyata dari pemerintah daerah dan pusat. Harianhaluan.id


Antara Retorika dan Realisasi


Prestasi Dharmasraya adalah contoh nyata bahwa pemerintah daerah mampu menjadikan desa sebagai poros pembangunan yang efektif. Tetapi kritik tajamnya adalah: penghargaan ini harus menjadi momen evaluasi, bukan sekadar legitimasi. Desa memang fondasi ekonomi nasional, namun fondasi itu hanya akan kuat jika dibangun dengan kebijakan berkelanjutan, pemberdayaan masyarakat, serta integrasi desa dalam jaringan ekonomi yang lebih luas. Jika tidak, “ekonomi nasional dibangun dari desa” beresiko hanya menjadi slogan yang elok diucapkan, namun minim implementasi.


Penghargaan tersebut diserahkan langsung oleh Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi RI, Yandri Susanto, sebagai bentuk apresiasi atas keberhasilan Pemerintah Kabupaten Dharmasraya dalam membina pemerintahan desa hingga berprestasi di tingkat nasional. Upakarya Wanua Nugraha khusus diberikan kepada kepala daerah yang wilayahnya berhasil meraih Peringkat I Pemdeskel Award Tingkat Nasional Tahun 2025. 


Dalam kesempatan ini, Nagari Sungai Duo di Kecamatan Sitiung juga tampil cemerlang dengan dinobatkan sebagai Juara I Lomba Tata Kelola Pemerintahan Desa Tingkat Nasional 2025, yang sekaligus menggambarkan tata kelola desa yang profesional, transparan, serta partisipatif dalam pelayanan kepada masyarakat. 


Bupati Annisa menegaskan bahwa keberhasilan ini menunjukkan tekad kuat Dharmasraya dalam mengembangkan ekonomi nagari, memperkuat ketahanan pangan, dan memberdayakan masyarakat desa, sejalan dengan prinsip bahwa ekonomi nasional dibangun dari desa sebagai pondasi utama pembangunan bangsa. 


Capaian ini diharapkan menjadi motivasi bagi seluruh nagari di Dharmasraya untuk terus berinovasi, meningkatkan kualitas pelayanan publik, serta memperkuat peran desa dalam pembangunan yang berorientasi pada kesejahteraan masyarakat. dharmasrayakab.go.id*


Baca Juga

https://www.potretkita.net/2026/01/presiden-prabowo-menegaskan-riset.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Bottom Ad

Responsive Ads Here