Longsor di Bandung Barat: 8 Orang Tewas, 82 Masih Hilang - PotretKita Online

Breaking

Home Top Ad

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Sabtu, 31 Januari 2026

Longsor di Bandung Barat: 8 Orang Tewas, 82 Masih Hilang




BANDUNG –Sabtu dini hari, Desa Pasirlangu di Kecamatan Cisarua, Bandung Barat, diguncang oleh sebuah tragedi yang memilukan: setidaknya 8 orang tewas dan 82 lainnya masih hilang akibat longsor besar yang menimbun permukiman warga. Kejadian ini bukan hanya angka statistik — ini bukti nyata bahwa ketika alam lepaskan tekanan lewat hujan deras dan tanah yang tak lagi stabil, manusia yang terlanjur bercokol di kaki lereng menjadi pihak yang paling rentan. 


Longsor, dalam banyak kultur, kerap dipandang sebagai “bencana alam yang tak terelakkan”. Namun narasi itu terlalu sederhana dan, lebih dari itu, berisiko mengaburkan tanggung jawab kita sebagai masyarakat dan pembuat kebijakan. Data awal SAR menunjukkan bahwa 113 warga terdampak langsung, tetapi puluhan rumah hancur tertimbun tanah, sementara 23 orang berhasil selamat di tengah reruntuhan.


Apa yang menyebabkan tanah ini “melahap” permukiman manusia? Para ahli dan pejabat lokal menyinggung dua faktor utama: hujan ekstrem berkepanjangan serta perubahan penggunaan lahan di lereng-lereng di sekitar kawasan permukiman. Transformasi lahan dari kawasan dengan tanaman keras menjadi area pertanian palawija, yang akar tanamannya lebih dangkal, mengurangi stabilitas tanah dan meningkatkan risiko longsor saat hujan deras. 


Hal ini membuka pertanyaan mendasar: siapa yang seharusnya bertanggung jawab ketika wilayah rawan longsor ini tetap dibuka untuk permukiman atau ditanami tanpa persiapan teknis yang memadai? Ketika perubahan fungsi lahan digabung dengan hujan ekstrem akibat perubahan iklim, kombinasi ini bukan lagi sebuah kemungkinan statistik yang rendah — melainkan ancaman yang semakin sering terjadi di banyak wilayah di Indonesia.


Pemerintah Kabupaten Bandung Barat telah menetapkan status darurat bencana untuk mempercepat respons darurat dan distribusi bantuan. Ini langkah yang tepat sebagai penanganan jangka pendek — namun respons semacam itu hanya bersifat reaktif. Tanpa usaha serius untuk memetakan zona risiko, mengatur penggunaan lahan di kawasan lereng, serta memperkuat sistem peringatan dini, kita hanya akan terus mengejar korban berikutnya, bukan mencegah bencananya sejak awal.


Selain itu, operasi pencarian dan evakuasi yang masih berjalan kini menghadapi tantangan besar: cuaca buruk yang terus mengguyur wilayah tersebut, memperlambat upaya SAR dan mengancam keselamatan tim di lapangan. Tim gabungan dari Basarnas, BPBD, TNI/Polri, serta relawan kini bergulat tidak hanya dengan tanah yang labil tetapi juga kondisi meteorologis yang tidak bersahabat — sebuah gambaran betapa kesiapsiagaan kita masih kalah cepat dibandingkan kekuatan alam yang berubah cepat. 


Semua ini menunjuk pada suatu kenyataan pahit: bencana seperti longsor Cisarua bukan sekadar “amal alam” yang tiba-tiba tanpa sebab, tetapi cermin dari kombinasi perubahan iklim, ketidakpatuhan pada tata ruang yang bijak, dan kelemahan sistem mitigasi risiko bencana kita. Setiap korban jiwa yang hilang di bawah tanah Cisarua adalah sebuah panggilan agar kita menggeser paradigma dari sekadar reaktif menjadi proaktif — dari meratapi tragedi setelah terjadi, menjadi mencegah dan meminimalkan tragedi sebelum meluluhlantakkan komunitas.


Kita perlu melihat tragedi ini sebagai titik bangkit: memperkuat sistem peringatan dini, memperjelas regulasi penggunaan lahan di wilayah rawan longsor, dan menanamkan budaya kesiapsiagaan di masyarakat. Alam tidak bisa di­-undang pulang begitu saja—tapi manusia bisa belajar untuk hidup bersama dan lebih cerdas di tengahnya.


Kejadian sekitar pukul 02.30 WIB, saat sebagian warga masih tertidur.


Longsor dipicu oleh hujan intensitas tinggi di lereng Gunung Burangrang yang mengakibatkan tanah dan material longsor bergerak deras ke pemukiman. 


8 orang dipastikan meninggal dunia setelah material longsoran menimbun rumah. 82 orang lainnya masih dinyatakan hilang dan dalam proses pencarian oleh tim SAR gabungan. Sebanyak 23 orang berhasil diselamatkan dalam kondisi selamat. Total warga terdampak mencapai 113 jiwa dari sekitar 34 kepala keluarga. 


Operasi SAR melibatkan Basarnas, BPBD Jawa Barat, TNI/Polri, tim SAR lokal, dan relawan. Pencarian korban masih berlangsung meskipun cuaca buruk dan hujan deras menyulitkan proses evakuasi di medan yang tidak stabil. Hujan deras yang terus mengguyur sejak malam menjadi faktor utama terjadinya longsor.


Wilayah Jawa Barat saat ini masih dalam status siaga bencana hidrometeorologi karena curah hujan tinggi selama musim hujan yang biasanya berlangsung hingga Maret. Prokalteng


Pemerintah daerah dan BNPB terus memantau situasi, memperluas pencarian korban, serta menyiapkan tempat evakuasi dan bantuan bagi keluarga terdampak. Warga di daerah rawan diminta tetap waspada dan mengikuti arahan otoritas setempat.BMN*

Baca Juga

https://www.potretkita.net/2026/01/kepala-bgn-ungkap-gaji-pegawai-dapur.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Bottom Ad

Responsive Ads Here