![]() |
PADANG PANJANG —Hari kedua rangkaian bakti sosial kemanusiaan dari Indo Jalito Peduli (IJP) di Sumatera Barat dimulai dengan mengunjungi kota Padang Panjang pada Sabtu pagi, 17 Januari 2026 lalu.
Berangkat dari Padang, rombongan menuju pendopo rumah dinas Wali Kota Padang Panjang dan langsung disambut oleh Ketua TP-PKK yang sekaligus Ketua LKKS Kota Padang Panjang, Maria Feronika Hendri dan rombongan IJP disuguhkan sarapan Katupek Pitalah serta Bubur Kampiun.
Pada kunjungan kali ini, Ketua IJP, Astri Asgani menyerahkan bantuan uang tunai dengan total Rp. 40.600.000.- serta bingkisan kain sarung untuk disalurkan kepada 116 orang (34 KK) yang masing masingnya menerima Rp. 350.000.- bagi korban bencana banjir bandang dan longsor yang melanda Padang Panjang pada akhir November 2025 lalu.
Astri Asgani menyampaikan bahwa bantuan tersebut merupakan wujud kasih sayang dan kepedulian Indo Jalito Peduli kepada sesama yang terdampak bencana di Padang Panjang.
Selepas acara bakti sosial kemanusiaan di Padang Panjang, rombongan IJP menuju daerah Malalo dan nagari Tambangan di kabupaten Tanah Datar dimana sore harinya rombongan IJP kembali dijamu oleh pemerintah kota Padang Panjang dengan menikmati sate Syukur sebelum kembali menuju kota Padang.
Ketika Kepedulian Tidak Cukup Sekadar Seremonial
Di tengah hiruk-pikuk birokrasi dan janji pemulihan pascabencana yang sering berumur pendek, kedatangan Indo Jalito Peduli (IJP) ke Padang Panjang seolah menjadi pengingat: negara boleh lambat, tetapi empati tak boleh menunggu.
Bantuan Rp350 ribu per orang tentu bukan angka yang mampu menghapus trauma banjir bandang dan longsor. Ia tak bisa mengganti rumah yang runtuh, ladang yang hilang, atau rasa aman yang ikut hanyut bersama lumpur. Namun justru di situlah maknanya—kepedulian sejati tidak selalu diukur dari besar kecilnya angka, melainkan dari kehadiran yang tulus dan konsisten.
Yang patut digarisbawahi, aksi kemanusiaan seperti ini sering kali dilakukan oleh komunitas dan relawan, sementara negara masih sibuk menghitung anggaran, menyusun laporan, dan berdebat soal kewenangan. Bencana datang tiba-tiba, tetapi respons sering kali datang terlambat. Masyarakat akhirnya belajar satu hal pahit: dalam kondisi darurat, harapan pertama bukan lagi pada sistem, melainkan pada solidaritas.
Ironisnya, seremoni penyambutan dengan hidangan khas dan jamuan makan kerap terlihat lebih rapi daripada skema pemulihan jangka panjang. Kita pandai menyambut tamu, tetapi gagap saat memastikan korban benar-benar pulih. Foto-foto penyerahan bantuan cepat beredar, namun rencana rehabilitasi sering menguap begitu kamera dimatikan.
Indo Jalito Peduli telah menunjukkan bahwa kepedulian bisa bergerak lintas daerah tanpa banyak retorika. Kini pertanyaannya berbalik ke para pemangku kebijakan: sampai kapan empati publik harus menambal kelambanan sistem? Sampai kapan solidaritas warga dijadikan cadangan darurat atas kegagalan perencanaan?
Bencana bukan hanya ujian alam, melainkan cermin tata kelola. Jika yang terus bergerak adalah relawan, sementara negara sekadar hadir dalam sambutan, maka yang perlu dibenahi bukan cuaca, melainkan cara kita memaknai tanggung jawab.
Karena pada akhirnya, bantuan memang bisa datang dari siapa saja. Tapi keadilan sosial—itu seharusnya tidak bersifat sukarela. (M.Intania/Red.Jm)*
Baca Juga
https://www.potretkita.net/2026/01/inilah-alasan-pertemuan-silaturrahmi.html


.gif)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar