![]() |
TANAH DATAR — Gubernur Sumatera Barat ( Mahyeldi Ansharullah Hadiri pemasangan pipanisasi air bersih bagi masyarakat terdampak bencana banjir bandang di Jorong Muaro Ambius, Nagari Guguak Malalo, Kecamatan Batipuah Selatan, Kabupaten Tanah Datar, Sabtu (17/1/2026).
Kegiatan tersebut dihadiri Kepala Dinas BMCKTR Sumbar Armi, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Sumbar Syefdinon, Kepala Biro Adpim Setdaprov Sumbar Nolly Eka Mardianto, Anggota DPRD Tanah Datar Jamal Ismail, Wali Nagari Guguk dan Tokoh masyarakar serta sejumlah mahasiswa KKN Universitas Negeri Padang (UNP).
Gubernur Mahyeldi menyampaikan program pipanisasi air bersih ini difasilitasi oleh Badan Pengelola Wakaf Rangkiang Peduli Negeri (RPN). Ia menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi membantu pemulihan kebutuhan dasar masyarakat.
“Pemulihan pascabencana di Sumatera Barat bisa berjalan lebih cepat karena adanya kebersamaan seperti ini. Bantuan tidak hanya datang dari pemerintah, tetapi juga dari berbagai lembaga dan sesama masyarakat. Inilah kekuatan gotong royong yang harus terus kita jaga,” ujar Gubernur Mahyeldi.
Ketua Rangkiang Peduli Negeri (RPN) Sumbar, Zeng Welf menyampaikan total donasi yang berhasil dihimpun RPN untuk membantu daerah terdampak bencana mencapai sekitar Rp1,5 miliar. Sebagian dari dana tersebut dialokasikan untuk penyediaan pipanisasi air bersih di Jorong Muaro Ambius.
Proses pengerjaan pipanisasi dilakukan dengan melibatkan relawan pendamping serta masyarakat setempat secara bergotong royong. Seluruh pipa yang dipasang merupakan hasil wakaf para wakif yang dikoordinir melalui Lazisku dan Lazismu, kemudian dipercayakan kepada RPN untuk pelaksanaannya.
“Alhamdulillah, hingga saat ini terdapat sekitar 50 NGO dari luar Sumatera Barat yang menyalurkan donasi melalui RPN. Total donasi yang terkumpul kurang lebih berjumlah Rp1,5 miliar.
Air bersih kerap disebut kebutuhan paling dasar, namun ironisnya justru menjadi barang paling langka ketika bencana datang. Di Muaro Ambius, Nagari Guguak Malalo, banjir bandang bukan hanya merobohkan rumah dan jalan, tetapi juga memutus hak paling elementer warga: akses terhadap air bersih. Maka, pemasangan pipanisasi yang dihadiri Gubernur Mahyeldi bukan sekadar agenda seremonial—ia adalah pengingat keras tentang siapa yang benar-benar hadir ketika negara diuji.
Yang menarik, proyek ini tidak berdiri gagah atas nama APBD semata. Ia ditopang oleh wakaf, donasi, dan gotong royong. Rangkiang Peduli Negeri (RPN) tampil sebagai simpul kepercayaan publik, menghimpun dana hingga Rp1,5 miliar dari puluhan NGO lintas daerah. Di sinilah paradoks itu terasa: ketika masyarakat sipil bergerak cepat, negara kerap baru menyusul. Bukan untuk meniadakan peran pemerintah, tetapi untuk menegaskan bahwa pemulihan pascabencana tidak bisa bertumpu pada satu bahu.
Kehadiran Gubernur Mahyeldi memberi pesan politik yang jelas—negara mengakui dan menghargai kerja kolektif. Namun, apresiasi saja tidak cukup. Gotong royong tidak boleh menjadi dalih untuk membiarkan sistem kesiapsiagaan dan infrastruktur air kita tetap rapuh. Wakaf pipa dan relawan adalah solusi darurat yang mulia, tetapi tanggung jawab jangka panjang tetap milik negara: memastikan tata kelola air yang tahan bencana, merata, dan berkelanjutan.
Muaro Ambius mengajarkan satu hal penting: solidaritas sosial adalah energi tercepat saat krisis, tetapi kebijakan publik adalah mesin yang harus memastikan krisis tak berulang dengan luka yang sama. Jika tidak, kita akan terus merayakan pemasangan pipa sebagai prestasi, alih-alih bertanya mengapa pipa itu selalu harus dipasang setelah air bah datang. (rel/mdtk)
Baca Juga
https://www.potretkita.net/2026/01/indo-jalito-peduli-kunjungi-kota-padang.html


.gif)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar