![]() |
JAKARTA — Sebuah pertemuan silaturrahmi antara perantau Minangkabau dengan organisasi masyarakat, lembaga filantropi, dan organisasi non‑profit berhasil menghimpun donasi sebesar Rp1 miliar untuk membantu masyarakat Sumatera Barat yang terdampak bencana hidrometeorologi. Acara tersebut digelar di Hotel Balairung, Jakarta pada Sabtu malam (10/1/2026) lalu.
Gubernur Sumatera Barat, Mahyeldi Ansharullah, yang hadir dalam kegiatan ini menyampaikan bahwa hubungan antara perantau dan kampung halaman adalah satu kesatuan. Ia menilai kepedulian para perantau sangat penting dalam meringankan beban warga yang sedang mengalami ujian bencana. “Alhamdulillah, malam ini berhasil terkumpul donasi sebesar Rp1 miliar untuk membantu saudara‑saudara kita yang terdampak bencana,” ujar Mahyeldi.
Dampak bencana yang melanda Sumbar cukup luas. Menurut Mahyeldi, bencana hidrometeorologi telah mempengaruhi 16 kabupaten/kota di provinsi ini, dengan 13 di antaranya menetapkan status tanggap darurat. Kerusakan tidak hanya bersifat fisik, tetapi juga mengganggu aspek sosial dan ekonomi masyarakat.
Pemprov Sumbar memperkirakan total nilai kerusakan mencapai lebih dari Rp15,6 triliun, dengan kerugian mencapai sekitar Rp17,9 triliun. Untuk pemulihan wilayah terdampak, dibutuhkan anggaran sekitar Rp22,6 triliun. Dokumen Rencana Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana (R3P) telah diajukan ke Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) sebagai panduan pelaksanaan rehabilitasi dan rekonstruksi.
Mahyeldi menegaskan bahwa sinergi antara pemerintah, perantau, dan elemen masyarakat lainnya sangat dibutuhkan dalam fase pemulihan pascabencana. Ia juga menyampaikan apresiasi yang tinggi atas kepedulian para perantau, dermawan, serta lembaga sosial yang turut memberikan dukungan. Bantuan dan doa dari berbagai pihak diharapkan bisa menjadi penguat moral bagi masyarakat Sumbar, apalagi menjelang bulan suci Ramadan.
Donasi yang terkumpul dari silaturrahmi ini akan disalurkan langsung untuk membantu komunitas dan keluarga yang terdampak bencana di Sumatera Barat. Inilah Alasan Pertemuan Silaturrahmi antara Perantau Minangkabau dengan Organisasi Masyarakat tersebut.
Bencana cuaca ekstrem yang terjadi akhir 2025 di Sumatra — termasuk banjir dan tanah longsor di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat — merupakan krisis besar dengan ribuan korban jiwa dan kerusakan luas, yang memicu banyak upaya bantuan dari pemerintah, komunitas, dan berbagai organisasi masyarakat. LI*
Baca Juga
https://www.potretkita.net/2026/01/korupsi-bukan-lagi-narasi-tapi.html


.gif)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar