PADANG — Masakan Padang kembali menegaskan posisinya sebagai salah satu kuliner paling mendunia. Mulai dari Jakarta hingga Papua, bahkan sampai London, rumah makan Padang mudah ditemukan. Namun ada satu fakta unik yang kerap membingungkan pendatang: di Kota Padang sendiri, hampir tidak ada warung yang memasang papan nama bertuliskan “Nasi Padang”.
Bagi masyarakat setempat, hal itu bukanlah kejanggalan. Justru sebaliknya, label “Nasi Padang” dianggap tidak diperlukan. “Di Padang, semua warung nasi ya masakan Padang. Kalau ada yang pakai spanduk ‘Nasi Padang’, malah jadi mencurigakan,” ujar seorang warga asli Padang sambil berseloroh. “Bisa jadi yang masak bukan urang awak.”
Keistimewaan rumah makan di Padang terletak pada konsistensi rasa. Tak peduli apakah warung tersebut berdiri megah di bangunan permanen atau sekadar di emperan jalan, standar kelezatannya nyaris seragam. Seorang pecinta nasi Padang asal luar daerah mengaku terkejut saat pertama kali berkunjung ke Padang. Ia masuk ke warung secara acak, tanpa rekomendasi apa pun, namun selalu berakhir puas.
“Ini warung nggak ada spanduk, tapi rasanya kayak masakan koki bintang lima,” ujarnya heran. Di Padang, masakan enak bukan lagi keunggulan, melainkan standar minimal.
Pengunjung yang datang juga akan dihadapkan pada pilihan klasik yang menjadi ciri khas rumah makan Padang: dihidang atau Ampera.
Pada sistem dihidang, pramusaji akan menyusun belasan piring lauk di atas meja—dari rendang, gulai, hingga aneka gorengan—menciptakan semacam “sirkus kuliner” yang memanjakan mata dan perut. Pelanggan tinggal memilih tanpa harus memesan satu per satu. Namun ada dua risiko yang mengintai: kolesterol dan dompet yang menipis.
Sementara itu, Nasi Ampera menawarkan konsep yang lebih sederhana dan bersahabat. Nasi dihidangkan di piring dengan lauk pilihan pelanggan. Istilah Ampera sendiri kerap diplesetkan menjadi “Amanat Penderitaan Rakyat”, karena porsinya yang mengenyangkan dan harganya yang ramah di kantong.
Lantas, dari sekian banyak lauk di rumah makan Padang, mana yang paling juara? Rendang legendaris, telur dadar barendo yang tebal dan gurih, atau justru usus goreng yang renyah? Jawabannya kembali pada selera masing-masing—karena di Padang, hampir semua pilihan sulit untuk tidak jatuh cinta.
Bagi wisatawan yang berkunjung ke Kota Padang, satu pesan penting patut diingat: jangan sibuk mencari tulisan “Nasi Padang”. Cukup ikuti asap dapur atau lihat tumpukan piring di balik etalase kaca. Di mana pun kaki melangkah, rendang sudah menunggu dengan setia. BS*
Baca Juga
https://www.potretkita.net/2026/01/polres-pasaman-barat-bersama-unsur.html


.gif)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar