![]() |
BATU BUSUK —Tim Balai Wilayah Sungai Sumatera (BWSS) V kembali menunjukkan kepeduliannya terhadap korban bencana. Rombongan meninjau lokasi yang masih tertutup sedimen lumpur akibat banjir dan longsor, dengan menempuh medan sulit menggunakan kendaraan roda dua.
Selain melakukan pemantauan langsung, tim juga aktif mengerjakan pembukaan jalur sungai yang tersumbat di kawasan Batu Busuk, untuk memperlancar aliran air dan mencegah potensi bencana susulan.
Kepedulian terhadap korban bencana alam sering diuji bukan hanya oleh besarnya kerugian material, tetapi juga oleh seberapa siap dan sigap respon yang ditunjukkan di lapangan. Dalam perjalanan tim BWSS V ke lokasi terdampak, kenyataan pahit langsung tersingkap: daerah itu masih “berselimut” sedimen lumpur, sisa banjir yang menghancurkan, dan mengaburkan infrastruktur vital.
Yang menarik dari liputan ini bukan hanya lokasi yang berat dan menantang, tetapi juga cara tim menelusurinya. Menggunakan kendaraan roda dua, rombongan menembus jalur yang nyaris tidak bisa dilewati kendaraan konvensional, sebuah simbol keteguhan dan improvisasi dalam kondisi kritis. Ini bukan sekadar pertunjukan heroik, tetapi representasi nyata dari bagaimana bantuan bencana sering membutuhkan keberanian, ketekunan, dan penyesuaian cepat terhadap medan yang ekstrem.
Fokus utama tim adalah pembukaan jalur sungai di Batu Busuk. Di balik aktivitas ini, tersirat pelajaran penting: bencana tidak hanya menghancurkan rumah dan jalan, tetapi juga mengganggu aliran sungai, ekosistem, dan sistem drainase yang bisa memicu risiko lebih besar jika tidak segera ditangani. Upaya BWSS V membuka jalur sungai bukan hanya sekadar fisik, tetapi juga simbol pemulihan infrastruktur sosial—memulihkan akses, komunikasi, dan konektivitas antar warga terdampak.
Namun, perjalanan ini juga menimbulkan pertanyaan mendasar tentang kesiapan mitigasi bencana di daerah rawan. Masih berselimutnya sedimen lumpur menunjukkan bahwa respon awal dan langkah pencegahan sebelumnya belum cukup efektif. Di sinilah peran media seperti Investigasi Channel menjadi vital: menghadirkan dokumentasi langsung ke publik, bukan sekadar cerita heroik, tetapi pengingat tentang pentingnya perencanaan, mitigasi, dan dukungan masyarakat terhadap korban bencana.
Secara keseluruhan, perjalanan BWSS V bukan hanya laporan aksi di lapangan, tetapi cermin dari realitas bencana yang kompleks: medan yang keras, risiko yang tinggi, dan kebutuhan akan strategi cepat namun tepat. Di balik roda dua yang menembus lumpur, tersimpan pesan penting: kepedulian bukan hanya soal kehadiran, tetapi kemampuan bertindak di tengah ketidakpastian. ITV*
Baca Juga
https://www.potretkita.net/2026/01/wako-bukittinggi-tinjau-pasa-ateh.html


.gif)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar