PADANG PANJANG—Kematian adalah kepastian yang tidak mengenal waktu, usia, maupun profesi. Setinggi apa pun jabatan seseorang, sebanyak apa pun harta yang dimiliki, semuanya akan berhenti pada satu titik yang sama: kembali menghadap Allah SWT. Karena itu, hidup sejatinya adalah perjalanan singkat untuk menyiapkan bekal terbaik sebelum waktu itu tiba.
Renungan Sesaat Tentang Bencana di Negeri Kita Sumatera:
Kepala Pusat Data Informasi dan Komunikasi (Kapusdatinkom) Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari memberikan update informasi terkait data korban bencana banjir dan longsor yang terjadi di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat, per hari kemarin, Selasa (23/12/2025).
Abdul Muhari mengatakan, hari ini ada penambahan korban meninggal dunia sebanyak enam jiwa.
Artinya korban meninggal akibat bencana banjir dan longsor Sumatra totalnya kini menjadi 1.112 jiwa.
Selanjutnya untuk korban hilang, pada hari ini jumlahnya bertambah satu orang, sehingga totalnya menjadi 176 jiwa.
Jumlah 176 jiwa yang hilang ini masih terus dilakukan pencarian oleh Tim SAR Gabungan yang berada di tiga provinsi, yakni di Aceh, Sumut, dan Sumbar.
Untuk jumlah pengungsi, per hari ini masih ada 498.447 jiwa yang masih mengungsi akibat bencana banjir dan longsor di Sumatra.
Dari jumlah pengungsi tersebut, ada pengungsi yang masih berada di titik pengungsian, ada yang sudah kembali ke rumah, dan ada yang sementara tinggal di rumah kerabat.
Namun untuk semua kebutuhan makanan dan non makanannya masih didukung oleh bantuan dari pemerintah.
Pascabencana Sumatra, Anak-anak Alami Gangguan Tidur dan Cemas
Pascabencana banjir bandang dan tanah longsor di Sumatera Barat, kesehatan mental anak-anak terdampak perlu jadi perhatian serius.
Renungan Kedua untuk Persiapan Diri:
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an Surah Fussilat ayat 34, bahwa kebaikan tidaklah sama dengan kejahatan. Allah mengajarkan kita untuk membalas keburukan dengan kebaikan, sebab dengan cara itulah hati yang keras dapat dilunakkan dan permusuhan dapat berubah menjadi persahabatan. Ayat ini bukan sekadar nasihat, melainkan pedoman hidup yang menuntun manusia untuk tetap berakhlak mulia dalam keadaan apa pun.
Dalam kehidupan sehari-hari, sering kali kita dihadapkan pada sikap, ucapan, atau perlakuan yang menyakitkan. Namun Islam mengajarkan bahwa kekuatan sejati bukan terletak pada balas dendam, melainkan pada kemampuan menahan diri dan memilih jalan kebaikan. Dengan membalas kejahatan dengan kebaikan, kita bukan hanya menjaga hati tetap bersih, tetapi juga menanam amal yang kelak menjadi penolong di akhirat.
Amalan-amalan sederhana namun konsisten menjadi bekal yang sangat berharga. Shalat malam, tahajud dan witir, zikir yang menenangkan jiwa, serta muhasabah diri adalah cara seorang hamba mendekatkan diri kepada Allah. Di saat kebanyakan manusia terlelap, doa yang dipanjatkan dengan penuh keikhlasan menjadi bukti kerendahan hati dan harapan yang tulus kepada Sang Pencipta.
Doa tidak hanya untuk diri sendiri, tetapi juga untuk keluarga, sahabat, dan negeri tercinta, NKRI. Bila tak mampu memberi materi kepada mereka minimal kita bisa berdoa untuk merek. Sebab kebaikan yang kita panjatkan untuk orang lain akan kembali sebagai kebaikan bagi diri kita. Semoga Allah membangunkan kita di sepertiga malam terakhir, memberi kekuatan untuk beribadah dengan khusyuk, dan menjadikan akhlak serta amal kita sebagai pakaian hidup hingga akhir perjalanan.
Aamiin ya Rabbal ‘alamin.
Semoga Malam ini Kita Allah Bangunkan Bisa Shalat Tahajjud, Witir, Zikir, Menghisab Diri dan BERDOA Dengan Khusu', Penuh Harap Kepada Allah dan Doakan, Keluarga Kita, Sahabat dan Negeri Kita Tercinta NKRI
Terima Kasih
Hamidi Labai Sati
Baca Juga:
https://www.potretkita.net/2025/12/pengurus-pjkip-padang-panjang-20252028.html


.gif)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar