Ketika Madrasah Tak Hanya Mencerdaskan, tetapi Juga Mengajarkan Anak untuk Merasa Dicintai - PotretKita Online

Breaking

Home Top Ad

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Rabu, 02 September 2026

Ketika Madrasah Tak Hanya Mencerdaskan, tetapi Juga Mengajarkan Anak untuk Merasa Dicintai



Batusangkar, Humas— Madrasah dan pesantren tidak hanya menjadi tempat menimba ilmu, tetapi juga ruang untuk membentuk karakter dan menyiapkan generasi masa depan. Pesan itu mengemuka dalam Seminar Nasional NGOPI (Ngobrol Pendidikan Islam) di Hotel Emersia Batusangkar, Selasa (1/9/2026).


Mengangkat tema “Madrasah Berbasis Pesantren Unggul dan Ramah Anak”, seminar menghadirkan Anggota Komisi VIII DPR-RI Dapil I Sumatera Barat, Dr. Hj. Lisda Hendrajoni, SE., M.M.Tr.

Dalam materinya, Lisda menegaskan bahwa madrasah dan pesantren merupakan kekuatan strategis bangsa. Pendidikan tidak cukup hanya dengan mengajar, tetapi juga harus mampu mendidik.


“Mengajar + mendidik” menjadi penekanan penting yang disampaikan. Bahkan, menciptakan suasana belajar yang ramah anak dapat dimulai dari hal sederhana, seperti latihan tersenyum ketika mengajar.


Menurutnya, pesantren adalah bagian penting dalam membangun kualitas bangsa, sementara madrasah unggul harus mampu menghadirkan ilmu, iman, kemandirian, masa depan, dan kemanusiaan.


Namun, keunggulan akademik saja tidak cukup. Anak harus dididik dengan disiplin tanpa kehilangan rasa aman dan harga dirinya.

“Unggul saja tidak cukup. Disiplin boleh tegas, tetapi tidak boleh merendahkan martabat anak.”


Pesan tersebut kemudian diperkuat oleh Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Tanah Datar, H. Hendri Pani Dias. Menurutnya, berbicara tentang madrasah dan pesantren yang ramah anak sekaligus unggul tidak cukup hanya dengan membangun sistem, tetapi juga membutuhkan perubahan paradigma dalam pendidikan.


“Sebelum ramah anak, para ustaz dan ustazah mesti mengenal mahabbah,” ungkapnya.


Menurut Hendri, mahabbah atau cinta dan kasih sayang harus menjadi basis pendidikan. Mahabbah based of education akan menghadirkan proses pembelajaran yang tidak hanya mentransfer pengetahuan, tetapi juga menyentuh hati dan membangun rasa aman pada diri peserta didik.

Ia juga menyampaikan bahwa pengembangan pesantren masa depan harus berfokus pada empat hal penting.


Pertama, mengintegrasikan sains dengan ilmu-ilmu keislaman. Guru dituntut menjadi spesialis pada bidang keilmuannya, namun tetap memiliki wawasan yang luas atau menjadi generalis pada bidang lainnya. 

Dengan demikian, peserta didik mendapatkan pendidikan yang utuh, tidak terkotak antara ilmu umum dan ilmu agama.


Kedua, pembelajaran di pesantren dan madrasah mesti menggunakan pendekatan pedagogik berbasis mahabbah. Pendidikan yang dibangun atas dasar cinta akan membuat anak merasa dihargai, didengar, aman, dan nyaman dalam proses belajar.


Ketiga, setiap pesantren perlu memiliki basis kewirausahaan sebagai bagian dari upaya mewujudkan kemandirian pesantren. Pesantren tidak hanya mencetak generasi yang berilmu dan berakhlak, tetapi juga generasi yang memiliki keterampilan, kreativitas, dan kemampuan untuk mandiri secara ekonomi.


Keempat, optimalisasi peran guru Bimbingan dan Konseling (BK). Menurutnya, keberadaan guru BK sangat penting dalam membangun ekosistem pendidikan yang sehat sekaligus mewujudkan pesantren yang benar-benar ramah anak. Guru BK diharapkan tidak hanya hadir ketika terjadi persoalan, tetapi menjadi bagian dari proses pendampingan tumbuh kembang peserta didik.


Gagasan tersebut memperlihatkan bahwa pesantren masa depan bukan sekadar pesantren yang unggul secara akademik, tetapi juga mampu melahirkan generasi yang berilmu, beriman, mandiri, berkarakter, serta tumbuh dalam lingkungan yang penuh kasih sayang.


Usai seminar, Kasi Pendidikan Madrasah (Penmad) Kemenag Tanah Datar, Bahrul Fahmi, mewakili Kakankemenag H. Hendri Pani Dias, turut mendampingi Bunda Lisda Hendrajoni melakukan kunjungan ke MTs Surau Qur’an. Kunjungan ini menjadi momentum memperkuat sinergi sekaligus melihat secara langsung geliat pendidikan madrasah.


Sebab, madrasah unggul bukan hanya tentang seberapa tinggi prestasi yang diraih, tetapi tentang bagaimana setiap anak tumbuh dengan ilmu, iman, karakter, kemandirian, dan keyakinan bahwa dirinya berharga serta bahwa di tempat ia belajar, ia dicintai.*


Baca Juga 

https://www.potretkita.net/2026/09/kamang-mudiak-wakili-agam-dalam.html


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Bottom Ad

Responsive Ads Here