19 Hotspot Terdeteksi di Sumbar, Ribuan Titik Karhutla Tetangga Picu Kekhawatiran Kabut Asap - PotretKita Online

Breaking

Home Top Ad

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Sabtu, 05 September 2026

19 Hotspot Terdeteksi di Sumbar, Ribuan Titik Karhutla Tetangga Picu Kekhawatiran Kabut Asap

 


PADANGSebanyak 19 titik panas atau hotspot terdeteksi di sejumlah wilayah Sumatera Barat (Sumbar) selama periode 1–3 September 2026 hingga pukul 14.00 WIB.


Di saat yang sama, ribuan hotspot terpantau di sejumlah provinsi tetangga. Kondisi tersebut perlu diwaspadai karena asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) berpotensi terbawa angin hingga memengaruhi kualitas udara di Sumbar.


Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Provinsi Sumbar, Kuartini Deti Putri, mengatakan 19 hotspot yang terdeteksi di Sumbar tersebar di lima kabupaten.


Rinciannya, lima titik berada di Kabupaten Dharmasraya, satu titik di Limapuluh Kota, tiga titik di Pasaman, lima titik di Pesisir Selatan, dan lima titik di Sijunjung.


“Berdasarkan hasil pemantauan, terdapat 19 titik hotspot yang tersebar di lima kabupaten, yaitu Dharmasraya, Limapuluh Kota, Pasaman, Pesisir Selatan, dan Sijunjung,” ujar Deti, Jumat (4/9/2026).


3.011 Hotspot di Provinsi Tetangga

Selain di Sumbar, titik panas dalam jumlah cukup signifikan juga terpantau di provinsi tetangga.


Berdasarkan data Sistem Monitoring Hutan dan Lahan (SIPONGI) periode 1–3 September 2026 hingga pukul 14.00 WIB, tercatat 301 hotspot di Jambi, 229 titik di Riau, 13 titik di Bengkulu, 46 titik di Sumatera Utara, dan 2.422 titik di Sumatera Selatan.


Jika dijumlahkan, terdapat 3.011 hotspot di lima provinsi tersebut.


Namun, keberadaan hotspot di provinsi tetangga tidak serta-merta berarti asap akan masuk ke Sumbar. Pengaruhnya terhadap kualitas udara sangat bergantung pada kondisi cuaca, arah dan kecepatan angin, serta dinamika atmosfer.


Meski demikian, kondisi tersebut tetap menjadi perhatian pemerintah karena asap karhutla dapat terbawa angin dan menyebar ke wilayah lain.


Kualitas Udara Padang Masih Kategori Sedang

Sementara itu, hasil pemantauan kualitas udara melalui Stasiun Air Quality Monitoring System (AQMS) Padang Pasir di kawasan Kantor Gubernur Sumbar menunjukkan parameter PM2,5 masih menjadi pencemar dominan.


Konsentrasi rata-rata PM2,5 tercatat 19,88 µg/m³, sedangkan konsentrasi maksimum mencapai 21,71 µg/m³.


“Untuk indikatif ISPU PM2,5 berada pada rentang 55,9–58,4 atau masih dalam kategori sedang,” jelas Deti.


DLH Sumbar mengimbau masyarakat untuk terus mengikuti perkembangan kualitas udara melalui kanal resmi pemerintah.


Masyarakat juga diminta meningkatkan kewaspadaan apabila terjadi perubahan kondisi udara, terutama ketika kabut asap mulai terlihat atau kualitas udara menurun.


Selain itu, masyarakat diingatkan tidak melakukan pembakaran terbuka, baik untuk sampah maupun lahan, guna mencegah munculnya sumber asap baru.


Mahyeldi Minta Koordinasi Antarprovinsi Diperkuat

Gubernur Sumbar Mahyeldi meminta koordinasi dan sinergi dengan pemerintah provinsi tetangga diperkuat dalam penanganan karhutla.


Menurutnya, langkah tersebut penting untuk mengantisipasi dampak yang lebih luas terhadap kualitas udara dan kesehatan masyarakat.


Terlebih, dalam beberapa hari terakhir terjadi peningkatan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di Kota Padang yang dilaporkan mencapai sekitar 600 kasus.


“Kita berharap koordinasi dan sinergi antarseluruh pihak terkait terus diperkuat dalam penanganan karhutla. Ini penting agar dampaknya terhadap kualitas udara dan kesehatan masyarakat dapat kita minimalisir,” ujar Mahyeldi di Padang.


Mahyeldi juga mengimbau masyarakat mengurangi aktivitas di luar ruangan apabila kondisi udara mulai dipengaruhi kabut asap.


“Untuk masyarakat, kita imbau mengurangi aktivitas di luar ruangan. Kalau memang harus beraktivitas di luar, gunakan masker sebagai perlindungan, terutama bagi anak-anak, lansia, dan kelompok masyarakat yang rentan terhadap gangguan pernapasan,” katanya.


Ia kembali mengingatkan masyarakat agar tidak membakar sampah maupun lahan. Menurutnya, pencegahan dari sumber asap juga menjadi bagian penting dalam menjaga kualitas udara Sumbar.


“Kita mengimbau masyarakat untuk tidak membakar sampah dan tidak melakukan pembakaran lahan. Mari bersama-sama menjaga lingkungan dan kualitas udara Sumatera Barat agar tetap sehat dan nyaman,” tegas Mahyeldi.*


Baca Juga 

https://www.potretkita.net/2026/09/kadis-kebudayaan-sumbar-syaiful-bahri.html


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Bottom Ad

Responsive Ads Here