JAKARTA – Indonesia Health Development Center (IHDC) menyoroti fenomena menyempitnya ruang imajinasi anak-anak Indonesia dalam memetakan masa depan. Lembaga tersebut menilai derasnya paparan informasi digital, lemahnya kemampuan berpikir kritis, serta berbagai persoalan kesehatan dasar menjadi faktor yang memengaruhi kemampuan anak dalam membangun cita-cita.
Direktur Eksekutif IHDC, Ray Wagiu Basrowi, mengatakan pembangunan anak selama ini lebih banyak diukur melalui indikator kesehatan fisik dan prestasi akademik. Padahal, menurutnya, terdapat aspek lain yang tidak kalah penting, yakni kapasitas neurokognitif yang berperan dalam kemampuan belajar, berpikir kritis, memecahkan masalah, berkreasi, hingga merancang masa depan.
"Kita perlu mengubah paradigma. Masa depan anak tidak cukup diukur dari nilai rapor, IQ, atau EQ, tetapi juga dari kemampuan mereka memetakan masa depannya," kata Ray dalam pemaparan Seri Kajian Strategis IHDC di Jakarta.
IHDC memperkenalkan konsep silent cognitive burden, yakni beban kognitif yang berkembang secara perlahan dan sering kali tidak disadari, tetapi berpotensi menurunkan kualitas sumber daya manusia di masa depan. Menurut Ray, kondisi ini tidak hanya berdampak pada prestasi akademik, tetapi juga mengurangi kemampuan anak dalam berimajinasi dan menentukan arah masa depannya.
Ia menjelaskan bahwa kemampuan tersebut dikenal sebagai Cognitive and Future Imaginative Capacity, yaitu kapasitas neurokognitif yang memungkinkan anak belajar secara efektif, berpikir kritis, menyelesaikan masalah, berinovasi, dan membangun orientasi masa depan.
Empat Faktor Kesehatan
IHDC mengidentifikasi sedikitnya empat persoalan kesehatan yang dapat menghambat perkembangan kemampuan kognitif anak, yaitu gangguan refraksi mata yang tidak terkoreksi, kekurangan zat besi, kekurangan protein, serta gangguan perilaku.
Keempat kondisi tersebut dinilai saling berkaitan dan dapat memengaruhi perkembangan otak serta proses belajar anak sejak usia dini.
Menurut Ray, di era digital anak menerima arus informasi dalam jumlah sangat besar. Namun, kemampuan untuk memilah dan mengevaluasi informasi secara kritis belum berkembang sebanding dengan derasnya informasi yang diterima.
"Anak menerima begitu banyak informasi, tetapi kemampuan melakukan penilaian kritis terhadap informasi tersebut belum berkembang. Akibatnya, mereka cenderung menyerap apa yang paling sering muncul di hadapan mereka," ujarnya.
Cita-cita Anak Semakin Seragam
IHDC menilai lemahnya kemampuan berpikir kritis ikut memengaruhi cara anak membangun cita-cita. Saat ini, banyak anak lebih memilih profesi sebagai kreator konten, YouTuber, atau influencer karena lebih sering terekspos melalui media digital.
Sebaliknya, profesi lain seperti guru, peneliti, petani, nelayan, maupun tenaga kesehatan semakin jarang menjadi bagian dari imajinasi mereka.
Menurut Ray, kondisi tersebut menunjukkan bahwa ruang imajinasi anak menjadi semakin sempit akibat dominasi informasi yang seragam.
Perlu Pendekatan Menyeluruh
IHDC menegaskan persoalan tersebut tidak dapat diselesaikan hanya dengan membatasi akses media sosial. Upaya tersebut memang dapat mengurangi faktor risiko, tetapi perlu diimbangi dengan penguatan faktor pelindung, seperti pemenuhan gizi, kesehatan mata, kesehatan mental, dan pola asuh keluarga.
Ketua Dewan Pembina IHDC sekaligus Menteri Kesehatan periode 2014–2019, Nila F. Moeloek, mengatakan gangguan kesehatan yang dialami jutaan anak dapat berdampak langsung terhadap kualitas modal manusia Indonesia.
"Yang hilang bukan hanya nilai rapor, tetapi juga potensi anak untuk berpikir, berinovasi, dan membangun masa depan," ujarnya.
IHDC memperkirakan lebih dari 8 juta anak Indonesia mengalami gangguan refraksi yang belum terkoreksi. Selain itu, lebih dari 7 juta balita diperkirakan mengalami defisiensi zat besi, sementara lebih dari 300 ribu anak usia sekolah menghadapi gangguan perilaku cemas.
Melihat kondisi tersebut, IHDC mendorong pemerintah memperluas kebijakan pembangunan anak melalui skrining gangguan penglihatan, pencegahan anemia defisiensi besi, pemenuhan kebutuhan protein, serta deteksi dini gangguan perilaku sebagai bagian dari strategi pembangunan sumber daya manusia Indonesia.*


.gif)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar