Rupiah Ditutup Anjlok ke Rp18.111 per Dolar AS Usai The Fed Pertahankan Suku Bunga - PotretKita Online

Breaking

Home Top Ad

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Kamis, 30 Juli 2026

Rupiah Ditutup Anjlok ke Rp18.111 per Dolar AS Usai The Fed Pertahankan Suku Bunga

 


JAKARTA Nilai tukar rupiah di pasar spot kembali melemah pada penutupan perdagangan Kamis (30/7/2026). Mata uang Garuda ditutup di level Rp18.111 per dolar Amerika Serikat (AS), atau terdepresiasi 38 poin (0,21 persen) dibandingkan penutupan sebelumnya.


Pelemahan tersebut lebih dalam dibandingkan posisi pembukaan perdagangan yang berada di level Rp18.063 per dolar AS, atau turun sekitar 10 poin.


Di saat yang sama, indeks dolar AS (DXY) yang mengukur kekuatan dolar terhadap sejumlah mata uang utama dunia berbalik menguat. Hingga pukul 15.00 WIB, DXY tercatat naik 0,17 persen ke level 101,052.


Penguatan dolar dipicu oleh keputusan Federal Reserve (The Fed) yang kembali mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 3,50–3,75 persen. Keputusan tersebut memperkuat ekspektasi pasar bahwa suku bunga di AS akan tetap tinggi dalam jangka waktu yang lebih lama.


Analis PT Finex Bisnis Solusi Futures, Brahmantya Himawan, mengatakan pelemahan rupiah terutama dipengaruhi oleh menguatnya dolar AS. Menurutnya, pelaku pasar bahkan mulai memperhitungkan kemungkinan kenaikan suku bunga apabila inflasi global kembali meningkat akibat lonjakan harga energi.


Selain faktor kebijakan moneter AS, memanasnya kembali konflik antara Amerika Serikat dan Iran turut menopang harga minyak dunia di level tinggi. Kondisi ini meningkatkan permintaan terhadap dolar AS sebagai mata uang utama dalam perdagangan minyak (petrodollar) sekaligus memicu kekhawatiran terhadap inflasi impor di negara-negara pengimpor energi, termasuk Indonesia.


"Kombinasi faktor tersebut menjadi tekanan utama yang menahan penguatan mata uang Garuda," ujar Brahmantya.


Ia menambahkan, pergerakan rupiah dalam jangka pendek masih akan dipengaruhi oleh perkembangan konflik AS-Iran, kondisi lalu lintas energi di Selat Hormuz, arah pergerakan indeks dolar AS, serta rilis data ekonomi Amerika Serikat, khususnya inflasi dan pasar tenaga kerja.


"Selama harga minyak masih tinggi dan pasar memperkirakan The Fed tetap bersikap hawkish, tekanan terhadap rupiah kemungkinan belum akan mereda," katanya.


Menurut Brahmantya, tantangan terbesar bagi rupiah saat ini tidak hanya berasal dari penguatan dolar AS, tetapi juga meningkatnya kebutuhan valuta asing untuk transaksi energi global. Oleh karena itu, pelaku pasar menantikan langkah Bank Indonesia melalui intervensi di pasar valuta asing dan kebijakan stabilisasi nilai tukar guna menahan pelemahan rupiah lebih lanjut.


Dengan berbagai sentimen tersebut, rupiah diperkirakan masih akan bergerak fluktuatif dalam jangka pendek seiring tingginya ketidakpastian di pasar keuangan global.*

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Bottom Ad

Responsive Ads Here