JAKARTA ---Kerja keras Muhammadiyah selama lebih dari satu abad kini mulai memperlihatkan hasil yang sangat membanggakan. Terutama di bidang pendidikan tinggi. Kampus-kampus Muhammadiyah telah tersebar di berbagai penjuru Nusantara dan perlahan menjelma menjadi kekuatan intelektual baru Indonesia.
Di tengah persaingan global dan perubahan dunia digital yang bergerak sangat cepat, Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (PTMA) menunjukkan perkembangan yang mengesankan.
Keberhasilan itu tidak lahir secara instan. Ia tumbuh dari semangat kemandirian, kejujuran, integritas, serta cita-cita besar untuk membangun peradaban melalui pendidikan. Muhammadiyah tidak sekadar membangun gedung kampus, tetapi membangun budaya ilmu, etos kerja, dan karakter yang kuat. Dari sinilah lahir kampus-kampus yang kini mampu bersaing di tingkat nasional bahkan global.
Hari ini publik dapat melihat bagaimana Universitas Muhammadiyah Surakarta, Universitas Ahmad Dahlan, Universitas Muhammadiyah Malang, dan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta menjadi bukti bahwa kampus Muhammadiyah bukan lagi sekadar pelengkap dalam dunia pendidikan nasional. Kampus-kampus tersebut telah menjelma menjadi simbol kualitas, profesionalisme, dan modernitas pendidikan Islam Indonesia.
Jika pada masa lalu publik sering memandang Bina Nusantara University sebagai simbol kampus modern dan prestisius, maka hari ini Muhammadiyah memiliki sejumlah universitas yang kualitas dan reputasinya semakin diperhitungkan. Bahkan di samping PTMA, hadir pula Universitas Islam Indonesia yang ikut memperlihatkan bahwa kampus berbasis nilai-nilai Islam mampu tampil modern, terbuka, dan kompetitif.
Keunggulan PTMA bukan hanya terletak pada pembangunan infrastruktur fisik. Muhammadiyah tampak memiliki kesadaran kolektif bahwa kekuatan utama perguruan tinggi berada pada kualitas sumber daya manusia, tata kelola yang profesional, budaya akademik yang sehat, serta kemampuan membaca masa depan. Karena itu, banyak PTMA terus bergerak memperbaiki kualitas dosen, penelitian, publikasi ilmiah, kerja sama internasional, hingga digitalisasi layanan akademik.
Tahun-tahun mendatang, PTMA diperkirakan akan mengalami “banjir kampus unggul”. Saat ini sudah ada puluhan PTMA yang berhasil meraih predikat akreditasi unggul, sementara banyak kampus lain sedang bergerak menuju arah yang sama. Ini menunjukkan bahwa Muhammadiyah sedang memasuki era baru pendidikan tinggi: dari sekadar memperbanyak kampus menuju membangun kampus berkualitas dunia.
Mencapai akreditasi unggul bukan pekerjaan mudah. Dibutuhkan kerja keras, fokus, disiplin, konsistensi, dan manajemen yang profesional. Tidak ada jalan pintas untuk menjadi kampus besar. Sebab kampus unggul bukan hanya soal bangunan megah, tetapi soal tradisi ilmu, budaya mutu, dan kemampuan melahirkan generasi yang mampu menjawab tantangan zaman.
Bagi Muhammadiyah, kampus bukan sekadar tempat mencari ijazah. Kampus adalah pusat peradaban. Dari ruang-ruang kuliah itulah lahir gagasan, inovasi, penelitian, dan manusia-manusia terdidik yang akan menentukan arah bangsa di masa depan. Muhammadiyah memahami bahwa peradaban hanya dapat dibangun melalui pendidikan yang serius dan berjangka panjang.
Di sinilah Muhammadiyah tampil sebagai pelopor. Ketika banyak pihak masih sibuk memperdebatkan identitas dan kekuasaan. Muhammadiyah justru bekerja diam-diam membangun sekolah, universitas, rumah sakit, dan pusat-pusat pelayanan umat. Kerja besar itu kini mulai terlihat hasilnya.
Pendidikan Muhammadiyah juga tidak hanya mengejar kecerdasan intelektual. Muhammadiyah berusaha menghadirkan pendidikan yang melahirkan manusia cerdas sekaligus berakhlak mulia. Inilah ciri khas utama pendidikan Muhammadiyah. Ilmu tidak dipisahkan dari moralitas. Kemajuan tidak dilepaskan dari nilai-nilai keislaman dan kemanusiaan.
Karena itu, lulusan PTMA diharapkan bukan hanya menjadi manusia sukses secara pribadi, tetapi juga menjadi manusia yang membawa manfaat bagi masyarakat, bangsa, dan kemanusiaan. Sebab sebesar apa pun kemajuan ilmu pengetahuan, tanpa akhlak mulia, peradaban dapat kehilangan arah.
Muhammadiyah tampaknya memahami satu hal penting: membangun bangsa tidak cukup dengan pidato dan slogan. Bangsa besar lahir dari pendidikan yang kuat, kampus yang unggul, dan manusia-manusia yang berintegritas. Muhammadiyah sedang berjalan ke arah itu.
Waktunya masyarakat untuk menjadikan PTMA menjadi kampus alternatif bersama Muhammadiyah membangun peradaban unggul.*
Baca Juga

.gif)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar