Sabo Dam di Lereng Marapi Dibangun, Ikhtiar Mitigasi Bencana di Tanah Datar - PotretKita Online

Breaking

Home Top Ad

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Minggu, 08 Maret 2026

Sabo Dam di Lereng Marapi Dibangun, Ikhtiar Mitigasi Bencana di Tanah Datar

 



TANAH DATAR – Kabupaten Tanah Datar mencatat dua langkah penting dalam upaya pemulihan dan mitigasi bencana pada awal tahun 2026. Selain memulai pembangunan hunian tetap (Huntap) bagi warga terdampak bencana hidrometeorologi, pemerintah daerah bersama pemerintah pusat juga memulai pembangunan Sabo Dam sebagai upaya mengurangi risiko banjir lahar dingin dari lereng Gunung Marapi.


Pembangunan Sabo Dam ini dilakukan bersama Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Dodi Hanggodo, anggota DPR RI Andre Rosiade, dan Zigo Rolanda, serta didukung Pemerintah Kabupaten Tanah Datar.


Proyek ini menjadi yang pertama di Sumatera Barat yang secara khusus dirancang untuk meminimalkan dampak banjir lahar dingin dari aktivitas vulkanik Gunung Marapi. Sementara itu, pembangunan hunian tetap menjadi solusi jangka panjang bagi masyarakat yang kehilangan rumah akibat bencana hidrometeorologi yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir.


Kolaborasi Pemerintah Pusat dan Daerah

Berbagai upaya kolaborasi yang dibangun Pemerintah Kabupaten Tanah Datar bersama pemerintah pusat mulai menunjukkan hasil. Dukungan datang dari kementerian, BNPB, anggota DPR RI, serta Pemerintah Provinsi Sumatera Barat.


Bupati Tanah Datar Eka Putra sebelumnya harus menempuh proses panjang untuk meyakinkan pemerintah pusat agar memberikan dukungan anggaran bagi pemulihan pascabencana.


Kini, setelah serangkaian bencana yang terjadi sejak Mei 2024, berbagai program pemulihan mulai dijalankan secara terintegrasi. Dana dari APBN mulai mengalir untuk memperbaiki infrastruktur yang rusak serta membangun sistem pengaman yang dapat meminimalkan dampak bencana di masa depan.


Fungsi Sabo Dam

Secara teknis, Sabo Dam bukan sekadar bendungan biasa. Infrastruktur ini merupakan sistem pengendali aliran sedimen dan material vulkanik yang dirancang khusus untuk wilayah rawan banjir lahar.


Struktur Sabo Dam dibangun menggunakan beton bertulang berkekuatan tinggi dengan fondasi yang mampu menahan tekanan material berupa batu, pasir, dan lumpur dari kawasan hulu.

Beberapa manfaat utama pembangunan Sabo Dam antara lain:

  • Menahan dan menyaring material vulkanik seperti batu besar, pasir, dan lumpur sebelum mencapai permukiman warga.

  • Memperlambat kecepatan aliran lahar dingin sehingga daya rusaknya berkurang.

  • Mengurangi pendangkalan sungai akibat penumpukan sedimen.

  • Melindungi infrastruktur penting seperti jembatan, jalan nasional, jaringan irigasi, dan kawasan ekonomi di sepanjang aliran sungai.


Dengan fungsi tersebut, Sabo Dam diharapkan menjadi benteng awal untuk meredam potensi bencana sebelum mencapai kawasan permukiman masyarakat.


Pembangunan Hunian Tetap

Selain pembangunan Sabo Dam, Tanah Datar juga menjadi daerah pertama di Sumatera Barat yang memasuki tahap pembangunan hunian tetap bagi warga korban bencana hidrometeorologi.


Peletakan batu pertama pembangunan Huntap dilakukan oleh Kepala BP BUMN Dony Oskaria. Langkah ini menandai bahwa proses pemulihan telah bergerak dari fase tanggap darurat menuju fase rehabilitasi dan rekonstruksi.


Tantangan terbesar dalam pembangunan hunian tetap adalah penyediaan lahan yang aman bagi relokasi warga terdampak.


Dari sejumlah daerah terdampak di Sumatera Barat seperti Padang, Kabupaten Padang Pariaman, Kabupaten Agam, dan Tanah Datar, baru Tanah Datar yang berhasil memasuki tahap pembangunan hunian tetap. Daerah lainnya masih fokus pada penyediaan hunian sementara bagi warga terdampak.


Rentetan Bencana di Lereng Marapi

Wilayah Tanah Datar dan Agam mengalami serangkaian bencana sejak erupsi Gunung Marapi pada Desember 2023. Erupsi tersebut menewaskan 23 pendaki yang berada di kawasan gunung.


Beberapa bulan setelahnya, banjir lahar dingin mulai terjadi dan merusak sejumlah infrastruktur, termasuk jembatan dan lahan pertanian di berbagai nagari.


Pada Mei 2024, banjir lahar dingin kembali melanda dengan dampak yang lebih luas. Material vulkanik dari lereng Marapi merusak permukiman warga serta menimbun lahan pertanian.


Bencana juga sempat memutus jalur vital Lembah Anai, yang merupakan salah satu jalur utama penghubung wilayah Sumatera Barat.


Akibatnya, mobilitas masyarakat dan distribusi barang sempat terganggu hingga berbulan-bulan, sehingga berdampak pada aktivitas ekonomi daerah.


Upaya Mitigasi ke Depan

Rentetan bencana yang terjadi dalam dua tahun terakhir menjadi pelajaran penting bagi pemerintah daerah dan masyarakat untuk memperkuat sistem mitigasi bencana.


Pembangunan Sabo Dam di lereng Marapi diharapkan menjadi langkah awal untuk mengurangi risiko bencana di masa depan sekaligus melindungi masyarakat yang tinggal di kawasan sekitar aliran sungai dari ancaman banjir lahar dingin.


Selain itu, pembangunan infrastruktur yang lebih tangguh terhadap bencana serta berorientasi pada kelestarian lingkungan menjadi tantangan penting bagi pemerintah daerah di tengah keterbatasan anggaran pembangunan.*

Baca Juga

https://www.potretkita.net/2026/03/pro-dan-kontra-membawa-handphonehp-ke.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Bottom Ad

Responsive Ads Here