Roman Siti Nurbaya - PotretKita Online

Breaking

Home Top Ad

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Rabu, 11 Februari 2026

Roman Siti Nurbaya


JAKARTA -Siti Nurbaya (1991) salah satu Roman tentang Kasih Tak Sampai di Bawah Bayang-Bayang Datuk Maringgih, Cinta, Harta, dan Air Mata di Tanah Minang


Bayangkan Indonesia di tahun 1991.

Belum ada media sosial, belum ada streaming. Televisi—khususnya TVRI—menjadi pusat hiburan keluarga. Setiap pekan, jutaan pasang mata terpaku pada satu kisah yang sama: Romantisme kisah Siti Nurbaya.


Diangkat dari roman klasik karya Putra Minang Marah Roesli, sinetron ini bukan sekadar drama percintaan. Ia adalah potret getir tentang cinta yang dikorbankan, tentang perempuan yang terhimpit adat, dan tentang kekuasaan harta yang mematikan kebebasan.


Novia Kolopaking salah satu artis muda saat itu tampil memukau sebagai Siti Nurbaya—gadis Minang lembut yang harus mengubur cintanya kepada Samsulbahri (Gusti Randa). Demi menyelamatkan ayahnya dari lilitan utang, Siti Nurbaya dipaksa menerima takdir pahit: menikah dengan pria yang tidak dicintainya.


Di titik inilah muncul sosok antagonis paling legendaris dalam sejarah sinetron Indonesia: Datuk Maringgih, diperankan secara ikonik oleh HIM Damsyik. Tatapan dingin, senyum sinis, dan sikap rakusnya menjelma simbol penindasan. Datuk Maringgih bukan sekadar tokoh jahat—ia adalah personifikasi kekuasaan adat dan uang yang menindas nurani di tanah Minang Kabau.


Disutradarai oleh Dedi Setiadi, dengan latar Studio Alam Depok, sinetron ini berhasil menghidupkan suasana Padang awal abad ke-20 dengan kuat dan autentik. Musik latar yang pilu, dialog yang lirih, serta tragedi “kasih tak sampai” menjadikan Siti Nurbaya lebih dari sekadar tontonan—ia adalah luka kolektif generasi 90-an.


Puluhan tahun berlalu, namun kisah ini tetap hidup. Bahkan kini, melalui restorasi AI, Siti Nurbaya kembali menyapa generasi baru—membuktikan bahwa tragedi cinta, utang, dan pengorbanan tidak pernah lekang oleh waktu.


Poin Utama Sinetron Siti Nurbaya (1991):


Pemeran Utama:

Novia Kolopaking (Siti Nurbaya)

Gusti Randa (Samsulbahri)

HIM Damsyik (Datuk Maringgih)


Sutradara: Dedi Setiadi

Stasiun TV: TVRI

Tahun Tayang: 1991–1992

Lokasi Syuting: Studio Alam Depok, Jawa Barat


Inilah Ringksannya:

Siti Nurbaya itu sebenarnya cuma pengin hidup tenang dan jatuh cinta dengan cara yang sederhana—bareng Samsul Bahri, cowok yang dari dulu bikin hatinya aman. Mereka sering curi-curi waktu buat ngobrol soal mimpi, masa depan, dan hal-hal kecil yang bikin senyum muncul tanpa sadar. Tapi namanya juga hidup, besti, cinta mereka ketabrak realita pahit: utang ayah Siti yang menumpuk dan adat yang kejam. Datanglah Datuk Maringgih, tajir tapi dingin, yang ngelamar Siti bukan pakai perasaan, tapi pakai kuasa. Siti tahu ini salah, tapi demi ayahnya, dia nekat mengorbankan hatinya sendiri.


Setelah menikah, hidup Siti kayak rumah tanpa jendela—mewah tapi pengap. Datuk Maringgih posesif, cemburuan, dan pelit kasih sayang, sementara Siti makin hari makin layu. Di sisi lain, Samsul Bahri pergi dengan hati hancur, tapi cinta pertamanya itu nggak pernah benar-benar pergi dari pikirannya. Ironisnya, ketika mereka akhirnya berani melawan nasib dan memperjuangkan cinta, semuanya sudah terlambat. Cerita Siti Nurbaya bukan cuma soal cinta yang gagal, tapi juga jeritan perempuan yang terjebak adat dan kekuasaan—sedih, nyesek, tapi real banget, besti. KSU*

Baca Juga

https://www.potretkita.net/2026/02/ipb-university-resmi-ubah-nama-fakultas.html


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Bottom Ad

Responsive Ads Here