Menanggapi hal tersebut, pakar falak muda Muhammadiyah, Najmuddin Saifullah, menegaskan bahwa Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) yang digunakan Muhammadiyah adalah ijtihad terbaik yang mengintegrasikan dalil agama dengan sains modern.
Tiga Pilar Utama KHGT
Dalam penjelasannya di Lensamu Podcast (01/02), Najmuddin memaparkan bahwa KHGT berdiri di atas tiga landasan kuat:
Landasan Syar’i: Merujuk pada QS At-Taubah: 36 mengenai kepastian waktu ibadah dan hadis Nabi tentang keserempakan umat Islam dalam berpuasa dan berlebaran secara global (Ittihad al-Mathali’).
Landasan Fikih: Menghapus batasan wilayah negara dan menganggap bumi sebagai satu kesatuan tempat rukyat (global).
Landasan Sains: Menggunakan perhitungan astronomi presisi terkait konjungsi (ijtima), tinggi hilal, dan elongasi berdasarkan prinsip Al-Qur'an bahwa matahari dan bulan beredar menurut perhitungan (bi husban).
Mengapa Berbeda dengan Turki?
Najmuddin menjelaskan bahwa perbedaan dengan Turki bukan karena ketidakkonsistenan Muhammadiyah, melainkan adanya perbedaan penafsiran teknis terhadap Parameter Kalender Global Kedua (PKG2).
Titik krusial perbedaan terletak pada Semenanjung Alaska di Benua Amerika:
Muhammadiyah: Memasukkan Alaska sebagai bagian sah dari Benua Amerika. Di wilayah ini, kriteria tinggi hilal 5 derajat dan elongasi 8 derajat sudah terpenuhi pada 17 Februari. Maka, 18 Februari ditetapkan sebagai 1 Ramadan.
Turki: Tidak memasukkan wilayah kecil tersebut karena pertimbangan administratif dan jumlah penduduk yang minim.
"Lembaga fikih Amerika Utara (FCNA) justru sejalan dengan Muhammadiyah dan juga menetapkan 1 Ramadan pada 18 Februari 2026," tambah Najmuddin.
Menjawab Isu Konsistensi
Terkait kritik mengenai hilal yang masih di bawah ufuk di Indonesia pada waktu tersebut, Najmuddin menjelaskan konsep "Transfer Parameter". Karena KHGT bersifat global, jika satu wilayah di dunia sudah memenuhi kriteria, maka hukumnya berlaku untuk seluruh dunia.
Muhammadiyah juga menemukan adanya ketidakteraturan metode pada pihak Turki yang terkadang berganti antara metode geosentris dan toposentris. Temuan ini telah dikomunikasikan secara langsung sebagai bagian dari proses evaluasi sistem KHGT yang terus disempurnakan.
Imbauan kepada Umat
Penetapan 1 Ramadan 1447 H pada 18 Februari 2026 (dengan salat Tarawih pertama pada malam 17 Februari) merupakan hasil ijtihad kolektif yang matang. Najmuddin mengajak warga Muhammadiyah untuk menjalankan ibadah dengan penuh keyakinan tanpa perlu menyalahkan pihak yang memiliki pandangan berbeda. sc web Muhammadiyah*
Baca Juga

.gif)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar