Pacu Bugih, Tradisi Minangkabau yang Masih Bertahan Sampai Saat Ini di Batu Sangkar - PotretKita Online

Breaking

Home Top Ad

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Minggu, 08 Februari 2026

Pacu Bugih, Tradisi Minangkabau yang Masih Bertahan Sampai Saat Ini di Batu Sangkar



BUKIK GOMBAK, BATUSANGKAR - Bagi masyarakat pecinta olahraga Pacu Kuda yang telah sampai di gelanggang akan disuguhi Pacu Bugih.


Meskipun terkesan kurang mendapat perhatian dan atensi dari penonton dan menjadi perlombaan pembuka bagi event pacu kuda, sebenarnya Pacu Bugih telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari event itu dan memiliki makna tersendiri.


Berbeda dengan Pacu Kuda, Pacu Bugih memiliki kriteria tersendiri yang bisa dikatakan unik dan khas. Yang menjadi penilaian bukan sekedar siapa tercepat yang mencapai garis finish, namun cara kuda itu berlari, bahkan berpacu sesama bugih bisa mengurangi nilai.


Zaman dahulu khususnya di Minangkabau, Pacu Bugih sudah menjadi hiburan bagi bangsawan dan raja-raja, bahkan menjadi salah satu sarana untuk mencari menantu bagi penguasa lokal. Dan seiring waktu Pacu Bugih sudah menjadi bagian event pacu kuda di Sumatera Barat.


Dalam Pacu Bugih saat ini, seperti disampaikan sebelumnya, yang menarik adalah sistem penilaiannya, dimana pemenangnya dinilai berdasarkan cara kuda berlari. Kuda yang menunjukkan kelincahan, kecepatan, dan kestabilan dalam berlari akan mendapatkan nilai lebih tinggi.


Para juri juga memperhatikan teknik berkuda yang digunakan oleh para joki, serta bagaimana kuda tersebut merespon perintah joki selama perlombaan.


Di gelanggang Dang Tuanku Bukit Gombak, yang digelar 8-9 Februari 2026, Pacu Bugih digelar sebagai pembuka alek atau kegiatan sebanyak 4 race dihari pertama dan 4 race di hari kedua dengan hadiah berkisar sampai 6 Juta Rupiah.


Pacu Bugih adalah salah satu kekayaan budaya Minangkabau yang unik dan menarik. Dengan sistem penilaian yang khas dan nilai-nilai tradisi yang melekat, Pacu Bugih bukan hanya sekadar perlombaan kuda, tetapi juga simbol kebanggaan dan identitas masyarakat Minangkabau.



Melalui pelestarian dan promosi yang tepat, Pacu Bugih dapat terus menjadi bagian penting dari warisan budaya Indonesia yang patut dibanggakan, dan menjadi daya tarik bagi wisatawan yang langsung menyaksikan event Pacu Kuda, khususnya di Gelanggang Dang Tuanku, Bukit Gombak, Tanah Datar. (prokopim-tim)*



Sejarah Pacu Bugih di Batu Sangkar

Pacu Bugih merupakan tradisi lama masyarakat Minangkabau yang berasal dari kebiasaan bertani, khususnya dalam mengolah sawah. Tradisi ini diperkirakan sudah ada sejak ratusan tahun lalu, ketika kerbau menjadi alat utama dalam membajak sawah. Setelah musim panen selesai, para petani biasanya menguji kekuatan dan ketangkasan kerbau mereka dengan cara dipacu di sawah berlumpur. Kegiatan tersebut lambat laun berkembang menjadi perlombaan yang dikenal dengan nama Pacu Bugih.


Di daerah Batu Sangkar, Pacu Bugih awalnya dilakukan secara sederhana dan bersifat spontan antarpetani. Selain sebagai hiburan, pacuan ini juga menjadi ajang silaturahmi dan kebanggaan bagi pemilik kerbau. Kerbau yang kuat dan lincah dianggap memiliki nilai lebih dan prestise tersendiri di tengah masyarakat.


Seiring berjalannya waktu, Pacu Bugih tidak hanya menjadi kegiatan pascapanen, tetapi juga bagian dari acara adat dan perayaan tertentu. Pemerintah daerah dan masyarakat setempat kemudian turut berperan dalam melestarikan tradisi ini dengan mengemasnya sebagai atraksi budaya dan pariwisata. Hingga kini, Pacu Bugih tetap dilaksanakan di Batu Sangkar sebagai simbol semangat kebersamaan, kerja keras petani, serta warisan budaya Minangkabau yang patut dijaga.


Pacu Bugih, Tradisi Minangkabau yang Masih Bertahan Sampai Saat Ini di Batu Sangkar

Orientasi
Pacu Bugih merupakan salah satu tradisi khas masyarakat Minangkabau yang masih bertahan hingga saat ini, khususnya di daerah Batu Sangkar, Kabupaten Tanah Datar, Sumatra Barat. Tradisi ini biasanya dilaksanakan setelah musim panen sebagai bentuk hiburan rakyat sekaligus ungkapan rasa syukur kepada Tuhan atas hasil pertanian yang melimpah. Pacu Bugih telah diwariskan secara turun-temurun dan menjadi bagian penting dari kehidupan sosial masyarakat setempat.

Rangkaian Peristiwa
Pacu Bugih adalah perlombaan pacuan kerbau yang dilakukan di sawah berlumpur. Dua ekor kerbau dipasangkan dan dikendalikan oleh seorang joki yang berdiri di belakang sambil memegang alat pengendali. Perlombaan ini menarik perhatian banyak warga karena memerlukan kekuatan, keterampilan, dan keberanian dari joki maupun kerbau yang dilombakan. Sebelum perlombaan dimulai, biasanya diadakan persiapan bersama, seperti membersihkan arena dan menghias kerbau. Pada hari pelaksanaan, masyarakat berkumpul untuk menyaksikan pacuan sambil menikmati suasana kebersamaan dan hiburan tradisional.

Reorientasi
Hingga kini, Pacu Bugih tetap dilestarikan oleh masyarakat Batu Sangkar sebagai warisan budaya Minangkabau. Tradisi ini tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga mempererat hubungan sosial dan menumbuhkan rasa cinta terhadap budaya daerah. Dengan terus dilaksanakan, Pacu Bugih menjadi bukti bahwa nilai-nilai tradisional masih hidup dan relevan di tengah perkembangan zaman. Teks Rekon*

Baca Juga

https://www.potretkita.net/2026/02/mengapa-suara-tertentu-memicu-merinding.html


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Bottom Ad

Responsive Ads Here