Sejarah Pacu Bugih di Batu Sangkar
Pacu Bugih merupakan tradisi lama masyarakat Minangkabau yang berasal dari kebiasaan bertani, khususnya dalam mengolah sawah. Tradisi ini diperkirakan sudah ada sejak ratusan tahun lalu, ketika kerbau menjadi alat utama dalam membajak sawah. Setelah musim panen selesai, para petani biasanya menguji kekuatan dan ketangkasan kerbau mereka dengan cara dipacu di sawah berlumpur. Kegiatan tersebut lambat laun berkembang menjadi perlombaan yang dikenal dengan nama Pacu Bugih.
Di daerah Batu Sangkar, Pacu Bugih awalnya dilakukan secara sederhana dan bersifat spontan antarpetani. Selain sebagai hiburan, pacuan ini juga menjadi ajang silaturahmi dan kebanggaan bagi pemilik kerbau. Kerbau yang kuat dan lincah dianggap memiliki nilai lebih dan prestise tersendiri di tengah masyarakat.
Seiring berjalannya waktu, Pacu Bugih tidak hanya menjadi kegiatan pascapanen, tetapi juga bagian dari acara adat dan perayaan tertentu. Pemerintah daerah dan masyarakat setempat kemudian turut berperan dalam melestarikan tradisi ini dengan mengemasnya sebagai atraksi budaya dan pariwisata. Hingga kini, Pacu Bugih tetap dilaksanakan di Batu Sangkar sebagai simbol semangat kebersamaan, kerja keras petani, serta warisan budaya Minangkabau yang patut dijaga.
Pacu Bugih, Tradisi Minangkabau yang Masih Bertahan Sampai Saat Ini di Batu Sangkar
Orientasi
Pacu Bugih merupakan salah satu tradisi khas masyarakat Minangkabau yang masih bertahan hingga saat ini, khususnya di daerah Batu Sangkar, Kabupaten Tanah Datar, Sumatra Barat. Tradisi ini biasanya dilaksanakan setelah musim panen sebagai bentuk hiburan rakyat sekaligus ungkapan rasa syukur kepada Tuhan atas hasil pertanian yang melimpah. Pacu Bugih telah diwariskan secara turun-temurun dan menjadi bagian penting dari kehidupan sosial masyarakat setempat.
Rangkaian Peristiwa
Pacu Bugih adalah perlombaan pacuan kerbau yang dilakukan di sawah berlumpur. Dua ekor kerbau dipasangkan dan dikendalikan oleh seorang joki yang berdiri di belakang sambil memegang alat pengendali. Perlombaan ini menarik perhatian banyak warga karena memerlukan kekuatan, keterampilan, dan keberanian dari joki maupun kerbau yang dilombakan. Sebelum perlombaan dimulai, biasanya diadakan persiapan bersama, seperti membersihkan arena dan menghias kerbau. Pada hari pelaksanaan, masyarakat berkumpul untuk menyaksikan pacuan sambil menikmati suasana kebersamaan dan hiburan tradisional.
Reorientasi
Hingga kini, Pacu Bugih tetap dilestarikan oleh masyarakat Batu Sangkar sebagai warisan budaya Minangkabau. Tradisi ini tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga mempererat hubungan sosial dan menumbuhkan rasa cinta terhadap budaya daerah. Dengan terus dilaksanakan, Pacu Bugih menjadi bukti bahwa nilai-nilai tradisional masih hidup dan relevan di tengah perkembangan zaman. Teks Rekon*
Baca Juga
https://www.potretkita.net/2026/02/mengapa-suara-tertentu-memicu-merinding.html

.gif)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar