![]() |
SEMARANG — Kenyamanan jamaah kini menjadi prioritas utama melalui penerapan standar pelayanan masjid yang baru di Masjid Raya Candi Lama Semarang. Buktinya, pihak takmir baru saja mengukuhkan 22 relawan tangguh untuk memastikan setiap layanan berjalan prima.
Langkah ini bertujuan agar setiap pengunjung merasakan kenyamanan layaknya menggunakan fasilitas profesional. Alhasil, prosesi pelantikan yang khidmat tersebut resmi menjadi tonggak awal perubahan gaya manajemen masjid. Kini, barisan pengabdi ini bekerja secara terstruktur demi menjamin kepuasan jamaah saat beribadah.
Strategi Empat Pilar: Rahasia Kenyamanan Jamaah
Selanjutnya, manajemen masjid menerapkan pembagian tugas yang sangat spesifik ke dalam empat pilar utama. Pilar pertama fokus pada pelayanan umum untuk menjaga teknis operasional fasilitas agar selalu bersih dan siap pakai.
Selain itu, pilar kedua bergerak di bidang keamanan guna memastikan kendaraan jamaah aman dan tertata rapi. Dampaknya, jamaah bisa melaksanakan shalat dengan lebih tenang tanpa rasa khawatir.
Tak hanya urusan fisik, masjid juga meningkatkan standar empati melalui pilar ketiga di bidang layanan Husnul Khatimah. Ternyata, tim ini siap memberikan bantuan cepat terkait pengurusan jenazah dan pendampingan bagi keluarga yang berduka.
Sementara itu, pilar keempat mengelola sektor konsumsi untuk program berbagi rutin kepada masyarakat.
Mengenai standar baru ini, Ketua Takmir Masjid Raya Candi Lama, Ustadz Drs. HM. Saidun, M.Ag., memberikan penekanan serius saat pengarahan.
“Dedikasi para relawan adalah kunci keberhasilan masjid dalam menjalankan fungsi sosialnya secara profesional,” tegas Drs. HM. Saidun, M.Ag. saat memberikan instruksi kepada barisan relawan.
Misi Besar: Masjid Makmur, Jamaah Terayomi
Menariknya, pengurus masjid tidak melihat posisi relawan hanya sebagai tenaga bantuan biasa. Sebab, para pejuang ini merupakan penentu berhasil atau tidaknya masjid dalam memakmurkan umat sekitarnya.
Ternyata, strategi ini menuntut setiap relawan untuk bersikap responsif terhadap segala keluhan maupun kebutuhan jamaah di lapangan. Sosok inspiratif dari jajaran takmir ini kembali memberikan suntikan semangat bagi pasukannya.
“Relawan adalah orang-orang yang tangguh. Mereka siap memakmurkan masjid sehingga masjid bisa memakmurkan jamaah,” pungkas narasumber tersebut dengan nada penuh optimisme.
Maka dari itu, kehadiran 22 wajah baru ini diharapkan mampu mengubah cara pandang masyarakat terhadap pelayanan di rumah ibadah.
Aksi Nyata Membangun Kedekatan dengan Umat
Dampaknya, suasana di Masjid Raya Candi Lama kini terasa jauh lebih segar dan teratur.
Sejatinya, standar pelayanan yang tinggi akan membuat jamaah merasa benar-benar terayomi dan betah berlama-lama di masjid.
Sejauh ini, respons masyarakat sangat positif melihat kesigapan relawan yang mulai berjaga di setiap sudut area masjid. Akhirnya, langkah inovatif ini menjadi bukti bahwa masjid bisa dikelola dengan standar yang modern dan profesional.
Ternyata, dengan sistem yang rapi, masjid bukan hanya tempat shalat, melainkan pusat perlindungan dan solusi bagi jamaah. Mari kita dukung gerakan mulia ini agar standar kebaikan ini terus meluas ke seluruh penjuru kota.
Masjid, Relawan, dan Logika Pelayanan yang Diam-diam Berubah
Langkah Masjid Raya Candi Lama Semarang membentuk 22 relawan dengan pembagian tugas rapi dalam empat pilar tampak sebagai kabar baik: masjid bersih, aman, tertib, dan responsif. Jamaah nyaman, parkiran tertata, bahkan urusan husnul khatimah pun diurus dengan sigap. Semua terlihat ideal.
Bahasa yang digunakanpun dalam narasi ini menarik—bahkan mencolok. Standar pelayanan, kepuasan jamaah, layanan profesional, manajemen terstruktur. Ini adalah kosakata yang akrab di hotel, rumah sakit, atau pusat perbelanjaan. Ketika kosakata itu sepenuhnya masuk ke ruang masjid, kita patut memuji: masjid sedang dimakmurkan.
Tidak ada yang salah dengan keteraturan. Islam sendiri mencintai kerapian dan amanah. Ketika kenyamanan jamaah diposisikan seperti “pengguna jasa”, relawan sebagai “petugas layanan”, dan masjid sebagai “penyedia fasilitas”, ada pergeseran makna yang subtil tapi penting. Relasi spiritual berisiko direduksi menjadi relasi administratif.
Empat pilar pelayanan yang dibanggakan—operasional, keamanan, husnul khatimah, dan konsumsi—memang menjawab kebutuhan praktis umat. Tetapi hampir semuanya bergerak di ranah teknis dan sosial. Pilar pembebasan, pilar keadilan, pilar keberpihakan pada yang paling lemah. Masjid menjadi sangat sigap mengurus parkir, juga sigap menyuarakan kegelisahan umat yang terpinggirkan.
Relawan disebut sebagai “orang-orang tangguh” dan “penentu keberhasilan masjid”. Kalimat ini terdengar heroik, menyimpan beban tersembunyi. Ketika relawan dituntut profesional, responsif, dan siap siaga layaknya pekerja formal, di mana batas antara pengabdian dan eksploitasi moral. Relawan adalah aset sosial, bukan tenaga gratis yang dituntut sempurna tanpa jaminan keberlanjutan.
Lebih jauh, standar pelayanan yang tinggi berisiko menciptakan eksklusivitas baru. Masjid yang terlalu rapi, terlalu teratur, dan terlalu “sempurna” bisa tanpa sadar menjadi ruang yang canggung bagi mereka yang lusuh, bingung, atau tak paham aturan. Padahal, masjid sejak awal adalah tempat paling aman bagi yang paling rapuh—bukan ruang yang membuat orang takut salah parkir atau merasa “tidak pantas”.
Masjid kini “dikelola secara modern dan profesional” memang menggembirakan. Tetapi modernitas bukan hanya soal sistem, rompi relawan, dan pembagian shift. Modernitas sejati adalah keberanian masjid menjadi ruang kritik sosial, tempat keberpihakan pada yang terpinggirkan, dan pusat etika publik—bukan hanya pusat layanan.
Masjid Raya Candi Lama sedang berada di persimpangan penting. Ia bisa menjadi contoh masjid yang rapi namun jinak, atau masjid yang tertata sekaligus berani. Profesional, tapi tidak kehilangan jiwa. Terstruktur, tapi tetap membumi. Melayani, tanpa berubah menjadi sekadar “penyedia jasa spiritual”.
Masjid bukan hanya soal kenyamanan jamaah—melainkan keberanian memanusiakan manusia. Itu tbisa diukur dengan pelayanan sesuai standar, sebersih apa lantai, dan secepat apa respon relawan. Semarang, muhammadiyahsemarangkota.org*
Baca Juga
https://www.potretkita.net/2026/02/pengaruh-thaharah-terhadap-etika.html


.gif)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar