TANAH DATAR --- “Cabut” dalam konteks sekolah berarti siswa meninggalkan kelas atau tidak hadir saat jam pelajaran tanpa izin resmi. Fenomena ini bukan hanya soal pelanggaran disiplin, tetapi juga cerminan dari menurunnya motivasi belajar, lemahnya pengawasan sosial, serta pergeseran nilai-nilai karakter dan kedisiplinan. Menariknya, perilaku ini lebih sering dilakukan oleh siswa laki-laki dibandingkan perempuan. Mereka kerap terlihat nongkrong di luar sekolah, bermain gim, atau mengendarai motor saat jam pelajaran masih berlangsung.
Publik baru-baru ini dikejutkan oleh kasus kepala sekolah di SMAN 1 Cimarga, Banten, yang menampar siswa karena kedapatan merokok di lingkungan sekolah. Peristiwa ini viral dan menimbulkan perdebatan luas: apakah tindakan disiplin masih bisa dilakukan di sekolah tanpa dianggap kekerasan? Kasus ini membuka refleksi mendalam tentang arah pendidikan kita—apakah pendidikan masih membentuk karakter, atau sekadar menjalankan prosedur hukum tanpa ruh moral dan kedisiplinan.
Kita tentu tidak membenarkan kekerasan dalam bentuk apa pun. Namun, di sisi lain, jangan pula kita menutup mata terhadap merosotnya adab, rasa hormat, dan keteguhan karakter siswa masa kini. Guru bukan musuh; mereka adalah pembimbing yang berjuang agar generasi muda tidak terjerumus pada perilaku menyimpang. Sayangnya, sebagian masyarakat sering memaknai UU Perlindungan Anak secara keliru—bukan lagi sebagai pelindung hak anak untuk tumbuh dengan baik, melainkan sebagai alat untuk membungkam kewibawaan pendidik.
Berbeda dengan generasi sebelumnya, dahulu ketika siswa dimarahi, dihukum, atau bahkan ditampar guru, hal itu dianggap bentuk kasih sayang dan tanggung jawab moral. Nilai-nilai seperti ini perlahan memudar. Kini banyak siswa mudah tersinggung, tidak tahan kritik, dan kehilangan keteguhan moral. Di beberapa daerah seperti Sumatera Barat, bahkan perubahan kecil dalam bahasa sehari-hari mencerminkan pergeseran makna maskulinitas. Dulu kata “Ang” dalam bahasa Minangkabau berarti lelaki sejati, tegas, dan berani; sekarang justru dianggap kasar. Maka tidak heran jika banyak siswa laki-laki kini tampak rapuh dan mudah tersulut emosi ketika ditegur guru.
Fenomena itu terlihat jelas pada perilaku cabut sekolah yang kian meningkat di berbagai daerah.
Misalnya di Kota Tangerang Selatan, polisi menemukan 22 pelajar SMA yang bolos dan nongkrong di pinggir jalan saat jam belajar. Mereka dibina bersama orang tua dan pihak sekolah. Di Surabaya, sekelompok pelajar SMP dan SMA kedapatan merokok di warung dekat terminal saat jam pelajaran. Sementara di Yogyakarta, beberapa siswa SMA bolos karena “tidak suka guru yang galak.” Mereka tertangkap di taman kota dan kasusnya viral di media sosial.
Tak berhenti di situ, di Bandung, Bekasi, dan Makassar, ditemukan pula pelajar laki-laki yang cabut untuk balapan liar, bermain gim daring di warnet, bahkan terlibat tawuran setelah nongkrong di luar sekolah. Fenomena ini menunjukkan bahwa “cabut” sering menjadi pintu awal menuju perilaku berisiko seperti merokok, kekerasan, dan kenakalan remaja.
Faktor-Faktor yang Menyebabkan Siswa Laki-Laki Cabut
1. Faktor Teman Sebaya
Tekanan kelompok sangat berpengaruh. Banyak siswa tidak berani bolos sendirian, tetapi ikut-ikutan teman demi dianggap “solid” dan keren.
2. Faktor Pribadi (Internal Siswa)
Rasa bosan, tidak tertarik pada pelajaran, atau merasa tidak mampu memahami materi membuat siswa memilih keluar kelas untuk mencari pelarian.
3. Faktor Keluarga dan Pola Asuh
Anak yang kurang diawasi atau kurang diperhatikan cenderung lebih bebas. Pola asuh permisif membuat anak mudah melanggar aturan tanpa rasa bersalah.
4. Faktor Sekolah
Suasana belajar yang kaku, guru yang galak, atau sistem pembelajaran yang monoton membuat siswa kehilangan minat belajar. Sekolah seharusnya menciptakan ruang yang menyenangkan dan mendidik, bukan menekan.
5. Faktor Lingkungan Sosial dan Aktivitas Alternatif
Akses ke kendaraan, tempat nongkrong, dan kelompok remaja di luar sekolah memberi peluang besar bagi siswa untuk cabut.
6. Faktor Gender (Khusus Laki-Laki)
Anak laki-laki sering diberi kebebasan lebih besar dibanding perempuan dengan anggapan mereka bisa menjaga diri. Namun kebebasan tanpa tanggung jawab justru membuka ruang untuk melanggar aturan.
Siswa laki-laki umumnya lebih aktif, berani mengambil risiko, dan mudah terpengaruh teman sebaya. Mereka ingin menunjukkan kemandirian (“aku bisa atur diriku sendiri”) tetapi sering tanpa pengendalian diri yang matang. Kurangnya perhatian guru dan orang tua pada sisi emosional mereka memperburuk keadaan. Inilah sebabnya perilaku cabut lebih dominan pada siswa laki-laki dibandingkan perempuan.
Dampak Fenomena Cabut
Perilaku cabut membawa dampak serius:
1. Akademik: Nilai menurun, tertinggal pelajaran, dan kehilangan motivasi.
2. Disiplin dan Moral: Kebiasaan melanggar aturan bisa berkembang menjadi kenakalan remaja.
3. Sosial: Menular ke teman lain, menciptakan budaya bolos.
4. Masa Depan: Risiko putus sekolah meningkat dan peluang kerja menurun.
Fenomena ini bukan sekadar masalah kehadiran, tetapi menandakan adanya krisis motivasi, nilai, dan karakter dalam diri siswa.
Solusi untuk Mengatasi Fenomena Cabut
1. Pengawasan Sekolah yang Lebih Aktif
Terapkan absensi ketat dan cepat tindak lanjuti siswa yang sering absen dengan pembinaan atau mentoring khusus.
2. Peran Orang Tua yang Lebih Dekat
Bangun komunikasi intensif dengan anak dan sekolah. Arahkan anak ke kegiatan positif seperti olahraga, klub otomotif, atau organisasi sosial.
3. Pembelajaran yang Menarik dan Relevan
Gunakan metode aktif seperti diskusi, proyek lapangan, atau kegiatan kreatif agar siswa laki-laki lebih tertantang.
4. Komunitas Teman Sebaya yang Positif
Bentuk kelompok belajar atau organisasi yang mendorong semangat hadir dan berprestasi.
5. Kolaborasi Sekolah, Keluarga, dan Pemerintah
Pemerintah dapat membantu lewat patroli pelajar, pembinaan, dan pengawasan kendaraan siswa.
Penutup
Fenomena siswa laki-laki yang cabut dari pelajaran dan kasus di SMAN 1 Cimarga, Banten, sama-sama menunjukkan satu hal penting: menurunnya disiplin dan karakter dalam dunia pendidikan. Dunia pendidikan perlu tetap diberi ruang untuk menegakkan aturan dengan tegas namun berlandaskan kasih sayang. Orang tua dan masyarakat sebaiknya tidak langsung menghakimi guru, melainkan berkolaborasi menjaga generasi muda.
Tanpa wibawa guru, pendidikan akan kehilangan ruhnya. Tanpa rasa hormat murid kepada guru, bangsa akan kehilangan arah moralnya. Karena itu, mari bersama membangun kembali semangat belajar, tanggung jawab, dan karakter kuat agar anak laki-laki Indonesia tumbuh menjadi generasi yang tangguh, beradab, dan berdaya saing. Muhibbul, Siswa MTsN PP, Kelas 9J*
Baca Juga
https://www.potretkita.net/2026/02/kapolri-dan-ketua-komisi-iv-dpr.html

.gif)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar