![]() |
| Bupati Anas Malik Kanan |
PADANG PARIAMAN–Saya dan mungkin banyak orang gembira jika ada yang mengikuti kepribadian, sikap, dan kepemimpinan Anas Malik yang hingga hari ini masih diidolakan masyarakat Padang Pariaman, meski generasi muda – termasuk diantara kepala daerah di Sumatera Barat sekarang, ada yang tak mengenal sosok dan integritas pribadi Anas.
Serentang panjang programnya selama sepuluh tahun memimpin dan membangun Padang Pariaman mudah dibaca dan dieja alias terbuka dan kasat mata. Langkah pertama yang dilakukannya adalah menertibkan dan membersihkan kota Pariaman.
Pantai Pariaman yang sebelumnya diperlakukan sebagai tempat pembuangan dibalikkan menjadi tempat segala yang bersih. Hanya dengan beberapa kali razia, lalu, diikuti dengan penataan dan pembersihan selanjutnya mempeketat pengawasan. Akhirnya Pantai Pariaman yang sebelumnya tempat buang hajat berubah jadi objek wisata dan sejumlah rumah makan.
Langkah kedua Anas Malik adalah membangun jalan raya ke seluruh pelosok daerah. Sebagian diantaranya melalui kegiatan ABRI Masuk Desa (AMD). Karena sukses dan berhasil, Padang Pariaman pun jadi model AMD di seluruh Indonesia melalui seminar Angkatan Darat di Bukittinggi. AMD Padang Pariaman pun jadi objek studi banding bagi Kodam lain.
Di antara pembangunan pantai dan jalan-jalan desa itu Anas Malik menumbuhkan berbagai usaha rakyat. Mulai pertanian, perkebunan, peternakan sapi dan ayam hingga industri kerajinan. Empat tahun pertama, setelah pantai bersih jalan ke semua desa terbuka dan ekonomi rakyat membaik, Anas menggelar pesta rakyat, tahun 1984 pesta Tabut yang sudah lama hilang.
Semua hasil pertanian dan kerajinan dijual di pasar selama pesta itu. “ Kalau nagari lah rami, urang kampuang bisa bajual bali. Rakyat dapek pitih, sanang hati ambo,” begitu katanya kala dialog dengan saya saat itu.
Anas Malik memang tak membangun pertokoan, kantor mewah, rumah dinas mewah atau proyek berbau mercu suar. Disamping membangun ekonomi, Anas Malik membangun krakter dan sikap hidup masyarakat Padang Pariaman. Ia tak mau melihat orang duduk, apalagi main domino, di warung pagi hari. Ia tak mau melihat orang tak berpuasa di bulan Ramadhan. Ia turun mengingatkan, menegur dan bahkan memarahi warga yang bermalas-malas atau tak peduli agama.
Setelah semua basis kehidupan sosial dan ekonomi terbangun, pada priode kedua jabatannya Anas Malik mengembangkan dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat Padang Pariaman melalui perbaikan dan peningkatan sarana dan prasarana pendidikan.
Bersama Walikota Padang Sjahrul Ujud, Anas Malik menetapkan daerah perbatasan kabupaten dan kota sebagai kawasan industri.
Anas Malik memang tentara. Tapi ia tak pernah menggebuki pegawai yang terlambat. Anas Malik keras, tapi tidak kasar. Nada suaranya memang tinggi, tapi ia tak suka merendahkan martabat orang. Bisa dimengerti jika sopir dan ajudannya pun tak pernah gonta ganti sampai akhir masa jabatannya.
Satu hal yang saya catat sepanjang kepemimpinan Anas Malik adalah, ia meneruka, menanam dan memelihara tanpa pernah membebani rakyatnya. Meski ia pernah menampar orang atau mengarak warga yang berak di pantai sekeliling kota, tujuannya jelas mengubah prilaku dan membentuk krakter rakyat agar bersih, tertib dan bermartabat. Maka, meski keras dan tegas, Anas Malik tetap melekat di hati rakyat.
Catatan berikutnya adalah, sepanjang masa jabatannya ia tak mengeruk keuntungan bagi diri, keluarga dan kerabatnya. Meski membangun pasar Anas Malik tak punya sepintu toko pun. Meski membebaskan lahan Anas Malik tak punya sejengkal tanah di Padang Pariaman. Anak-anaknya pun tak menjadi pengusaha yang merebut dana APBD Padang Pariaman.
Bisa dimengerti jika keluarga, sanak saudara serta kerabat nya tak jadi gunjingan warga sebagaimana terjadi pada kebanyakan kepala daerah sekarang.
Boleh jadi memang muncul kerinduan pada sosok Anas Malik di tengah perkembangan kepemimpinan kepala daerah sekarang. Tapi jelas mustahil menggali kuburan dan menghadirkannya kembali. Yang mungkin dilakukan misalnya mengangkat seminar dan menulis buku tentang kepemimpinan Anas Malik sehingga bisa dibaca sampai di akhir masa. (Pdg. Diceritakan Fachrul Rasyid HF/3/1/26)
Baca Juga


.gif)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar