Tantangan IPSI Pessel Bukan Sekadar Melahirkan Atlet Juara, Melainkan Memastikan Pembinaan yang Adil - PotretKita Online

Breaking

Home Top Ad

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Selasa, 20 Januari 2026

Tantangan IPSI Pessel Bukan Sekadar Melahirkan Atlet Juara, Melainkan Memastikan Pembinaan yang Adil




PESISIR SELATAN Pelantikan Pengurus IPSI Pesisir Selatan di Painan Convention Center berlangsung khidmat, penuh wajah penting, dan sarat janji. Nama-nama besar hadir, sambutan disampaikan rapi, harapan digantungkan tinggi. Namun di balik gegap gempita seremonial itu, ada satu pertanyaan yang tak boleh dihindari: setelah kursi diduduki dan jabatan disematkan, sejauh mana keberanian pengurus baru memikul tanggung jawab sejarah pencak silat di Pessel?


Pesisir Selatan kerap disebut “gudang atlet silat” Sumatera Barat. Sebutan ini terdengar membanggakan, tetapi juga berbahaya jika hanya dijadikan slogan penghibur. Gudang yang tak dirawat akan lapuk, potensi yang tak dibina akan hilang. Tantangan IPSI Pessel hari ini bukan sekadar melahirkan atlet juara, melainkan memastikan pembinaan yang adil, terstruktur, dan bebas dari ego perguruan maupun kepentingan non-teknis. Jika konflik laten antarperguruan masih dibiarkan, maka prestasi hanyalah mimpi yang ditunda-tunda.


Pernyataan bahwa pencak silat bukan sekadar adu fisik adalah benar—tetapi kebenaran itu akan kosong bila tidak diterjemahkan ke dalam kebijakan nyata. Karakter, disiplin, dan mental tangguh tidak lahir dari pidato, melainkan dari sistem latihan yang konsisten, pelatih yang sejahtera, dan atlet yang merasa dihargai. IPSI Pessel diuji bukan di panggung pelantikan, melainkan di gelanggang latihan kampung-kampung, di sekolah-sekolah, dan di nasib atlet muda yang sering menangis diam-diam karena kurang perhatian.


Dukungan pemerintah daerah yang disampaikan Wakil Bupati patut diapresiasi, namun dukungan sejati bukan hanya hadir di mimbar. Ia harus menjelma dalam anggaran yang berpihak, fasilitas yang layak, dan keberanian melindungi silat sebagai warisan budaya dari sekadar komoditas prestasi sesaat. Melestarikan silat berarti menjaga nilai, etika, dan marwahnya—bukan hanya mengejar medali demi laporan tahunan.


Pengurus IPSI Pessel periode 2025–2029 kini memegang amanah besar: memilih menjadi pengurus yang dikenang karena foto-foto pelantikan, atau menjadi pelayan olahraga yang meninggalkan jejak prestasi dan pembinaan berkelanjutan. Kejurprov dan medali emas memang penting, tetapi jauh lebih penting adalah memastikan pencak silat tetap hidup, berakar, dan bermartabat di tanah Pesisir Selatan.


Karena pada akhirnya, silat tidak akan bertanya siapa yang melantik, siapa yang hadir, atau siapa yang berpidato. Silat hanya akan menguji satu hal: siapa yang benar-benar bekerja. TVNews*

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Bottom Ad

Responsive Ads Here