Subuh Mubarakah: Dari Ritual Pagi ke Fondasi Karakter Kota - PotretKita Online

Breaking

Home Top Ad

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Rabu, 28 Januari 2026

Subuh Mubarakah: Dari Ritual Pagi ke Fondasi Karakter Kota



Wakil Wali Kota, Allex Saputra menyampaikan apresiasi kepada pengurus Masjid Nurul Amri dan seluruh jemaah yang secara konsisten menghidupkan Salat Subuh berjemaah melalui kegiatan Subuh Mubarakah. (foto; ist)


PADANG PANJANG – Pemerintah Kota Padang Panjang terus mendorong penguatan karakter religius masyarakat melalui pelaksanaan kegiatan Subuh Mubarakah yang kembali digelar di Masjid Nurul Amri, Kelurahan Balai-Balai, Ahad (18/1/2026) lalu.


Wali Kota, Hendri Arnis yang diwakili Wakil Wali Kota, Allex Saputra menyampaikan apresiasi kepada pengurus Masjid Nurul Amri dan seluruh jemaah yang secara konsisten menghidupkan Salat Subuh berjemaah melalui kegiatan Subuh Mubarakah.


Ia mengajak masyarakat untuk menjadikan masjid sebagai pusat aktivitas keagamaan sekaligus pembinaan karakter umat.


“Subuh Mubarakah bukan sekadar kegiatan ibadah, tetapi juga sarana membangun kebiasaan baik. Dengan membiasakan salat Subuh berjemaah, kita menanamkan nilai disiplin, kejujuran, dan tanggung jawab dalam kehidupan sehari-hari,” ulasnya.


Kegiatan tersebut diisi dengan tausiyah agama oleh Ustaz Muhammad Arif Tuanku Bandaro Sati yang mengingatkan jemaah pentingnya meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta memakmurkan masjid sebagai pusat pembinaan umat.


Dalam ceramahnya, Ustaz Arif menjelaskan, salat memiliki peran penting dalam membentuk akhlak seseorang dan menjaga manusia dari perbuatan tercela.


“Salat bukan hanya kewajiban, tetapi juga sarana membersihkan hati dan memperbaiki perilaku. Jika salat terjaga, maka Allah akan menjauhkan manusia dari perbuatan dan sifat-sifat yang tercela,” tuturnya.


Selain pelaksanaan ibadah dan tausiyah, Masjid Nurul Amri juga menyalurkan bantuan sosial sebagai wujud kepedulian terhadap sesama. Sebanyak empat orang anak yatim menerima bantuan uang tunai masing-masing sebesar Rp3 juta, serta 39 orang duafa menerima paket sembako berisi minyak goreng, beras, dan telur.


Melalui kegiatan Subuh Mubarakah ini, Pemerintah Kota berharap terjalin sinergi yang semakin kuat antara pemerintah, ulama, pengurus masjid, dan masyarakat dalam mewujudkan Padang Panjang sebagai kota yang religius, aman, damai, dan penuh keberkahan. (ike/shindy)


Di saat banyak kota sibuk memburu citra modern dengan beton dan lampu, Padang Panjang memilih jalur yang lebih sunyi namun berdampak panjang: membangun manusia dari subuhnya. Kegiatan Subuh Mubarakah di Masjid Nurul Amri bukan sekadar agenda keagamaan rutin, melainkan pesan politik-kebudayaan yang jelas—bahwa karakter religius bukan slogan, tapi kebiasaan yang dilatih.


Apresiasi Wakil Wali Kota Allex Saputra kepada jemaah Subuh Mubarakah patut dibaca lebih dalam. Ini bukan basa-basi pejabat di mimbar masjid. Ini adalah pengakuan bahwa masjid masih relevan sebagai pusat peradaban, bukan hanya tempat ibadah seremonial. Ketika subuh dihidupkan, sesungguhnya yang sedang dibangunkan adalah disiplin, komitmen, dan tanggung jawab sosial.


Pernyataan bahwa Subuh Mubarakah menanamkan nilai kejujuran dan tanggung jawab bukan retorika kosong. Bangun di waktu paling berat, datang ke masjid tanpa paksaan, adalah latihan karakter paling jujur. Tidak bisa dipalsukan. Tidak bisa direkayasa. Inilah pendidikan karakter yang tak butuh modul mahal.


Tausiyah Ustaz Muhammad Arif Tuanku Bandaro Sati mempertegas satu hal penting: salat bukan sekadar gugur kewajiban, tapi mekanisme pengendali moral. Jika salat benar-benar dijaga, korupsi, kebohongan, dan kekerasan seharusnya malu tumbuh. Maka, kegagalan moral sering kali bukan karena kurang aturan, tapi karena ibadah yang kehilangan ruh.


Yang membuat Subuh Mubarakah naik kelas adalah keberpihakan sosialnya. Santunan anak yatim dan duafa menjadi bukti bahwa religiusitas tidak berhenti di sajadah. Masjid yang hidup adalah masjid yang peduli, yang mengalirkan keberkahan ke dapur-dapur warga, bukan hanya ke mimbar ceramah.


Di titik ini, Pemko Padang Panjang memainkan peran penting: tidak mendominasi, tidak menggurui, tapi hadir dan menguatkan. Sinergi antara pemerintah, ulama, dan masyarakat bukan jargon, melainkan praktik nyata. Inilah model pembangunan kota yang jarang disorot: sunyi, konsisten, dan berdampak jangka panjang.


Jika subuh terus dimakmurkan, jangan heran bila Padang Panjang tumbuh sebagai kota yang aman tanpa banyak teriakan moral. Karena masyarakat yang akrab dengan masjid sejak pagi, biasanya enggan merusak kota di siang hari.

Kota religius bukan yang paling sering bicara soal iman, tapi yang paling rajin membuktikannya sejak fajar. FS*

Baca Juga

https://www.potretkita.net/2026/01/9-minuman-pembersih-ginjal-yang-aman.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Bottom Ad

Responsive Ads Here