![]() |
PADANG PANJANG – Menjulang di Batipuh, Tanah Datar, Surau Lubuak Bauak bukan sekadar bangunan tua, melainkan denyut sejarah keilmuan Minangkabau yang masih bergetar hingga kini.
Dari surau inilah lahir ulama-ulama besar, tempat Buya Hamka muda menimba ilmu, serta ruang di mana kitab-kitab Arab Melayu berusia ratusan tahun menyimpan kisah kecerdasan dan spiritualitas leluhur. Penelusuran naskah kuno oleh DPK Padang Panjang membuka kembali pintu masa lalu, mengajak generasi hari ini menyelami jejak intelektual yang membentuk Sumatra Barat.
Surau Lubuak Bauak adalah bukti bahwa warisan ilmu tak pernah usang—ia hanya menunggu untuk kembali dikenali dan dihargai.
Di Batipuh, Tanah Datar, berdiri sebuah bangunan bersejarah yang menjadi saksi bisu napas panjang keilmuan Minangkabau: Surau Lubuak Bauak. Surau tua yang didirikan pada tahun 1896 dan rampung sekitar 1901 ini bukan sekadar tempat ibadah, melainkan "universitas rakyat" yang menjadi pusat pembelajaran agama, logika, dan kehidupan pada masanya.
Pada Oktober 2025, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (DPK) Kota Padang Panjang melakukan misi penelusuran naskah kuno di surau ini. Tim menemukan sejumlah kitab fikih bertulisan Arab Melayu yang diperkirakan berusia sekitar dua setengah abad. Meskipun naskah yang ditemukan merupakan bentuk cetakan awal dan bukan manuskrip asli tulis tangan, temuan ini memiliki nilai historis tinggi karena menunjukkan jejak transformasi literasi dari tradisi tulis menuju era percetakan di Nusantara.
Pada abad ke-18 hingga ke-19, surau-surau di Minangkabau berfungsi sebagai pusat intelektual di mana para murid menyalin kitab serta mendalami tafsir, fikih, tauhid, hingga tasawuf. Surau Lubuak Bauak adalah salah satu garda terdepan yang melahirkan generasi ulama yang mencerdaskan Sumatra Barat. Menurut penjaga surau, Armi Lestari, suasana surau dahulu selalu ramai setiap malam dengan aktivitas mengaji, menulis, dan berdiskusi.
Salah satu catatan sejarah paling menarik dari surau ini adalah hubungannya dengan Buya Hamka. Ulama dan sastrawan besar tersebut pernah menimba ilmu di Surau Lubuak Bauak antara tahun 1925–1928. Pengalaman spiritual dan intelektual Hamka muda di Batipuh ini diyakini menjadi sumber inspirasi besar bagi karya-karya legendarisnya, termasuk novel Tenggelamnya Kapal Van der Wijck.
Penelusuran ini merupakan bagian dari upaya DPK Padang Panjang untuk menjaga warisan keilmuan Islam Minangkabau agar tetap dikenal oleh generasi muda. Langkah ini juga sejalan dengan program nasional preservasi naskah kuno dari Perpustakaan Nasional RI. Tujuannya adalah agar anak muda dapat mengenal sejarah langsung dari sumber aslinya—naskah yang disusun oleh para ulama leluhur.
Kini, Surau Lubuak Bauak berdiri tegak sebagai pintu menuju masa lalu, mengingatkan kembali akan kisah kecerdasan, keikhlasan, dan perjuangan spiritual masyarakat Minangkabau melalui deretan huruf Arab Melayu yang tersimpan di dalamnya.
Sumber: Pasbana
Baca Juga
https://www.potretkita.net/2026/01/laboratorium-lingkungan-kebutuhan-nyata.html


.gif)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar