Masjid Raya Tanjung Jadi Pusat Syiar dan Edukasi Umat - PotretKita Online

Breaking

Home Top Ad

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Rabu, 28 Januari 2026

Masjid Raya Tanjung Jadi Pusat Syiar dan Edukasi Umat

 

TANAH DATAR – Badan Kontak Majelis Taklim (BKMT) Kabupaten Tanah Datar memperingati hari ulang tahun ke‑25 dengan rangkaian kegiatan religius dan kompetitif di Masjid Raya Tanjung, Kecamatan Sungayang, Minggu (18/1). Perayaan ini sekaligus mengukuhkan peran masjid sebagai pusat syiar Islam dan edukasi umat. 


Acara berlangsung khidmat dan meriah dengan berbagai lomba yang memadukan nilai seni, spiritualitas, dan keterampilan sosial‑keagamaan. Dua lomba utama itu adalah Lomba Qasidah Rebana dan lomba penyelenggaraan jenazah, yang diikuti puluhan peserta dari berbagai nagari di Tanah Datar. 


Dalam sambutannya, Wali Nagari Tanjung, Ridwan Amri, A.Md, menyampaikan selamat ulang tahun kepada BKMT dan mengapresiasi kepercayaan yang diberikan kepada Nagari Tanjung untuk menjadi tuan rumah kegiatan tersebut. Ia berharap kegiatan serupa terus digelar untuk memperkuat silaturahmi dan semangat keagamaan di masyarakat. 


Ketua BKMT Nagari Tanjung, Asih Permani Putri, ST menyatakan bahwa tingginya antusiasme peserta menunjukkan bahwa pembinaan majelis taklim tidak hanya berhenti pada kajian, tetapi juga praktik nyata dalam kehidupan masyarakat.


Sementara itu, Ketua BKMT Kabupaten Tanah Datar, Drs. Maswardi, M.BA, menegaskan bahwa usia 25 tahun merupakan fase kedewasaan bagi organisasi. Ia mengajak seluruh jajaran BKMT untuk terus relevan dengan dinamika zaman tanpa meninggalkan nilai dasar dakwah yang santun dan inklusif. 


Peringatan ini turut dihadiri pejabat daerah setempat, termasuk Staf Ahli Politik, Hukum dan Pemerintahan mewakili Bupati Tanah Datar, Camat Sungayang, ketua nagari, serta tokoh masyarakat dan peserta lomba dari berbagai nagari. 


Dengan perayaan ini, BKMT Tanah Datar menegaskan komitmennya menguatkan moral, ketahanan sosial, dan pembangunan karakter umat melalui kegiatan keagamaan yang hidup dan bersentuhan langsung dengan kebutuhan masyarakat. 


Peringatan ulang tahun ke-25 Badan Kontak Majelis Taklim (BKMT) Kabupaten Tanah Datar bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan refleksi mendalam atas dinamika dakwah perempuan di akar rumput. Perayaan ini, berpusat di Masjid Raya Tanjung Kecamatan Sungayang, sesungguhnya menjadi cermin dari perubahan peran masjid dan organisasi keagamaan tradisional dalam merespons tuntutan sosial-religius yang terus berkembang. 


Dalam dua dekade terakhir, fungsi majelis taklim—terutama BKMT yang beranggotakan ribuan perempuan Muslim—telah bertransformasi dari sekadar forum pengajian menjadi institusi yang menguatkan kapasitas umat secara praksis. Lomba Qasidah Rebana dan keterampilan penyelenggaraan jenazah yang digelar saat peringatan bukan hanya perlombaan budaya; ia menandai cara berpikir baru dalam dakwah: agama bukan hanya kata-kata, tetapi keterampilan sosial-keagamaan yang harus dikuasai masyarakat. 


Masjid Raya Tanjung, sebagai tempat perayaan, menjadi simbol penting dari perubahan ini. Masjid kini bukan lagi sekadar tempat shalat; ia menjadi panggung pembelajaran, kreativitas, dan pangkalan kapasitas ummat. Di situlah jamaah belajar syiar Islam melalui seni qasidah, tetapi juga kompetensi sosial yang dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari—mulai dari manajemen jenazah hingga sinergi dengan pemerintah nagari dan masyarakat luas. 


Lebih jauh, momentum 25 tahun ini menegaskan bahwa dakwah sosial-religius tidak boleh terjebak dalam sosialisasi doktrin semata. Ia harus terbuka, inklusif, dan relevan dengan tantangan modern, tanpa kehilangan akar tradisi. BKMT Tanah Datar menunjukkan bahwa perempuan, yang sering dipandang peran “pendamping,” justru menjadi penggerak utama perubahan sosial-keagamaan yang menyentuh realitas umat di nagari. 


Kehadiran perangkat pemerintah daerah dan tokoh masyarakat dalam perayaan menunjukkan pula bahwa peran masjid dan BKMT telah melampaui batas-batas religi privat. Mereka menjadi mitra strategis pembangunan moral dan karakter masyarakat—posisi yang dulunya hanya menjadi domain birokrasi formal kini harus dibagi dengan institusi keagamaan berbasis masyarakat. 


Peringatan 25 tahun ini, karenanya, bukan sekadar angka—ia adalah panggilan untuk kritik dan inovasi: bagaimana dakwah Islam di pedesaan terus relevan, tak terjebak nostalgia, dan tetap mampu menjawab kebutuhan kekinian tanpa mengorbankan tradisi nilai. Masjid bukan lagi ruang tertutup untuk ritual semata, tetapi arena pendidikan sosial, spiritual, dan pemberdayaan umat. RPSumbar*


Baca Juga

https://www.potretkita.net/2026/01/sd-islam-terpadu-it-cahaya-makkah.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Bottom Ad

Responsive Ads Here