![]() |
PADANG – Ketua DPRD Provinsi Sumatera Barat, Drs. H. Muhidi, M.M., menghadiri kegiatan Temu Ramah yang digelar bersama Kelompok Senam Wanita Limau Manis, Kecamatan Pauh, yang berlangsung pada Minggu, 4 Januari 2026 di halaman SMA Negeri 15 Padang. bentengsumbar.com
Kegiatan yang dipenuhi oleh para perempuan penggiat senam tersebut menjadi ajang silaturahmi sekaligus dorongan untuk menerapkan pola hidup sehat di lingkungan keluarga dan masyarakat. Dalam sambutannya, Muhidi menyampaikan bahwa kegiatan ini tidak hanya memberi manfaat bagi kebugaran jasmani, tetapi juga sebagai momen untuk saling bertukar informasi tentang kesehatan, pencerahan rohani, serta peluang usaha yang berguna dalam kehidupan sehari‑hari.
“Kami ke sini dalam rangka pencerahan tentang kesehatan, ceramah agama sedikit, dan informasi usaha, sehingga pertemuan ini bermanfaat bagi kita dalam keluarga dan bermasyarakat,” ujar Muhidi. bentengsumbar.com
Muhidi menegaskan dukungannya terhadap kegiatan senam yang rutin dilakukan sebagai bagian dari upaya menjaga kesehatan sekaligus mempererat kebersamaan antaranggota. Ia juga menyebut bahwa pertemuan seperti ini bisa menjadi obat alami untuk menjaga semangat dan suasana hati tetap ceria.
Selain para anggota senam yang mayoritas ibu‑ibu dari berbagai lingkungan sekitar, tampak hadir pula Rafdi, Ketua Fraksi PKS DPRD Kota Padang, yang turut memberikan dukungan terhadap kegiatan positif tersebut.
Kehadiran Ketua DPRD Sumatera Barat, Drs. H. Muhidi, M.M., dalam temu ramah Kelompok Senam Wanita Limau Manis di Kecamatan Pauh tampak sebagai aksi yang hangat dan penuh senyum. Dalam sambutannya, Muhidi menekankan pentingnya kesehatan, peran perempuan dalam keluarga, dan silaturahmi antaranggota kelompok senam. Ia menyatakan dukungan pribadi dan institusional terhadap kegiatan ini karena dianggap bermanfaat bagi kebugaran dan kebersamaan masyarakat.
Namun, jika dicermati lebih dalam, ada pertanyaan yang patut diajukan: sejauh mana kehadiran politikus tingkat tinggi dalam kegiatan lokal seperti ini benar-benar berdampak pada kualitas hidup masyarakat? Pertemuan senam yang bersifat rutin dan komunitas, meski positif, bukanlah ranah di mana seorang Ketua DPRD bisa menyalurkan pengaruh legislatif atau kebijakan secara signifikan. Kehadiran ini lebih mudah dibaca sebagai politik simbolik—menunjukkan wajah dekat dengan masyarakat tanpa menyentuh akar persoalan kesehatan, pemberdayaan perempuan, atau akses fasilitas olahraga yang lebih luas.
Selain itu, pernyataan Muhidi tentang pertemuan ini sebagai “obat bagi kita” terasa generik dan retoris. Tidak ada program konkret atau tindak lanjut yang ditawarkan, misalnya subsidi fasilitas kesehatan, pelatihan kebugaran yang sistematis, atau kampanye kesehatan berbasis komunitas yang terstruktur. Dukungan moral memang penting, tetapi jika berhenti pada simbol, pesan yang diterima publik bisa menjadi sekadar citra politik, bukan perubahan nyata.
Kehadiran tokoh politik dalam kegiatan komunitas seharusnya menjadi momentum untuk memadukan politik dengan aksi konkret, bukan hanya seremonial. Dengan strategi yang tepat, pertemuan seperti ini bisa menjadi titik awal program pemberdayaan perempuan dan kesehatan keluarga yang berkelanjutan. Tanpa itu, yang terjadi hanyalah pertemuan hangat yang cepat berlalu, sementara isu mendasar tetap menunggu penyelesaian.
Singkatnya, senyum, sambutan, dan foto bersama memang menyenangkan, tetapi masyarakat butuh lebih dari sekadar kehadiran simbolik—mereka butuh kebijakan yang nyata, implementasi yang jelas, dan dampak yang terasa. Politik dekat rakyat seharusnya bukan hanya soal hadir di tempat yang tepat, tetapi melahirkan hasil yang nyata bagi rakyat. BS*


.gif)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar