![]() |
AGAM – Berita tentang Ketua Persatuan Wredatama Republik Indonesia (PWRI) Provinsi Sumatera Barat, Drs. H. Syafrizal Ucok, MM Dt. Nan Batuah, yang turun langsung menyerahkan bantuan kepada warga terdampak banjir dan longsor di Kabupaten Agam pada awal Januari 2026 memang menunjukkan respons kemanusiaan di tengah krisis. Dalam kegiatan tersebut diserahkan empat koli pakaian baru kepada warga yang terdampak serta respons terhadap kebutuhan seragam sekolah untuk anak‑anak yang terdampak musibah ini. Bantuan ini berasal dari Pengurus Besar PWRI dan diserahkan di Lubuk Basung untuk distribusi melalui pengurus lokal PWRI Agam II.
Di balik gambar sedekat itu, pertanyaan serius diangkat tentang efektivitas dan kedalaman respons lembaga sipil terhadap krisis besar yang melanda Agam. Kabupaten ini bukan sekadar mengalami bencana kecil — data dari berbagai sumber menunjukkan bahwa bencana banjir bandang dan longsor menyebabkan kerugian miliaran rupiah, ribuan warga mengungsi, dan masih banyak yang membutuhkan bantuan serius. Hingga ribuan warga masih mengungsi di banyak kecamatan, dengan akses dan kebutuhan dasar yang belum tuntas ditangani.
Dalam konteks tersebut, langkah PWRI Sumbar tentu bernilai atas kehadiran sosok ketua yang turun langsung memberikan kepedulian nyata. Itu penting — di tengah krisis, kehadiran pemimpin organisasi bisa memberi semangat dan rasa diperhatikan untuk mereka yang terdampak. Kegiatan ini perlu diikuti dengan program yang komprehensif, baik dalam jumlah bantuan, mekanisme penyaluran, maupun koordinasi dengan otoritas lokal dan lembaga penanggulangan bencana yang lebih besar.
Kritik tajam muncul pada aspek jumlah dan cakupan bantuan itu sendiri: hanya empat koli pakaian baru — jumlah yang secara kasat mata tidak proporsional terhadap skala tragedi yang dibayangkan oleh kerugian ratusan miliar dan ribuan pengungsi. Walaupun bantuan tahap kedua direncanakan, ini mencerminkan bahwa organisasi seperti PWRI perlu memperkuat kapasitas sumber daya dan strategi penggalangan bantuan yang lebih besar jika ingin berdampak signifikan di masa depan.
Lebih jauh, bantuan semacam ini perlu ditempatkan dalam narasi besar penanganan krisis yang menyeluruh: bagaimana lembaga seperti PWRI bisa bersinergi dengan pemerintah daerah, BNPB, TNI/Polri, dan organisasi masyarakat lainnya agar bantuan tidak hanya simbolik tetapi tepat sasaran dan berkelanjutan? Kasus PWRI Sumbar seharusnya menjadi momentum untuk menata ulang peran organisasi masyarakat sipil dalam merespons bencana yang semakin sering melanda Indonesia akibat perubahan iklim.
Dalam situasi darurat seperti di Agam, yang dibutuhkan bukan hanya tangan yang memberikannya satu kali, tetapi sistem, kolaborasi, dan komitmen berkelanjutan yang memulihkan kehidupan masyarakat dari tuntas — bukan hanya tersedia untuk sekilas foto dan berita. Sikap turun langsung dari ketua organisasi adalah langkah awal yang terpuji, tetapi menjadi kurang tajam jika tidak disertai dengan strategi yang kuat, kolaboratif, dan proporsional terhadap kebutuhan nyata di lapangan.
Ketua Persatuan Wredatama Republik Indonesia (PWRI) Provinsi Sumatera Barat, Drs. H. Syafrizal Ucok, MM Dt. Nan Batuah, turun langsung menyerahkan bantuan kepada warga yang terdampak musibah banjir dan tanah longsor di Kabupaten.
Penyerahan bantuan digelar di Perumahan Mutiara, Lubuk Basung, dan diserahkan secara simbolis kepada Wakil Ketua PWRI Agam II, M. Jalil Nurdin. Bantuan yang diberikan berupa empat koli pakaian baru dengan berbagai ukuran, yang berasal dari Pengurus Besar PWRI dan dikirim ke Sumatera Barat khusus untuk membantu masyarakat yang membutuhkan.
Syafrizal Ucok mengatakan bahwa meskipun jumlah bantuan belum terlalu banyak, pihaknya berharap paket pakaian ini dapat disalurkan tepat sasaran, terutama kepada warga di wilayah yang paling parah terdampak seperti Salareh Aia dan Maninjau.
Dalam kesempatan itu, Ketua PWRI Sumbar juga meninjau langsung lokasi-lokasi terdampak banjir dan longsor bersama pengurus setempat. Ia menyampaikan rencana penyaluran bantuan tahap kedua, serta menanggapi aspirasi dari PWRI Agam terkait kebutuhan seragam sekolah dasar bagi anak‑anak korban bencana. Syafrizal meminta agar data calon penerima segera disampaikan agar bantuan dapat segera direalisasikan.
Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya solidaritas PWRI dalam membantu warga yang terdampak bencana alam di Sumatera Barat, turut meringankan beban pasca‑bencana banjir dan tanah longsor yang masih dirasakan masyarakat setempat. KS*
Baca Juga
https://www.potretkita.net/2026/01/bupati-tanah-datar-eka-putra-lantik.html


.gif)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar