Evakuasi di Puncak Bulusaraung: Tantangan Medan dan Cuaca - PotretKita Online

Breaking

Home Top Ad

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Jumat, 23 Januari 2026

Evakuasi di Puncak Bulusaraung: Tantangan Medan dan Cuaca




BULUSARAUNG, SULAWESI SELATAN — Operasi pencarian dan evakuasi korban kecelakaan pesawat ATR 42-500 rute Yogyakarta–Makassar yang jatuh di kawasan Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, terus berlangsung meski dihadang kondisi cuaca ekstrem dan medan yang sangat berat. 


Tim SAR gabungan yang terdiri dari Basarnas, TNI–Polri, pemerintah daerah, relawan termasuk Tim Rescue Dompet Dhuafa (DMC) masih bertahan di puncak gunung dengan mendirikan tenda darurat di titik lokasi puing pesawat dan korban ditemukan. Cuaca buruk berupa kabut tebal, hujan deras, serta angin kencang membuat jarak pandang sangat terbatas dan membahayakan keselamatan.


Temuan Korban dan Upaya Evakuasi

Beberapa jenazah korban telah ditemukan di jurang dan lereng pegunungan yang sangat curam.

Salah satu korban terakhir ditemukan dalam kondisi meninggal dunia oleh tim SAR gabungan. 


Proses evakuasi jenazah belum semuanya bisa diselesaikan karena cuaca yang tidak kondusif, sehingga tim memilih menunggu perbaikan kondisi sebelum melakukan pengangkatan.


Pihak berwenang telah berkoordinasi dengan Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) untuk pemeriksaan lebih lanjut terhadap bagian pesawat dan black box sebagai bagian dari investigasi penyebab kecelakaan.


Medan di Gunung Bulusaraung sangat sulit — lembah curam, tebing tinggi, dan kondisi hutan yang padat — sehingga evakuasi dengan teknik vertical rescue dan peralatan khusus menjadi pilihan utama tim SAR. Cuaca ekstrem memaksa tim untuk bertahan di lokasi, melakukan perawatan bagi personel yang mengalami luka ringan, dan menunggu saat cuaca membaik agar operasi bisa dilanjutkan dengan aman. 


Pencarian kini memasuki hari ke-empat sejak pesawat hilang kontak, dengan dukungan personel ahli mountaineering dan logistik terus ditambah guna mempercepat pencarian serta evakuasi. detikcom

Situasi terkini menunjukkan bahwa kendala alam dan cuaca tetap menjadi hambatan utama dalam upaya SAR, namun tim tetap bekerja tanpa henti demi menghormati korban dan keluarga yang menunggu kepastian.


Kecelakaan pesawat ATR 42-500 yang jatuh di kawasan Gunung Bulusaraung, Sulawesi Selatan, pada pertengahan Januari 2026 bukan hanya sebuah tragedi penerbangan. Ia juga menjadi cermin tajam tentang betapa rapuhnya kerja kemanusiaan di tengah kekuatan alam yang tak terkontrol, sekaligus mengungkap kompleksitas tanggung jawab negara dalam menangani bencana yang bermuatan teknis, etis, dan logistik. 


Sejak objek pertama ditemukan, tim SAR gabungan—yang terdiri dari Basarnas, TNI, Polri, dan relawan kemanusiaan—telah berjuang tanpa henti. Mereka tidak hanya memburu korban, tetapi juga bertempur melawan kabut tebal, hujan deras yang tak kunjung reda, dan angin kencang di lereng gunung yang curam. Kondisi ini bukan sekadar “tantangan”; ia adalah penanda bahwa operasi penyelamatan bisa berubah menjadi ujian fisik dan moral yang ekstrem. Untuk menjaga keselamatan personel, tim bertahan di puncak Bulusaraung, mendirikan tenda darurat, dan menunda evakuasi besar-besaran hingga cuaca membaik.


Kendala cuaca yang menghantam operasi SAR bukanlah sebuah kebetulan belaka. Analisis meteorologi menunjukkan kehadiran cumulonimbus tebal di sekitar wilayah kecelakaan saat pesawat mencoba mendarat, yang berpotensi berkontribusi pada kecelakaan itu sendiri. Hal ini menunjukkan bahwa faktor alam bukan sekadar hambatan dalam evakuasi, tetapi juga bagian dari konteks tragedi yang lebih luas. 


Evakuasi di medan ekstrem juga memunculkan dilema etis yang mendalam: sejauh mana keselamatan tim SAR harus dipertaruhkan demi mengevakuasi korban yang, dalam beberapa kasus, sudah tidak lagi bernyawa? Hukum kemanusiaan memberi prioritas pada keselamatan para penyelamat, tetapi di lapangan, batas itu seringkali kabur ketika rasa tanggung jawab dan solidaritas mendorong relawan untuk terus maju di tengah risiko yang sangat tinggi. Upaya tim SAR yang rela bertahan berjam-jam di puncak gunung, bahkan hingga lebih dari 30 jam dalam badai, mencerminkan kemanusiaan yang tak mudah ditakar oleh statistik atau prosedur operasional.


Selain itu, operasi ini menggambarkan ketergantungan sistem keselamatan terhadap kondisi eksternal. Indonesia, sebagai negara kepulauan dengan topografi ekstrem dan cuaca tropis yang berubah cepat, menghadapi tantangan unik dalam keselamatan penerbangan dan respons darurat. Infrastruktur cuaca, prediksi risiko, koordinasi SAR, serta kesiapan logistik diuji sekaligus dikritik dalam momentum ini. Upaya menemukan dan mengevakuasi black box pesawat—yang ditemukan di bagian ekor pada jurang sedalam 131 meter—menjadi simbol betapa kompleksnya proses pemulihan informasi teknis di tengah tekanan alam dan waktu.


Bagi publik, tragedi ini dekat sekaligus jauh. Ia dekat karena membawa dampak emosional—ada keluarga yang menunggu kabar, ada nama-nama awak dan penumpang yang tersisa dalam doa. Ia juga jauh, karena medan gunung dan cuaca ekstrem memisahkan kita dari fakta di balik kejadian itu. Namun, pertanyaan besar yang muncul tetap: apakah negara sudah cukup siap menghadapi kombinasi bencana alam dan kecelakaan teknologi? Tragedi Bulusaraung menggarisbawahi bahwa upaya kemanusiaan bukan sekadar soal kecepatan atau teknologi, tetapi juga soal kesiapan menghadapi ketidakpastian yang paling primitif—alam itu sendiri. Makasar Terkini*

Baca Juga

https://www.potretkita.net/2026/01/sumpah-keramat-hatta-saya-tidak-akan.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Bottom Ad

Responsive Ads Here